ELABORASI
TERHADAP PIKIRAN ETIK EMMANUEL KANT
OLEH: H.B.ACTON
1.
Pendahuluan
Filsuf Jerman terkemuka pada abad 18, Christian
Wolff (1679-1754) mengelaborasi dan mensistematisasi karya Leibniz yang isinya
menantang pandangan kaum empirisme dalam filsafat John Locke. Empirisme
mengemukakan bahwa semua pengalaman manusia tentang dunia didasarkan atas
pengalaman inderawi. Leibniz mengemukakan tesis penantangan itu dengan berujar
“segala sesuatu yang ada dalam intelek berasal dari indera, kecuali intelek itu
sendiri.”
Christian Wolff menggunakan prinsip Leibniz di
atas dan meneruskan tradisi rasionalisme yang dibangun oleh Anselmus dan Rene
Descartes untuk selanjutnya melemparkan problem filsafatnya yakni bahwa
eksistensi Tuhan dapat dibuktikan secara a priori. Maksud Wolff, eksistensi
Tuhan dapat ditunjukkan atas dasar proposisi-proposisi yang diketahui benar
terlepas dari pengalaman inderawi. Wolff juga meneguhkan pendapat bahwa
prinsip-prinsip dasar moralitas diketahui secara a priori dan terlepas dari
wahyu ilahi.
Satu-satunya prinsip moral yang rasional hanyalah,
demikian Wolff, “kerjakan apapun yang membuat anda dan kondisi anda sendiri
serta semua orang yang mengikuti anda menjadi lebih sempurna.” Wolff menerima
asumsi-asumsi dasar Soic, sebuah aliran filsafat kuno Yunani yang memandang
tujuan terakhir adalah hidup sesuai dengan alam, dan melengkapinya dengan
catatan :”kebahagiaan adalah buah dari tindakan, tetapi kebahagiaan itu sendiri
buakn tujuan dari tindakan moral.”
Immanuel Kant hidup mengikuti pandangan Wolff di
atas, tetapi sekaligus memelihara peitisme kristen Luteran Jerman yang percaya
bahwa tuntutan hukum-hukum Tuhan lebih tinggi dari teologia model apa pun.
Hidup yang dikehendaki Tuhan bagi kaum peitisme adalah hidup yang sederhana,
teratur, hemat, saleh, tekun dalam doa sukarela setiap hari, berderma, dan
menundukkan hasrat-hasrat murahan dari jiwa. Campuran dari latar belakang
pandangan hidupnya ini nampak jelas dalam penjelasan-penjelasan teori kritisnya
yang bermuara pada pembuktian keberadaan Tuhan. Kant menyebut bukti keberadaan
Tuhan sebagai lebih a priori dari bukti lain apapun, karena ini tidak
mengasumsikan bahwa segala sesuatu secara aktual harus ada.
2.
Sikap Etik Kant
Kant dibangunkan dari tidur dogmatiknya dalam
impian filsafat Wolff setelah membaca tulisan David Hume yang diterbitkan dalam
bahasa Jerman. David Hume, memunculkan premis dasar kaum empirisme yang
menyebutkan: “pengetahuan manusia didasarkan pada pengalaman inderawi, dan
tidak dapat melampauinya.” Hume menjatuhkan palunya di atas kepala kaum
rasionalisme dengan sebuah hantaman telak :”setiap peristiwa yang dipandang
memiliki sebab tidak didasarkan atas pembenaran rasional tetapi merupakan
kebiasaan akan pengharapan yang muncul dan terus saling mengait dari
pengalaman-pengalaman masa lalu.”
Dalam kekagumannya pada pandangan Hume, Kant masih
menyisakan pertanyaan terakhir atas empirisme: “Dapatkah empirisme konsisten
atas pandangannya?” Karena jika empirisme konsisten, maka hukum sebab akibat (casual
laws) yang dibangun dalam ilmu alam, yang dianggap bukan deskripsi kejadian
alam tapi semata-mata pengalaman subjektif pikiran, pada akhirnya akan
menyisakan skeptisime. Apabila obyektifitas saintifik digugat, maka pengetahuan
semata-mata adalah pengalaman subjektif yang digeneralisasi.
Dalam bukunya “Kritik
der reinen vernunft” Kant mengajukan argumen-argumen a priori yang tidak
dikendalikan oleh rujukan empiris untuk membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpulan
kontradiktif dapat diberikan. Kant mengemukan dua proposisi terkenal. Pertama,
dunia mempunyai permulaan waktu atau dunia tidak mempunyai permulaan waktu.
Kedua, ada kebebasan kehendak yang tidak disebabkan atau kebebasan kehendak itu
mustahil karena segalanya terjadi sesuai hukum alam. Karena kedua proposisi
yang bertentangan ini tidak bisa kedua-duanya benar, maka pasti ada satu
proposisi yang tidak sempurna dan tidak lengkap.
Menurut Kant, prinsip-prinsip seperti “setiap
peristiwa mempunyai sebab” merupakan prinsip formal yang membawa keteraturan (order) dan kejelasan (inteligibility) kepada kesan-kesan
inderawi tetapi tidak mempunyai signifikasi objektif yang terlepas dari kesan
inderawi. Kant menamai prinsip formal itu “konsep-konsep pemahaman murni” dan
“kategori-kategori”. Baik konsep pemahaman murni dan kategori digunakan kita
untuk menafsir kesan-kesan inderawi. Tanpa keduanya, penafsiran kesan inderawi
akan berakhir dengan kebingungan dan kesia-siaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar