(Ringkasan Pemikiran Martin Buber “What is Man?)
Bagian pertama: perkembangan pertanyaan
I.
Pertanyaan
Kant.
1.
Sejak semula, manusia
mengetahui dirinya adalah subjek yang paling layak untuk diselidiki oleh
dirinya sendiri, karenanya, ia sering menantang rasa malu untuk melihat dirinya
sebagai keseluruhan, termasuk didalamnya memandang diri manusia sebagai
keutuhan karakter. Seringkali manusia menghindar membicarakan hal ini. Namun
kegelisahan untuk mengetahui dirinya sendiri segera menggugah manusia untuk
terus mempertanyakan dirinya sendiri.
Malebranche, yang melanjutkan
penyelidikan Cartesian menulis : “ dari semua lapangan pengetahuan manusia,
pengetahuan akan diri manusia sendiri adalah yang paling layak. Pengetahuan ini
bukan merupakan apa yang paling membumi dan yang paling berkembang.
Generalisasi manusia cenderung meniadakan keutuhannya.
2.
Pernyataan paling kuat tentang
manusia datang dari Kant. Kant melukiskan pengetahuan akan mansusia sebagai
pengetahuan tentang tujuan tertinggi dari pemikiran manusia. Kant meninggalkan
jejaknya dalam pertanyaan: 1. Bagaimana aku tahu? 2. Apa yang seharusnya saya
perbuat? 3. Apa yang dapat saya harapkan? Dan 4. Siapakah atau apakah manusia
itu? Pertanyaan pertama dijawab secara metafisika. Pertanyaan kedua dijawab
secara etis. Pertanyaan ketiga dijawab agama. Kemudian pertanyaan keempat
dijawab oleh antropologi.
Hanya saja, antropologi Kant tidak pernah mampu menjawab
pertanyaannya tentang manusia. Konsep tentang egoisme, ketulusan dan
kebohongan, harapan, kisah ajaib, mimp[i, sakit mental, dan sebagainya tidak
menyediakan jawaban atas pertanyaan: siapakah manusia? Martin Heidegger
menjelaskan bahwa pertanyaan Kant problematis. Karena cara kita menjawab pertanyaan
siapakah manusia itu menimbulkan pertanyaan baru. Pertanyaan Kant bukan semata
pertanyaan antropologi. Pertanyaan tentang siapakah manusia adalah pertanyaan
tentang esensi dari eksistensi itu sendiri. Sejatinya, pertanyaan ini
memunculkan suatu ontologi fundamental menggantikan tempat metafisikan
antopologi.
3.
Bagi saya, adalah meragukan
bahwa ada suatu disiplin ilmu yang dapat menyediakan suatu dasar pada filsafat.
Tentu saja, belajar tentang bagaimana aku tahu, apa yang harus aku lakukan dan apa
yang saya harapkan dapat dilakukan melalui pekerjaan filsafat. Namun bukan
filsafat, juga bukan filsafat antopologi yang dapat melandasi berdirinya suatu
metafisika atau pengetahuan filsafat seseorang. Suatu filsafat antropologi
bahkan butuh memahami bahwa bukan semata-mata suatu species manusia yang sedang
diselidiki, melanikan juga masyarakat. Bukan sekedar jiwa, melainkan tipe dan
karakter.
Antropologi filsafat tidak secara tetap mereduksi persoalan
eksistensi manusia dan menegakkan ilmu filsafat, sehingga untuk berbicara
tentang persoalan manusia, kita perlu megawalinya dari bawah ke atas.
Pengetahuan ini berbeda dari pengetahuan manapun. Manakala subjek studi adalah
manusia sebagai keseluruhan, sang peneliti tidak dapat memasukan dirinya
sendiri dalam upaya mempelajari manusia. Dalam antropologi sejarah, manusia
sendiri terberi untuk dirinya dalam ketepatan akal tertinggi sebagai subjek.
sumber gambar: google gambar.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar