Sumbangan terbesar tradisi Judea bagi civilisasi dan dunia secara umum
adalah konsep beragama yang mereka bangun dari tema yang benar-benar berbeda
dari bangsa manapun. Baik bangsa-bangsa disekitar mereka yakni orang-orang
Mesopotamia dan penduduk Palestina maupun dari kebudayaan besar yang dominan
seperti Mesir. Konsep mereka adalah bahwa manusia tidak diciptakan oleh sebab
utama dari alam materi semisal gunung, air, batu, pohon dan sebagainya.
|
Menurut ajaran Taurat yang disampaikan Musa (Moses) kepada bangsa Israel,
inti dogma-agama adalah bahwa alam semesta, bumi dan manusia diciptakan oleh
Tuhan. Teks yang terjemahannya kita terima dalam kitab Kejadian pasal 2 ayat
1-7 secara singkat menceritakan proses penciptaan sebagai dasar ajaran
agama Jahudi. Teks lebih rinci tentang proses penciptaan itu dapat kita temukan
pada Kejadian 1 ayat 1-31 tetapi waktu penulisannya lebih muda dari teks pada
kejadian pasal 2.
Pada ayat 7 dari kitab Kejadian pasal 2, Alkitab menulis bahwa manusia dibentuk
Tuhan dari debu tanah, lalu Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya,
demikianlah ia menjadi mahluk yang didup. Kita dapat berdebat panjang tentang
proses penciptaan manusia dari debu tanah, terutama jika menyangkut pembuktian
fisika dan kimia.
Ilmu pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa manusia berasal dari sel
hidup yang tumbuh oleh proses interaksi hukum-hukum kimia dan fisika. Bahwa
suatu unsure yang disebut asam amino telah memberi jalan bagi tumbuhnya proses
hidup manusia sejak janin hingga renta. Setiap hari manusia mengalami proses
hidup yang sesungguhnya berasal dari saling meruntuhkan dan membangun antar
sel-sel dan jaringan dalam tubuhnya. Ada ribuan sel mati tiap hari dan ada
ribuan lainnya tumbuh oleh kecukupan nutrisi dan vitamin yang kita konsumsikan.
Oksigen yang kita hirup dari alam membantu metabolisme darah dalam tubuh,
tetapi juga berperan besar dalam proses penghancuran sel-sel tubuh manusia. Dan setiap saat
sinar matahari menghancurkan jaringan kulit manakala orang melintasi jalanan
kota.
Apa yang ingin dikatakan oleh diskripsi diatas adalah bahwa manusia
sesungguhnya adalah bagian dari materi dan dipengaruhi oleh proses alami yang
secara sinergi menumbuhkan dan menghancurkannya. Ungkapan nats kejadian 2 ayat
7 bahwa manusia berasal dari debu tanah secara lurus menggiring kita pada
kesimpulan bahwa manusia diciptakan dari unsure dunia materi.
|
Ada bagian yang cukup unik dari penggunaan istilah debu
dalam teks Indonesia. Jika kita memahami bahwa unsur-unsur dominan pembangun
struktur tubuh sesungguhnya merupakan unsur kecil yang ada di alam, ungkapan
“debu” mungkin dapat diartikan sebagai bagian yang terkecil. Fosfor dan kalsium
sebagai unsur utama pembentuk tulang manusia adalah zat-zat kecil di alam
bebas. Sementara unsur dominan di alam seperti besi atau karbon ada dalam tubuh manusia dalam komposisi yang
lebih kecil.
Sayangnya kenyataan ini sama persis dengan apa yang ditemukan pada hewan.
Jadi orang akan kembali bertanya, apakah proses pembentukan hewan sama persis
dengan proses pembentukan manusia? Jika ia, maka apa yang dikemukakan Darwin
tentu saja benar, bahwa manusia tidak lain dari hasil proses evolusi kehidupan
yang lebih rendah tingkatannya.
Pernyataan ini pada akhirnya hanya menyisakan inti dogmanya. Yakni bukan
dari unsure apa manusia dibentuk, tetapi sebab utama apa yang menjadikan
manusia ada. Dogma yang secara tegas memisahkan antara dunia materi dan dunia
roh.
Pengakuan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan ini diikuti oleh dogma
berikutnya bahwa Tuhan itu esa. Meski dalam teks Judea lama istilah Roh
jarang ditemukan, tetapi maksud dogma itu jelas dan saling berhubungan. Pertama, bahwa manusia
bukan ciptaan materi alami. Kedua, Tuhan – sang pencipta bukanlah materi
alamiah. Ketiga, karena Tuhan bukanlah materi maka Ia tidak dapat
dilambangkan dengan sifat materi seperti perupaan dewa-dewa. Jika dogma Judea
menyebut Tuhan itu esa, ia bukan sekedar menunjukan pelambang pertama
dari bilangan, tetapi juga kesatuan yang utuh dari semua yang tidak dapat
didefinisikan secara materiil.
Jika disebut nol maka yang dimaksud adalah ketiadaan dan tidak
bereksistensi. Namun dengan menyebut satu atau esa, Tuhan dipandang sebagai
pribadi pertama dan utama serta totalitas yang tak terbagi. Dalam konsep
teologi disebut sebagai Causa Prima atau sebab pertama yang menyebabkan
terjadinya segala sesuatu.
Menarik jika kita kemudian melangkah lebih jauh pada pertanyaan mendasar :
“mengapa Tuhan orang Jahudi tidak berasal dari dunia materi?”
Sejarah dogma Jahudi tumbuh dan berkembang lama sebelum sejarah filsafat
Athena. Sebelum lahir konsep soma-sema sophis yang menyebut bahwa
manusia merupakan integral tubuh dan roh, orang Israel telah membangun dam
menjaga kepercayaan kepada Yahweh turun temurun.
Sejak proses eksodus dari Mesir, dogma dan hukum-hukum agama itu dicatat
dan dipraktekan dengan penuh kerelaan. Secara umum dogma dan hukum Taurat
memberi batasan sampai pada titik operasional dari lapangan kehidupan
keagamaan, ekonomi, hukum, hubungan antar masyarakat dan dasar pemerintahan
teokrasi.
Selama itu pula, diterima
pemahaman bahwa Tuhan orang Israel adalah Roh. Bukan bagian dari dunia materi.
Dan berderajad lebih tinggi dari sifat dan bentuk materi. Tuhan Yahweh
berkedudukan diatas dunia materi dan manusia. Ia mahakuasa, maha mengetahui,
serba hadir, adil, dan bijaksana.
Dari peletakan predikat pada subjek Tuhan, jelas tergambar bahwa yang ingin
diungkapkan dari dogma Judea adalah suatu titik pijak pemahaman tentang
“penyebab utama” yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu serta terletak diatas
semua kategori kebaikan manusia.
Pengalaman beragama bangsa Jahudi serta kontekstual kehidupan mereka secara
eksplisit tergambar dari dogma ini. Suatu titik awal sebab yang tidak terbatas.
Dapat terjadi bahwa perjalanan nation ini selama berabad-abad dibawah
penindasan, penjajahan, pembuangan, dan perantauan yang kemudian melahirkan
kerinduan mereka terhadap kemerdekaan, kebebasan, dan kedamaian merasuk dalam
dogma ini. Bahwa Tuhan tidak boleh dibatasi dalam eksistensi materi jika Ia kemudian
menjadi sumber kepercayaan manusia. Dalam eksistensi materi diterima semua
bentuk keterbatasan oleh ruang dan waktu.
Jika Tuhan Israel seperti Tuhan Firaun atau Baal orang Mesopotamia,
bagaimana ia mampu membebaskan manusia dari penderitaan akibat penjajahan,
penindasan dan pembuangan? Sebab Firaun lenyap oleh kematian dan Baal berubah
menjadi patung tak berharga. Jika matahari adalah sumber kehidupan, siapakah
yang menyelamatkan manusia di waktu malam? Atau jika tanah adalah sumber hidup
bagaimanakah ia memberi perlindungan bagi mereka yang mengembara selama ratusan
tahun dan hidup di negeri asing sebagai perantauan?
Ide dasar dogma Jahudi tentu saja bertolak dari tema mereka tentang
kebebasan dan kemerdekaan. Bangsa ini hidup dalam penindasan Mesir selama
puluhan tahun. Mereka pernah dikalahan Babilonia dan sebagian besar warganya
ditawan disana. Mereka juga pernah dijajah Persia di bawah Darius. Dan setelah
penghancuran Jerusalem Tahun 70 masehi, bangsa ini terpencar di berbagai negeri
di Eropa, Asia, dan Amerika selama lebih dari seribu delapan ratus tahun.
Menakjubkan bahwa sinergi dari dogma agama mereka dan cita-cita kemerdekaan
bertahan untuk waktu yang luar biasa panjangnya. Konsep tentang Tuhan yang
merdeka, terpisah dari dunia materi dan serba hadir lahir kembali dalam konsep
agama modern sebagaimana ajaran Kristiani dan Islam. Sebutan agama modern
sebenarnya memberi kesan viveri-coloso (agak dibesar-besarkan) yang
menyebabkannya berbeda dengan agama-agama tradisional politeisme. Namun manakala
ukuran civilisasi adalah demokrasi dan kesetaraan, agama-agama politeisme harus
dengan rendah hati mengakui bahwa sumbangan agama monoteisme bagi penataan
struktur masyarakat demokratis jauh lebih baik.
Kembali pada tema Tuhan yang terpisah dari alam materi, konsep agama Jahudi
- dan untuk kemudian konsep filsafat Plato – membuka jalan bagi penemuan dasar
sains, pengembangan konsep matematika, fisika, kimia, biologi, humaniora dan
ilmu-ilmu sosial lainnya. Konsepsi atom, molekul, dan gravitasi mengedepankan
pada manusia suatu pemahaman bahwa dibalik alam materi terdapat alam lain yang
tidak tercerap panca indra sehingga kemudian tidak terdefinisikan.
Unsur-unsur non material itu bergerak bebas di alam dan bereksistensi.
Manusia tidak pernah, kecuali karena proses analisa dan urai, mengetahui
hydrogen dan oksigen dibalik wujud air. Ilmu pengetahuan mengajarkan kepada
kita bahwa air yang berbentuk cair sebenarnya adalah senyawa antara atom-atom
hydrogen dan oksigen di alam. Jadi dasar materi membentuk materi. Tetapi semua
dasar itu tidaklah terlihat. Orang dapat mencium bau, merasakan beda warna dan
perspektif, mengetahui beda temperatur. Tetapi pencerapan indrawi atas dasar
materi jauh dibawah hasrat manusia untuk mengetahuinya.
Tabel unsure yang mengedepankan 32 bentuk dasar materi yang kita kenal
menyisakan keterangan bahwa di alam tersedia lebih banyak unsure yang belum
diketahui. Dan selama waktu itu, pencarian takan pernah selesai.
Orang Jahudi secara tepat mengajarkan pada kita bahwa roh memang tersembunyi
dari semua yang nampak. Ia bergerak bebas dan berkuasa juga bereksistensi
(hadir). Jika roh itu kemudian dipandang sebagai dasar dari segala sebab di
alam, pertanyaan kita tidak pernah terjawab.
Tema bahwa penyebab yang utama itu harus merdeka dan dan tidak
terbatas oleh ruang, waktu dan media dalam proses kehadirannya dapat dijawab
secara gamblang. Paling tidak dengan mengedepankan fakta sejarah kontekstual
pembangunan nation Jahudi. Tetapi apabila ruang diskursi kita bergeser ke arah
unsure yang tersembunyi di balik materi yang bereksistensi, konsep Tuhan Roh
tidak pernah selesai pada sanggahan rasio.
Jadi kita akan menutup bagian pertama dari diskusi ini dengan kesimpulan
sementara bahwa Tuhan tidak berasal dari dunia materi, Ia adalah Roh yang
merdeka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar