1.
Teori
Kritis adalah filsafat yang dipraktekkan dalam Mazhab Frankfurt
(Bertens,2006:196). Penentuan posisi teori ritis dalam rangka sejarah filsafat
mengharuskan ditentukannya tiga faktor pengaruh teori ini. Ketiga faktor itu
adalah pemikiran Hegel, pemikiran Marx, dan pemikiran Freud. Unsur paling dominan dari ketiga faktor
dimaksud dalam tubuh teori kritis adalah unsur filsafat Karl Marx, sehingga
tidak jarang kepada teori kritis disematkan label “neomarxisme”.
Meski
demikian, para pemikir Mazhab Frankfurt memandang Marx dari cara yang berbeda.
Marx dipahami Mazhab Frankfurt sebagai kelanjutan filsafat Hegel. Mikroskop
pemikiran Mazhab Frankfurt memposisikan Marx sebagai sayap kiri pemikiran
Hegel. Objek kajian Mazhab Frankfurt terhadap Marx adalah tulisan-tulisan awal
Marx yang dikenal dengan “karangan-karangan Marx muda” atau juga disebut
“naskah-naskah dari Paris”. Pada karangan Marx muda, nampak jelas hubungan
antara Marx dan Hegel.
Marxisme
adalah pemikiran filosofis Karl Marx. Anthony Giddens (1986:xvii) mencatat
bahwa istilah Marxisme menjadi begitu populer justru sebagai hasil pekerjaan
Engels. Engels menyediakan sebuah basis pemikiran yang disebutnya materialisme
filsafat yang kemudian menjadi terkenal dengan nama marxisme. Dalam bahasa
Giddens :”...Marxisme, menyediakan suatu kerangka teori bagi Demokrasi Sosial,
yang membiarkan dan membenarkan adanya perbedaan besar antara teori dan
praktek”. Tetapi pekerjaan besar Karl Marx dalam filsafatnya adalah roh
marxisme. Tema-tema yang diangkat Marx dalam filsafatnya (Giddens, 1996:23-25)
adalah (a) kondisi “swa-penciptaan” (self-creation)
yang menunjukan adanya manusia progresif: sebuah konsep yang dipinjam Marx dari
Hegel; (b) gagasan tentang keterasingan atau alianasi; (c) kritik terhadap
negara; (d) dasar-dasar utama materialisme sejarah; (e) suatu konsep ringkas
tentang teori Praksis yang revolusioner.
Hubungan
antara Teori Kritis dan Marxisme digambarkan secara gamblang oleh Bertens
(2006:194-5) dengan kalimat :”Oleh karenanya Institut Penelitian ini tidak mau
tergantung pada universitas Frankfurt, yang pada saat itu masih muda, biarpun
beberapa anggotanya mengajar di universitas tersebut. Kebanyakan anggotanya
merasa simpati kepada marxisme dan beberapa diantaranya menjadi anggota partai
komunis Jerman...” Para pemikir Mazhab Frankfurt seperti Max Horkheimer,
Friedrich Pollock, Leo Lowenthal, Walter Benjamin, Theodor W.Adorno, Erich
Fromm, Herbert Marcuse dan Jurgen Habermas menyimpan jiwa Marxisme dalam
filsafat mereka. Kritik Jurgen Habermas pada positivisme misalnya menampakan
dengan jelas ciri pemikiran Marx tentang ilmu pengetahuan kritis. Habermas
mengemukakan bahwa manusia memperoleh pengetahuan tiak semata-mata dalam
hubungan antara dirinya dengan kenyataan yang netral. Kenyataan selalu
dilekatkan dengan kepentingan. Habermas mengajukan tesis tentang Erkenntnisleitende Interesse atau
kepentingan yang menjuruskan pengenalan. Dalam hal ini ada tiga macam
kepentingan : (a) kepentingan pengenalan teknis, (b) kepentingan pengenalan
praktis, dan (c) kepentingan pengenalan emansipatoris.
Bertens
(2006:243) mencatat dengan jelas ketiga jenis kepentingan pengenalan itu.
Pengenalan
yang diperoleh dari kepentingan pengenalan teknis dapat ditemukan dalam ilmu
alam dan ilmu sosial teknis.
Pengenalan yang diperoleh dari kepentingan
pengenalan praktis ditemukan dalam ilmu sejarah, ilmu komunikasi dan ilmu
hermeneutis. Pengenalan yang diperoleh dari kepentingan pengenalan
emansipatoris dapat ditemukan dalam psikoanalisis dan teori-teori kritis
tentang masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar