Sabtu, 10 Maret 2012

POKOK-POKOK AJARAN BUDDHISME




Buddhisme berasal dari India dan tumbuh dalam konteks religius dan sosial Hinduisme. Budhisme menerima ide tentang reinkarnasi (samsâra) dan hukum sebab akibat (karma) namun menolak ajaran tentang kasta. Beridirinya Buddhisme dihubungkan dengan tokoh Siddharta Gautama yang hidup di timur laut India pada abad 6 SM.
Buddhisme di India berkembang dalam tiga tahap filosofis utama yaitu (1) sebagai sebuah sistem pluralistis dan realistis dari aliran Hĩnyâna, (2) sebagai doktrin dialektis jalan tengah filsafat Mâdyamika, dan (3) sebagai doktrin monistis “hanya pikiran” (only mind) dari filsafat Yogâcâra. Sedangkan menurut Jaideva Singh, tiga fase perkembangan Buddhisme terdiri atas (a) fase Abhidhamma, yakni dari meninggalnya Buddha sampai abad ke-1, (2) perkembangan ajaran-ajaran rahasia, dan (3) perkembangan Tantra.
Inti ajaran Buddhisme Mahâyâna maupun Theravâda terletak pada empat kesunyataan mulia (the Noble Truths) dan delapan jalan mulia (Noble Eightfold Path); tiga tanda sang wujud (Ti-Lakkhana) yakni :”Dukkha”(suffering), “Anicca (impermanence) dan Anatta (Non-Ego); Hukum karma; pencerahan dan Nirvâna.
Seluruh ajaran Sang Buddha terdiri dari tiga kumpulan buku (Tri-Pitaka yang berarti tiga keranjang. Tiga keranjang kitab itu terdiri dari : (1) Vinaya-Pitaka; yaitu kitab tentang peraturan para bhikku; (2) Sutta-Pitaka, yaitu ceramah, tanya jawab dan perundingan-perundingan serta; (3) Abhidhamma-Pitaka, yaiut uraian tentang kesunyataan terakhir.
Tri-Pitaka juga berisi ajaran tentang empat kesunyataan mulia yaitu: (1) kesunyataan tentang penderitaan (dukkha), (2) kesunyataan tentang asalnya penderitaan (dukkha-samudaya); (3) kesunyataan tentang lenyapnya penderitaan (dukkha-nirodha), dan (4) kesunyataan tentang jalan untuk melenyapkan penderitaan (dukkha-nirodha-gâminĩ-patipadâ), yakni 8 jalan utama, masing-masing (a) pengertian yang benar (sammâ-ditthi); (b) pikiran yang benar (sammâ-sankappa); (c) bicara yang benar (sammâ-vâcâ), (d) perbuatan yang benar (sammâ-kammanta), (e) penghidupan yang benar (sammâ-âjĩva), (f) usaha yang benar (sammâ-vâyâma), (g) perhatian yang benar (sammâ-sati) dan (h) konsentrasi yang benar (sammâ-samâdhi).
Tujuan terakhir Buddhisme dihubungkan dengan pembebasan dari kemelekatan hidup yang tidak sejati. Dalam Buddhisme realisasi tujuan ini disebut Nirvâna atau ke-Buddhaan. Nirvâna adalah kondisi yang terbebas dari diri yang semu atau diri yang ilusif menuju pada Diri atau realitas sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar