Jumat, 06 April 2012

BEBERAPA PERTANYAAN DASAR FILSAFAT KETUHANAN


 

1.          Apa perbedaan filsafat ketuhanan dan teologia?
Filsafat ketuhanan membatasi diri pada pertanyaan paling dasar: bagaimana kepercayaan bahwa ada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Teologia mempertanggungjawabkan apa yang diimani serta kehidupan yang dijalani berdasarkan iman sesuai dengan sumber iman itu.

2.          Apa yang dimaksud dengan perubahan dari paradigma teosentris ke paradigma antroposentris?
Perubahan paradigma teosentris (paradigma:contoh/model; theos:Allah; dan centrum:pusat) ke paradigma antroposentris (antropos: manusia) adalah suatu perubahan model orientasi dari cara memandang segala sesuatu dari sudut Allah pencipta, pengarah, penyelamat manusia dan seluruh jagad raya menjadi model yang menempatkan manusia sebagai titik acuan dari segala sesuatu. Dalam antoposentris, segala hal dipertanyakan dari sudut manusia.

3.          Apa yang dimaksud dengan deisme?
Deisme (deus:Allah) adalah pandangan khas tentang Allah dimasa pencerahan. Dalam deisme, Allah tidak dipahami sebagai “yang dekat” dengan manusia, yang mengerjakan mujizat, dan mengambil tindakan dalam sejarah, serta terus menerus memelihara alam semesta. Leibniz (1646-1716) bertanya, mana yang lebih sempurna, jam dinding yang terus menerus dicampuri dan dibetulkan atau jam dinding yang sudah dibangun sedemikian rupa sehingga berjalan dengan persis tanpa perlu dipasang kembali? Deisme mengandaikan harmonia praestabilista atau keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan.

4.          Apa tiga tahap perkembangan intelektual menurut Comte?
August Comte (1798-1857) “bapak positivisme” merumuskan hukum tiga tahap perkembangan ilmu pengetahuan. Tahap pertama dari pengetahuan, menurut Comte, adalah tahap teologis. Tahap dimana gejala-gejala alam dijelaskan sebagai hasil tindakan dewa atau kekuatan adi-duniawi lainnya. Tahap kedua, adalah tahap metafisik. Tahap dimana kejadian-kejadian alam dijelaskan dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak spekulatif filsafat. Tahap ketiga, dan terakhir, adalah tahap pengamatan ilmiah. Bagaimana pengamatan ilmiah menjelaskan gejala-gejala alami berkaitan satu dengan yang lain. Itulah positif. Demikian juga masyarakat dan budaya. Selama masyarakat mencari penjelasan tentang apa yang dialami dialam adi daya, masyarakat itu adalah masyarakat yang berada pada tahap mitos atau agama. Apabila gejala-gejala pengalaman dijelaskan secara metafisik, masyarakat baru berada pada tahap metafisik. Terakhir, apabila kehidupan masyarakat sudah ditentukan oleh ilmu pengetahuan positif, masyarakat mencapai tahap positivisme yang bermakna masyarakat intelektual dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar