Sabtu, 22 September 2012

Apakah Manusia Itu?


(Ringkasan Pemikiran Martin Buber “What is Man?)



Bagian pertama: perkembangan pertanyaan
I.           Pertanyaan Kant.
1.
Sejak semula, manusia mengetahui dirinya adalah subjek yang paling layak untuk diselidiki oleh dirinya sendiri, karenanya, ia sering menantang rasa malu untuk melihat dirinya sebagai keseluruhan, termasuk didalamnya memandang diri manusia sebagai keutuhan karakter. Seringkali manusia menghindar membicarakan hal ini. Namun kegelisahan untuk mengetahui dirinya sendiri segera menggugah manusia untuk terus mempertanyakan dirinya sendiri.
Malebranche, yang melanjutkan penyelidikan Cartesian menulis : “ dari semua lapangan pengetahuan manusia, pengetahuan akan diri manusia sendiri adalah yang paling layak. Pengetahuan ini bukan merupakan apa yang paling membumi dan yang paling berkembang. Generalisasi manusia cenderung meniadakan keutuhannya.

2.
Pernyataan paling kuat tentang manusia datang dari Kant. Kant melukiskan pengetahuan akan mansusia sebagai pengetahuan tentang tujuan tertinggi dari pemikiran manusia. Kant meninggalkan jejaknya dalam pertanyaan: 1. Bagaimana aku tahu? 2. Apa yang seharusnya saya perbuat? 3. Apa yang dapat saya harapkan? Dan 4. Siapakah atau apakah manusia itu? Pertanyaan pertama dijawab secara metafisika. Pertanyaan kedua dijawab secara etis. Pertanyaan ketiga dijawab agama. Kemudian pertanyaan keempat dijawab oleh antropologi.
Hanya saja,  antropologi Kant tidak pernah mampu menjawab pertanyaannya tentang manusia. Konsep tentang egoisme, ketulusan dan kebohongan, harapan, kisah ajaib, mimp[i, sakit mental, dan sebagainya tidak menyediakan jawaban atas pertanyaan: siapakah manusia? Martin Heidegger menjelaskan bahwa pertanyaan Kant problematis. Karena cara kita menjawab pertanyaan siapakah manusia itu menimbulkan pertanyaan baru. Pertanyaan Kant bukan semata pertanyaan antropologi. Pertanyaan tentang siapakah manusia adalah pertanyaan tentang esensi dari eksistensi itu sendiri. Sejatinya, pertanyaan ini memunculkan suatu ontologi fundamental menggantikan tempat metafisikan antopologi.

3.
Bagi saya, adalah meragukan bahwa ada suatu disiplin ilmu yang dapat menyediakan suatu dasar pada filsafat. Tentu saja, belajar tentang bagaimana aku tahu, apa yang harus aku lakukan dan apa yang saya harapkan dapat dilakukan melalui pekerjaan filsafat. Namun bukan filsafat, juga bukan filsafat antopologi yang dapat melandasi berdirinya suatu metafisika atau pengetahuan filsafat seseorang. Suatu filsafat antropologi bahkan butuh memahami bahwa bukan semata-mata suatu species manusia yang sedang diselidiki, melanikan juga masyarakat. Bukan sekedar jiwa, melainkan tipe dan karakter.
Antropologi filsafat  tidak secara tetap mereduksi persoalan eksistensi manusia dan menegakkan ilmu filsafat, sehingga untuk berbicara tentang persoalan manusia, kita perlu megawalinya dari bawah ke atas. Pengetahuan ini berbeda dari pengetahuan manapun. Manakala subjek studi adalah manusia sebagai keseluruhan, sang peneliti tidak dapat memasukan dirinya sendiri dalam upaya mempelajari manusia. Dalam antropologi sejarah, manusia sendiri terberi untuk dirinya dalam ketepatan akal tertinggi sebagai subjek.

sumber gambar: google gambar.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar