Sabtu, 14 April 2012

TEORI FOUCAULT


 

ARKEOLOGI PENGETAHUAN MANUSIA DAN KEKUASAAN

 
SEKELUMIT TENTANG FOUCAULT



Michael Foucault, lahir di Poiters tahun 1926. Ayahnya seorang ahli bedah, seperti juga saudaranya dan kakeknya. Tetapi Foucault punya pandangan lain, ia menolak masuk kedokteran dan memilih studi filsafat. Ia kemudian tenggelam dalam penekunan akan filsafat, sejarah dan psikologi. Meski pada akhirnya, karya-karya dan pemikiran Foucault nampaknya lebih dekat ke bidang medis, khususnya psikopatalogi.
Foucault diterima di Ecole normale superieure pada tahun 1954 dan menempuh studi dibawah bimbingan G.Canguilhelm, G.Dumezil, dan J.Hyppolite. Tahun 1948 ia memperoleh licence dalam filsafat dan pada tahun 1950 ia memperoleh licence dalam psikologi. Ia juga mendapat diploma dalam psikopatalogi pada tahun 1952. Foucault kemudian melanjutkan penelitiannya dan mengajar di  Ecole normale superieure. Usai perang dunia ke-II ia menjadi anggota partai komunis Perancis hingga tahun 1951.
Tahun 1954 ia menerbitkan buku kecil berjudul Meladie mentale et personnalite (penyakit jiwa dan kepribadian). Ia kemudian menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Uppsala (Swedia) di bidang sastra dan budaya Prancis selama periode 1954-1958. Tahun 1958 ia menjadi direktur kebudayaan Perancis di Warsawa, sebelum kemudian menjabat posisi sejenis di Hamburg pada 1959. Pada tahun itu ia merampungkan buku ’Folie et deraison. Historie de la folie a l’age classique’. (Kegilaan dan nir-rasio. Sejarah kegilaan dalam zaman klasik). Setahun setelahnya ia kembali ke Prancis dengan naskah Hyppolite yang dikukuhkan sebagai tesis sejarah ilmu pengetahuan dan mengantar Foucault sebagai peraih gelar doktor negara pada tahun 1961.
Tahun 1963, disertasinya diedit dan dibukukan dengan judul Historie de la folie (sejarah kegilaan). Tetapi karya monumentalnya adalah Les mots et les choses. Une archeologie des sciences humanies (kata-kata dan benda-benda. Sebuah arkeologi tentang ilmu-ilmu manusia) yang terbit pada tahun 1966. Karya Foucault dipandang sebagai aras strukturalisme Perancis yang masyur. Ketika karyanya yang berjudul L’archeologie du savoir (arkelologi pengetahuan) terbit pada tahun 1969, karya itu disambut masyarakat dengan antusias.
Sepanjang periode 1960-1976, Foucault sibuk dengan karya ilmiah dan aktivitas mengajarnya. Tahun 1960-an ia mengajar di Tunisia, Montpellier, Clemond-Ferrand, dan Paris-Nanterre. Ia juga mendirikan universitas Paris-Vincennes. Lalu pada tahun 1969 ia dipilih sebagai profesor di College de France. Tahun 1975, ia menerbitkan buku Surveiller et punir. Naissance de la prison. (Menjaga dan menghukum. Lahirnya penjara). Salah satu laporan penelitian Foucault yang menarik minat umum adalah riwayat hidup seorang pembunuh yang dulunya hidup sederhana di sebuah desa pada abad 19. Riwayat itu ditulis sendiri oleh sang pembunuh, Pierre Riviere, yang kemudian didokumentasi Foucault dalam judul Moi, Pierre Riviere, ayant egorge ma mere, ma soeur et mon frere..(Aku, Pierre Riviere, setelah membunuh Ibu, Saudari, dan Saudaraku...) dan diterbitkan pada tahun 1973. Pada tahun 1976, Foucault kembali menerbitkan salah satu karya besarnya yang berjudul Histoire de la sexualite (sejarah seksualitas) yang dirancang hadir dalam enam episode, namun ia hanya merampungkan tiga, masing-masing La volonte de savoir (kemauan untuk mengetahui) pada 1976, disusul L’usage des plaisirs (penggunaan kenikmatan) pada 1982, menyusul Le souci de soi (keprihatinan untuk dirinya)  di tahun 1984.
Popularitas Foucault tidak saja mencuat di Perancis atau di negara-negara yang menggunakan bahasa Perancis, tetapi juga mencapai negara dengan penduduk berbahasa Inggris. Ia beberapa kali menjadi dosen tamu di Amerika Serikat dan aktif dalam perluasan idenya melalui wawancara atau artikel. Beberapa bulan setelah terbitnya Le souci de soi (keprihatinan untuk dirinya)  di tahun 1984, Michel Foucault meninggal dunia. Ia tutup usia pada umur 57 tahun. Meski tidak ada konfirmasi resmi, Michel Foucault diduga meninggal karena HIV AIDS.


 ARAS TEORI FOUCAULT
DALAM ARKEOLOGI ILMU-ILMU KEMANUSIAAN



Sebuah Nexus
Karya Michael Foucault dengan judul Order of Things: An Archeology of the Human Sciences diterbitkan di Indonesia dengan judul Order of Thing. Arkeologi Ilmu-ilmu Kemanusiaan. Kita berhutang pada B.Priambodo MS dan Pradana Boy MS yang bekerja keras mentranslasi karya Michael Foucault dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar di tahun 2007. Karya ini, sejujurnya, bukanlah karya yang enak dibaca. Itu karena Foucault sendiri nampaknya bukan orang yang mudah dibaca, terutama karyanya ini. Ada kalimat-kalimat panjang – beberapa sepanjang satu paragraph - yang hanya dipisahkan oleh tanda koma, titik ganda, atau titik koma di seluruh buku ini. Tanda dari kerumitan Michel Foucault. Filsuf ini menyenangi penjelasan sekali jalan dalam satu kalimat dimana ada penjelas, tambahan, atau keterangan sampingan yang masuk begitu saja dalam penuangan idenya. Jadi kalimat Foucault memang cenderung panjang, berbelit, dan rumit.
Kerumitan ini masih ditambah oleh atribut Foucault yang lain yaitu dangkal. Tidak ada penjelasan yang mendalam pada setiap temanya. Apa yang bisa kita temui adalah penjelasan yang meluas. Satu tema dapat dibahas Foucault dari sisi sejarah, antropologi, medis, hukum, bahasa, sastra, filsafat atau politik dengan gamblangnya. Ini menunjukkan actual atribut Foucault yang lain yaitu menguasai banyak bidang. Hayden White yang menulis pengantar untuk Order of Things: An Archeology of the Human Sciences nampak sepakat dengan atribut-atribut Foucault di atas. Di mata, White, Foucault memang merancang semua identitas ini untuk dirinya. Ia merancang karyanya untuk dangkal, untuk luas, sekaligus untuk memberi penjelasan komprehensif dari suatu wacana, tanpa kehilangan identitas intelektualnya yang kokoh.

Konstruksi Pemikiran Foucault.
Posisi filsafat Michel Foucault dekat dengan Friederich Nietzsche. Ontologi keduanya adalah nihilisme atau kehampaan. Demikian pengantar Hayden White dalam Order of Things: An Archeology of the Human Sciences. Uraian Foucault bermula dari tulisan Nietzsche dalam Ecce Homo dan diakhiri dengan persepsi ‘kegilaan’ dari semua ‘kebijaksanaan’ serta ‘kebodohan’ dari semua ‘pengetahuan’. Tetapi tidak ada optimisme dalam diri Foucault.
White (dalam Foucault,2007:vi) menulis :
Sebab, memang tak ada pemusatan dalam wacana Foucault. Semua adalah permukaan – dan memang ia maksudkan demikian. Bahkan, agar lebih konsisten dibanding Nietzsche, Foucault menahan dorongan untuk mencari subjek asli atau melampauinya, yang akan memberikan berbagai ‘makna’ khusus pada kehidupan manusia. Wacana Foucault adalah dangkal dan secara sengaja. Dan ini sesuai dengan tujuan yang lebih luas dari seorang pemikir yang menginginkan untuk melebur perbedaan antara permukaan dan kedalaman, untuk menunjukkkan bahwa dimanapun perbedaan itu muncul, itu adalah bukti dari permaianan kekuatan yang tertata, dan bahwa perbedaan itu sendiri merupakan senjata yang paling efektif dan memiliki kekuasaan untuk menyembunyikan operasi-operasinya.

Jelas disini bahwa Foucault memulai ancangan filsafatnya dari kekuasaan. Kekuasaan mana beroperasi dalam segala bentuk perbedaan yang tertata rapi. Perbedaan itu terjadi dalam segala aspek. Tidak terkecuali dalam perbedaan (dan pembedaan) antara konsep-konsep yang ‘mendalam’ dan konsep-konsep yang ‘hanya muncul di permukaan’. Sepanjang dikotomi antara keduanya masih ada, sepanjang itu pula dapat dikatakan bahwa. konsep-konsep telah dirasuki oleh roh kekuasaan.  
Bagi Foucault, kekuasaan memiliki ladang luas untuk menyuburkan benihnya. Benih-benih kekuasaan itu dapat hadir dalam wujud yang paling kasar hingga yang paling halus. Bentuk halus permainan kekuasaan dapat ditemui pada praksis kultural semacam diskursus. White (dalam Foucault, 2007:vi) menyebutkan bahwa diskursus adalah istilah untuk mewadahi semua bentuk dan kategori kehidupan kultural yang ia kumpulkan, termasuk usahanya sendiri untuk memasuki kehidupan ini dengan kritik terhadap apa yang dibayangkan dan dipertimbangkan. Istilah diskursus diperkirakan berasal dari bahasa Indo-Eropa (kers) dan bahasa Latin (dis, yang berarti dalam arah yang berbeda, dan currere yang berarti berlari. Jadi secara harfiah, diskursus dapat diartikan sebagai berlari menuju arah yang berbeda.
Diskursus sendiri, berada pada titik dimana ia ada jauh dari tempatnya bicara, sekaligus menghindar dari tempat dimana ada dukungan kepadanya. Diskursus Foucault memainkan fungsi pemutusan ‘yang tidak meninggalkan segala keistemewaan pada pusat’. Lebih tepatnya, diskursus melakukan tugas ‘membuat perbedaan.’
Michel Foucault juga seseorang yang menolak otoritas. Sejarah miliknya penuh dengan diskontinuitas, perputusan, jarak pemisah dan kekosongan seperti halnya argument-argumennya. Pencarian Foucault bukanlah ‘dasar’ melainkan ‘ruang’ di tempat pemisahan tersebut muncul. Karenanya, diskursus Foucault seperti tersaji tanpa pengekangan dan bergulir tanpa akhir. Jika kita mengikuti secara konsisten prinsip-prinsip yang diklaim Foucault, kita tidak akan mampu merujuk keseluruhan tubuh teks, lingkup, arah tulisan, kejadian yang ditulis, dan konteks historis dimana diskursus muncul. Apa yang paling mungkin kita lakukan adalah membawa diskursus Foucault ke arah penafsiran kita terhadap ide pokok yang mungkin dapat kita tangkap. Meski ini berarti bahwa kita dapat kehilangan Foucault.
Karena kemungkinan terbesar itu, Foucault menyediakan solusi dalam memahami dirinya. Solusi itu disebutnya gaya. Gaya bagi Foucault adalah sebuah sikap tertentu dari pengutaraan. Definisi ini menyatakan tentang apa yang seharusnya kita cari dalam usaha kita untuk mengkarakterisasi gaya Foucault sendiri. Gaya yang menurut White (dalam Foucault, 2007:xi) sebagai ’sangat mawas diri.’ Foucault menunjukkan banyak gaya. Ia menganalisis gaya pelintiran (torsion) dan pembengkokan (flexion) dari Raymond Roussel lalu menciptakan gagasan gaya kebalikan untuk mengkarakterisasi diskursusnya.
Sepanjang berbicara tentang diskursus, penting untuk disadari bahwa diskursus selalu membahas ’kehendak untuk berkuasa’. Inilah simpul hubungan yang kokoh antara Foucault dengan Nietzsche selaku pencetus ide ’kehendak untuk berkuasa’. Bedanya, seperti diungkapkan White (dalam Foucault, 2007:xiv), diskursus mengabaikan dasarnya sendiri. Salah satu fungsi diskursus menurut Foucault adalah modalitas. Modalitas merupakan produk dari pertukaran otonom antara teori dengan praktek, atau antara hipotesa dengan penelitian. Ia bukan dasar dari teori. Tetapi ia membentuk sejarah modern keinginan akan pengetahuan orang Barat. Ini semacam muslihat dan pemalsuan. Sepanjang pencariannya, Foucault hanya menemukan diskursus dalam budaya pengetahuan Barat. Di bawah periskop Foucault, pengetahuan di Barat tidak lebih dari upaya menentukan klaim kebenaran tertentu.
Hanya saja, Foucault tetaplah orang Barat yang membutuhkan penjelasan tentang asal pengetahuan. Meski menolak semua dasar pengetahuan Plato, dan berupaya melakukan pemutusan (diskontinuitas) atas rasionalisme Kant dan Descartes, pijakan pengetahuan tidaklah diabaikan Foucault. Diantara deretan gaya pengenalnya kita dapat menemukan ungkapannya tentang ’episteme’. Menurut White (dalam Foucault, 2007:xviii), ia mengartikan episteme sebagai total sekumpulan hubungan yang menyatukan, pada periode tertentu, praktik diskursif yang memunculkan figur-figur epistemologis, ilmu pengetahuan, dan mungkin sistem yang yang terbentuk dari pengetahuan. Dalam penjabarannya tentang ilmu-ilmu kemanusiaan, Foucault (2007:394) menunjuk bahwa kerangka a priori historis Kant telah menetapkan landasan self-evident pemikiran Barat dimana fakta menentukan status dan entitas manusia merupakan objeknya.
Bagi Foucault, semua cara di atas menimbulkan persoalan. Pertama, bahwa  ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mewarisi domain tertentu kecuali tugasnya mengelaborasi metode positif dan menganalisis ruang kosong. Apa yang dapat ditemukan hanyalah analisis tentang kehidupan, bahasa, atau buruh, tetapi bukan tentang manusia. Ada sejumlah problem ilmiah yang tidak terpecahkan sebelum manusia dimasukkan di antara objek-objek ilmu. Ada banyak problem dalam tatanan teoritis dan praktis juga norma-norma baru sejak pengetahuan masyarakat industri terbentuk. Faktanya, demikian Foucault, ilmu-ilmu kemanusian berada dalam keterasingan dari manusia itu sendiri.
Persoalan pertama di atas memberi kontribusi pada persoalan kedua dalam redistribusi episteme yang umum. Ketika ruang representasi manusia diabaikan yang menonjol kemudian adalah bahwa konsep mahluk hidup, kekayaan, dan kata-kata hadir mengisi kekosongan representasi manusia yang selayaknya mengedepan sebagai fakta. Dalam kritik Foucault (2007:395-396):
Tetapi ketika teori representasi muncul pada saat bersamaan, dan keniscayaan mempertanyakan wujud manusia sebagai landasan bagi semua kepastian membebani dirinya sendiri pada tempatnya, sebuah ketidakseimbangan bisa saja segera terjadi: manusia menjadi basis di mana pengetahuan bisa dibentuk dengan segera dan bukan merupakan bukti yang dipersoalkan; manusia menjadi, a fortiori, yang membenarkan semua pertanyaan tentang pengetahuan manusia. Jadi inilah kontestasi ganda dan tidak dapat dihindari: yang terletak pada akar kontroversi yang berkelanjutan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan kelayakan ilmu – yang pertama menjadikan klaim yang tak terbantahkan sebagai landasan bagi bagi yang kedua, yang secara terus menerus diwajibkan untuk mencari landasan mereka sendiri, pembenaran metode mereka, dan pemurnian sejarahnya,...

Jadi bagi Foucault, ilmu kemanusiaan itu sendiri naif karena tidak berhasil mendefinisikan objeknya. Pada masa Klasik, bidang pengetahuan bersifat homogen dan mendahului penataan materialnya melalui upaya membangun perbedaan dan membatasinya dalam tatanan. Ini merupakan proses yang bermula dari proyek analisis representasi menuju tema mathesis universalis. Tetapi di abad ke-19, bidang epistemologi dipecah bahkan diledakkan ke berbagai arah. Ini menimbulkan kesulitan antara ‘melepaskan pra-keunggulan klasifikasi linear dan hirarki menurut cara Comte’ dengan ‘meluruskan semua cabang pengetahuan modern pada basis matematika’.
Persoalan ketiga adalah, bidang episteme modern tidak ditata sesuai dengan ide tentang matematisasi tetapi lebih dibebani oleh empirisitas. Karena itu, menurut Foucault (2007:397) domain episteme modern seharusnya direpresentasikan sebagai volume ruang yang terbuka dalam tiga dimensi. Dalam satu dimensi ilmu matematika dan fisika diletakkan. Dimensi kedua ada ilmu yang mendahuluinya melalui penghubung elemen-elemen yang tidak berkelanjutan, tetapi analog dalam satu jalan seperti bahasa, kehidupan, produksi dan distribusi kekayaan. Terakhir, adalah dimensi dimana refleksi filosofis membentuk bidang umum dengan dimensi linguistik, biologi dan ekonomi.
Dari trihedron epistemologis di atas, ilmu-ilmu kemanusiaan dikeluarkan, paling tidak dalam pengertian bahwa, mereka tidak dapat ditemukan sepanjang dimensinya didefiniskan, atau bahwa mereka dimasukan dalam celah cabang pengetahuan dalam volume yang dibatasi oleh tiga dimensi, dimana ilmu kemanusiaan mendapatkan tempatnya. Ilmu kemanusiaan dengan demikian dapat berhubungan dengan semua bentuk pengetahuan, sekaligus mengarahkan dirinya pada mode of being manusia. Pada saat bersamaan, ilmu kemanusiaan menjadi sulit untuk diposisikan. Kesulitan itu bersumber dari dua hal. Pertama, ilmu kemanusiaan membahayakan ilmu cabang pengetahuan lain oleh kontaminasi ’ketidakmurnian’. Kedua, ilmu kemanusiaan dapat mengancam cabang pengetahuan lain karena sifat ’kelabilan esensial’ yang dicirikan oleh ketidakpastiannya sebagai ilmu.
Dari semua keterbatasan ilmu kemanusiaan di atas, Foucault menentukan posisinya. Pertama, dimungkinkan hubungan ilmu itu dengan matematika dalam tujuannya menggunakan matematika ’hanya’ sebagai alat. Hubungan ini tentu saja tidak bersifat konstitutif dalam model positivitas ilmu kemanusiaan yang partikular. Kedua, ilmu kemanusiaan diarahkan pada manusia. Karena manusia tumbuh, memiliki fungsi dan memiliki kebutuhan, eksistensi badaniahnya menjalin manusia dengan kehidupan dunia. Di sini, bahasa membantu eksistensi manusia manakala manusia membentuk alam simbolis dirinya, berhubungan dengan masa lalu, benda, manusia lainnya, serta membangun inti pengetahuannya (body of knowledge).
Dalam bentuk yang umum, demikian Foucault, manusia bagi ilmu kemanusiaan bukanlah mahluk hidup dengan bentuk yang sangat partikular, tetapi merupakan mahluk hidup yang membentuk representasi melalui sarana mana dia bisa hidup. Maka ilmu kemanusiaan bukanlah analisis tentang hakikat manusia, tetapi analisis tentang  manusia dari bentangan apakah ia dalam positivitasnya hingga apakah yang memungkinkan manusia mengetahui makna kehidupan.
Kenyataanya, bagi Foucault, dalam diskursus pengetahuan manusia, hal alamiah tersembunyi di balik aspek suatu ’norma’, sehingga hukum tidak melebihi kapasitasnya selaku aturan yang mendefinisikan ’yang normal’ dan ’yang disiplin’ dan memisahkannya dari ’penyimpangan’ melalui tehnik hukuman, pengurungan, pendidikan dan tentu saja bentuk lain dari teknik moral.


Foucault tentang Foucault
Michel Foucault menulis lima poin penting dalam pengantar buku Order of Things: An Archeology of the Human Sciences. Dari kelima poin ini kita nampaknya dapat membaca pernyataan Foucault tentang diri dan karyanya.
Pertama, kajian yang diangkat Foucault merupakan studi yang cenderung diabaikan dalam tradisi ilmu pengetahuan Perancis yang membanggakan sains. Kedua, Foucault tidak bermaksud menentukan pijakan bagi pencarian weltanschauung dalam metode komparatifnya. Ketiga, baginya, sejarah sains memiliki dua tingkatan. Tingkat pertama adalah pelacakan progresivitas penemuan dalam usaha mendeskripsikan proses dan menghasilakan kesadaran saintifik. Tingkat kedua adalah mengembalikan pengaruh yang mempengaruhinya. Sasaran proyek Foucault dengan demikian adalah mengungkapkan ketidaksadaran positive suatu pengetahuan, memperdebatkan validitasnya dan mengurangi karakter saintifiknya.
Keempat, beberapa masalah membutuhkan penjelasan gamblang dari karyanya. Masalah perubahan: bagi Foucault perlu diteliti secara lebih jauh demi kontinuitas. Sementara masalah kausalitas diangkat Foucault karena sains sendiri tidak mudah dalam menentukan penyebab perubahan specifik dalam penemuannya. Lebih jauh bahkan tidak ada dasar metodologi yang pasti yang mendasari analisis. Masalah subjek adalah yang berikutnya. Menurut Foucault, wacana adalah realitas yang kompleks yang perlu didekati dengan tingkatan dan metode yang berbeda. Subjek yang bertanggung jawab atas saintifik tidak ditentukan dalam situasi, fungsi, kapasitas perspektif, dan kemungkinan praktis dengan semua kondisi yang meliputi mereka. Analisis sejarah wacana saintifik seharusnya menjadi subjek pada teori perbuatan.
Kelima, penolakan Foucault atas labeling strukturalisme publik terhadap studinya. Kemungkinan terdapat kesamaan antara karya Foucault dengan karya kaum strukturalis lain, tetapi ia menolak dikatakan teoritikus strukturalis. Penegasan Foucault dalam hal ini adalah bahwa wacananya bebas dari kondisi dan aturan yang tidak disadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar