1.
Apa
perbedaan filsafat ketuhanan dan teologia?
Filsafat ketuhanan membatasi diri pada pertanyaan paling
dasar: bagaimana kepercayaan bahwa ada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional.
Teologia mempertanggungjawabkan apa yang diimani
serta kehidupan yang dijalani berdasarkan iman sesuai dengan sumber iman itu.
2.
Apa
yang dimaksud dengan perubahan dari paradigma teosentris ke paradigma antroposentris?
Perubahan paradigma teosentris
(paradigma:contoh/model; theos:Allah; dan centrum:pusat) ke paradigma antroposentris (antropos: manusia) adalah suatu perubahan model orientasi dari cara
memandang segala sesuatu dari sudut Allah pencipta, pengarah, penyelamat
manusia dan seluruh jagad raya menjadi model yang menempatkan manusia sebagai
titik acuan dari segala sesuatu. Dalam antoposentris, segala hal dipertanyakan
dari sudut manusia.
3.
Apa
yang dimaksud dengan deisme?
Deisme (deus:Allah) adalah pandangan khas tentang Allah dimasa pencerahan.
Dalam deisme, Allah tidak dipahami sebagai “yang dekat” dengan manusia, yang
mengerjakan mujizat, dan mengambil tindakan dalam sejarah, serta terus menerus
memelihara alam semesta. Leibniz (1646-1716) bertanya, mana yang lebih sempurna,
jam dinding yang terus menerus dicampuri dan dibetulkan atau jam dinding yang
sudah dibangun sedemikian rupa sehingga berjalan dengan persis tanpa perlu
dipasang kembali? Deisme mengandaikan harmonia
praestabilista atau keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan.
4.
Apa
tiga tahap perkembangan intelektual menurut Comte?
August Comte (1798-1857)
“bapak positivisme” merumuskan hukum tiga tahap perkembangan ilmu pengetahuan.
Tahap pertama dari pengetahuan, menurut Comte, adalah tahap teologis. Tahap dimana
gejala-gejala alam dijelaskan sebagai hasil tindakan dewa atau kekuatan
adi-duniawi lainnya. Tahap kedua, adalah tahap metafisik. Tahap dimana
kejadian-kejadian alam dijelaskan dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak
spekulatif filsafat. Tahap ketiga, dan terakhir, adalah tahap pengamatan
ilmiah. Bagaimana pengamatan ilmiah menjelaskan gejala-gejala alami berkaitan
satu dengan yang lain. Itulah positif. Demikian juga masyarakat dan budaya.
Selama masyarakat mencari penjelasan tentang apa yang dialami dialam adi daya,
masyarakat itu adalah masyarakat yang berada pada tahap mitos atau agama.
Apabila gejala-gejala pengalaman dijelaskan secara metafisik, masyarakat baru
berada pada tahap metafisik. Terakhir, apabila kehidupan masyarakat sudah
ditentukan oleh ilmu pengetahuan positif, masyarakat mencapai tahap positivisme
yang bermakna masyarakat intelektual dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar