Buddhisme berasal dari India
dan tumbuh dalam konteks religius dan sosial Hinduisme. Budhisme menerima ide
tentang reinkarnasi (samsâra) dan hukum sebab akibat (karma) namun menolak
ajaran tentang kasta. Beridirinya Buddhisme dihubungkan dengan tokoh Siddharta
Gautama yang hidup di timur laut India pada abad 6 SM.
Buddhisme di India berkembang
dalam tiga tahap filosofis utama yaitu (1) sebagai sebuah sistem pluralistis
dan realistis dari aliran Hĩnyâna,
(2) sebagai doktrin dialektis jalan tengah filsafat Mâdyamika, dan (3) sebagai doktrin monistis “hanya pikiran” (only
mind) dari filsafat Yogâcâra.
Sedangkan menurut Jaideva Singh, tiga fase perkembangan Buddhisme terdiri atas
(a) fase Abhidhamma, yakni dari
meninggalnya Buddha sampai abad ke-1, (2) perkembangan ajaran-ajaran rahasia,
dan (3) perkembangan Tantra.
Inti ajaran Buddhisme Mahâyâna maupun Theravâda terletak pada empat kesunyataan mulia (the Noble Truths)
dan delapan jalan mulia (Noble Eightfold Path); tiga tanda sang wujud
(Ti-Lakkhana) yakni :”Dukkha”(suffering), “Anicca (impermanence) dan Anatta
(Non-Ego); Hukum karma; pencerahan dan Nirvâna.
Seluruh ajaran Sang Buddha
terdiri dari tiga kumpulan buku (Tri-Pitaka yang berarti tiga keranjang. Tiga
keranjang kitab itu terdiri dari : (1) Vinaya-Pitaka;
yaitu kitab tentang peraturan para bhikku; (2) Sutta-Pitaka, yaitu ceramah, tanya jawab dan
perundingan-perundingan serta; (3) Abhidhamma-Pitaka,
yaiut uraian tentang kesunyataan terakhir.
Tri-Pitaka juga
berisi ajaran tentang empat kesunyataan mulia yaitu: (1) kesunyataan tentang
penderitaan (dukkha), (2) kesunyataan
tentang asalnya penderitaan (dukkha-samudaya);
(3) kesunyataan tentang lenyapnya penderitaan (dukkha-nirodha), dan (4) kesunyataan tentang jalan untuk
melenyapkan penderitaan (dukkha-nirodha-gâminĩ-patipadâ),
yakni 8 jalan utama, masing-masing (a) pengertian yang benar (sammâ-ditthi); (b) pikiran yang benar (sammâ-sankappa); (c) bicara yang benar
(sammâ-vâcâ), (d) perbuatan yang
benar (sammâ-kammanta), (e)
penghidupan yang benar (sammâ-âjĩva),
(f) usaha yang benar (sammâ-vâyâma),
(g) perhatian yang benar (sammâ-sati)
dan (h) konsentrasi yang benar (sammâ-samâdhi).
Tujuan terakhir Buddhisme
dihubungkan dengan pembebasan dari kemelekatan hidup yang tidak sejati. Dalam
Buddhisme realisasi tujuan ini disebut Nirvâna atau ke-Buddhaan. Nirvâna adalah
kondisi yang terbebas dari diri yang semu atau diri yang ilusif menuju pada
Diri atau realitas sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar