Sabtu, 10 Maret 2012

TUHAN DAN DUNIA MATERI




Sumbangan terbesar tradisi Judea bagi civilisasi dan dunia secara umum adalah konsep beragama yang mereka bangun dari tema yang benar-benar berbeda dari bangsa manapun. Baik bangsa-bangsa disekitar mereka yakni orang-orang Mesopotamia dan penduduk Palestina maupun dari kebudayaan besar yang dominan seperti Mesir. Konsep mereka adalah bahwa manusia tidak diciptakan oleh sebab utama dari alam materi semisal gunung, air, batu, pohon dan sebagainya.
4
 
Menurut ajaran Taurat yang disampaikan Musa (Moses) kepada bangsa Israel, inti dogma-agama adalah bahwa alam semesta, bumi dan manusia diciptakan oleh Tuhan. Teks yang terjemahannya kita terima dalam kitab Kejadian pasal 2 ayat 1-7 secara singkat menceritakan proses penciptaan sebagai dasar ajaran agama Jahudi. Teks lebih rinci tentang proses penciptaan itu dapat kita temukan pada Kejadian 1 ayat 1-31 tetapi waktu penulisannya lebih muda dari teks pada kejadian pasal 2.
Pada ayat 7 dari kitab Kejadian pasal 2, Alkitab menulis bahwa manusia dibentuk Tuhan dari debu tanah, lalu Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah ia menjadi mahluk yang didup. Kita dapat berdebat panjang tentang proses penciptaan manusia dari debu tanah, terutama jika menyangkut pembuktian fisika dan kimia.
Ilmu pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa manusia berasal dari sel hidup yang tumbuh oleh proses interaksi hukum-hukum kimia dan fisika. Bahwa suatu unsure yang disebut asam amino telah memberi jalan bagi tumbuhnya proses hidup manusia sejak janin hingga renta. Setiap hari manusia mengalami proses hidup yang sesungguhnya berasal dari saling meruntuhkan dan membangun antar sel-sel dan jaringan dalam tubuhnya. Ada ribuan sel mati tiap hari dan ada ribuan lainnya tumbuh oleh kecukupan nutrisi dan vitamin yang kita konsumsikan.
Oksigen yang kita hirup dari alam membantu metabolisme darah dalam tubuh, tetapi juga berperan besar dalam proses penghancuran sel-sel tubuh manusia. Dan setiap saat sinar matahari menghancurkan jaringan kulit manakala orang melintasi jalanan kota.
Apa yang ingin dikatakan oleh diskripsi diatas adalah bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian dari materi dan dipengaruhi oleh proses alami yang secara sinergi menumbuhkan dan menghancurkannya. Ungkapan nats kejadian 2 ayat 7 bahwa manusia berasal dari debu tanah secara lurus menggiring kita pada kesimpulan bahwa manusia diciptakan dari unsure dunia materi.
5
 
Ada bagian yang cukup unik dari penggunaan istilah debu dalam teks Indonesia. Jika kita memahami bahwa unsur-unsur dominan pembangun struktur tubuh sesungguhnya merupakan unsur kecil yang ada di alam, ungkapan “debu” mungkin dapat diartikan sebagai bagian yang terkecil. Fosfor dan kalsium sebagai unsur utama pembentuk tulang manusia adalah zat-zat kecil di alam bebas. Sementara unsur dominan di alam seperti besi atau karbon  ada dalam tubuh manusia dalam komposisi yang lebih kecil.
Sayangnya kenyataan ini sama persis dengan apa yang ditemukan pada hewan. Jadi orang akan kembali bertanya, apakah proses pembentukan hewan sama persis dengan proses pembentukan manusia? Jika ia, maka apa yang dikemukakan Darwin tentu saja benar, bahwa manusia tidak lain dari hasil proses evolusi kehidupan yang lebih rendah tingkatannya.
Pernyataan ini pada akhirnya hanya menyisakan inti dogmanya. Yakni bukan dari unsure apa manusia dibentuk, tetapi sebab utama apa yang menjadikan manusia ada. Dogma yang secara tegas memisahkan antara dunia materi dan dunia roh.
Pengakuan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan ini diikuti oleh dogma berikutnya bahwa Tuhan itu esa. Meski dalam teks Judea lama istilah Roh jarang ditemukan, tetapi maksud dogma itu jelas dan saling berhubungan. Pertama, bahwa manusia bukan ciptaan materi alami. Kedua, Tuhan – sang pencipta bukanlah materi alamiah. Ketiga, karena Tuhan bukanlah materi maka Ia tidak dapat dilambangkan dengan sifat materi seperti perupaan dewa-dewa. Jika dogma Judea menyebut Tuhan itu esa, ia bukan sekedar menunjukan pelambang pertama dari bilangan, tetapi juga kesatuan yang utuh dari semua yang tidak dapat didefinisikan secara materiil.
Jika disebut nol maka yang dimaksud adalah ketiadaan dan tidak bereksistensi. Namun dengan menyebut satu atau esa, Tuhan dipandang sebagai pribadi pertama dan utama serta totalitas yang tak terbagi. Dalam konsep teologi disebut sebagai Causa Prima atau sebab pertama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu.
Menarik jika kita kemudian melangkah lebih jauh pada pertanyaan mendasar : “mengapa Tuhan orang Jahudi tidak berasal dari dunia materi?”
Sejarah dogma Jahudi tumbuh dan berkembang lama sebelum sejarah filsafat Athena. Sebelum lahir konsep soma-sema sophis yang menyebut bahwa manusia merupakan integral tubuh dan roh, orang Israel telah membangun dam menjaga kepercayaan kepada Yahweh turun temurun.
Sejak proses eksodus dari Mesir, dogma dan hukum-hukum agama itu dicatat dan dipraktekan dengan penuh kerelaan. Secara umum dogma dan hukum Taurat memberi batasan sampai pada titik operasional dari lapangan kehidupan keagamaan, ekonomi, hukum, hubungan antar masyarakat dan dasar pemerintahan teokrasi.
 Selama itu pula, diterima pemahaman bahwa Tuhan orang Israel adalah Roh. Bukan bagian dari dunia materi. Dan berderajad lebih tinggi dari sifat dan bentuk materi. Tuhan Yahweh berkedudukan diatas dunia materi dan manusia. Ia mahakuasa, maha mengetahui, serba hadir, adil, dan bijaksana.
Dari peletakan predikat pada subjek Tuhan, jelas tergambar bahwa yang ingin diungkapkan dari dogma Judea adalah suatu titik pijak pemahaman tentang “penyebab utama” yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu serta terletak diatas semua kategori kebaikan manusia.
Pengalaman beragama bangsa Jahudi serta kontekstual kehidupan mereka secara eksplisit tergambar dari dogma ini. Suatu titik awal sebab yang tidak terbatas. Dapat terjadi bahwa perjalanan nation ini selama berabad-abad dibawah penindasan, penjajahan, pembuangan, dan perantauan yang kemudian melahirkan kerinduan mereka terhadap kemerdekaan, kebebasan, dan kedamaian merasuk dalam dogma ini. Bahwa Tuhan tidak boleh dibatasi dalam eksistensi materi jika Ia kemudian menjadi sumber kepercayaan manusia. Dalam eksistensi materi diterima semua bentuk keterbatasan oleh ruang dan waktu.
Jika Tuhan Israel seperti Tuhan Firaun atau Baal orang Mesopotamia, bagaimana ia mampu membebaskan manusia dari penderitaan akibat penjajahan, penindasan dan pembuangan? Sebab Firaun lenyap oleh kematian dan Baal berubah menjadi patung tak berharga. Jika matahari adalah sumber kehidupan, siapakah yang menyelamatkan manusia di waktu malam? Atau jika tanah adalah sumber hidup bagaimanakah ia memberi perlindungan bagi mereka yang mengembara selama ratusan tahun dan hidup di negeri asing sebagai perantauan?
Ide dasar dogma Jahudi tentu saja bertolak dari tema mereka tentang kebebasan dan kemerdekaan. Bangsa ini hidup dalam penindasan Mesir selama puluhan tahun. Mereka pernah dikalahan Babilonia dan sebagian besar warganya ditawan disana. Mereka juga pernah dijajah Persia di bawah Darius. Dan setelah penghancuran Jerusalem Tahun 70 masehi, bangsa ini terpencar di berbagai negeri di Eropa, Asia, dan Amerika selama lebih dari seribu delapan ratus tahun.
Menakjubkan bahwa sinergi dari dogma agama mereka dan cita-cita kemerdekaan bertahan untuk waktu yang luar biasa panjangnya. Konsep tentang Tuhan yang merdeka, terpisah dari dunia materi dan serba hadir lahir kembali dalam konsep agama modern sebagaimana ajaran Kristiani dan Islam. Sebutan agama modern sebenarnya memberi kesan viveri-coloso (agak dibesar-besarkan) yang menyebabkannya berbeda dengan agama-agama tradisional politeisme. Namun manakala ukuran civilisasi adalah demokrasi dan kesetaraan, agama-agama politeisme harus dengan rendah hati mengakui bahwa sumbangan agama monoteisme bagi penataan struktur masyarakat demokratis jauh lebih baik.
Kembali pada tema Tuhan yang terpisah dari alam materi, konsep agama Jahudi - dan untuk kemudian konsep filsafat Plato – membuka jalan bagi penemuan dasar sains, pengembangan konsep matematika, fisika, kimia, biologi, humaniora dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Konsepsi atom, molekul, dan gravitasi mengedepankan pada manusia suatu pemahaman bahwa dibalik alam materi terdapat alam lain yang tidak tercerap panca indra sehingga kemudian tidak terdefinisikan.
Unsur-unsur non material itu bergerak bebas di alam dan bereksistensi. Manusia tidak pernah, kecuali karena proses analisa dan urai, mengetahui hydrogen dan oksigen dibalik wujud air. Ilmu pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa air yang berbentuk cair sebenarnya adalah senyawa antara atom-atom hydrogen dan oksigen di alam. Jadi dasar materi membentuk materi. Tetapi semua dasar itu tidaklah terlihat. Orang dapat mencium bau, merasakan beda warna dan perspektif, mengetahui beda temperatur. Tetapi pencerapan indrawi atas dasar materi jauh dibawah hasrat manusia untuk mengetahuinya.
Tabel unsure yang mengedepankan 32 bentuk dasar materi yang kita kenal menyisakan keterangan bahwa di alam tersedia lebih banyak unsure yang belum diketahui. Dan selama waktu itu, pencarian takan pernah selesai.
Orang Jahudi secara tepat mengajarkan pada kita bahwa roh memang tersembunyi dari semua yang nampak. Ia bergerak bebas dan berkuasa juga bereksistensi (hadir). Jika roh itu kemudian dipandang sebagai dasar dari segala sebab di alam, pertanyaan kita tidak pernah terjawab.
Tema bahwa penyebab yang utama itu harus merdeka dan dan tidak terbatas oleh ruang, waktu dan media dalam proses kehadirannya dapat dijawab secara gamblang. Paling tidak dengan mengedepankan fakta sejarah kontekstual pembangunan nation Jahudi. Tetapi apabila ruang diskursi kita bergeser ke arah unsure yang tersembunyi di balik materi yang bereksistensi, konsep Tuhan Roh tidak pernah selesai pada sanggahan rasio.
Jadi kita akan menutup bagian pertama dari diskusi ini dengan kesimpulan sementara bahwa Tuhan tidak berasal dari dunia materi, Ia adalah Roh yang merdeka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar