1.
Apa
inti kritik agama Feuerbach?
Ludwig Feuerbach (1804-1872)
mengkritik filsafat roh semesta yang dikonstruksikan G.W.F.Hegel. Inti kritik
Feuerbach adalah bahwa hakekat filsafat Hegel sebenarnya hanyalah kepercayaan
agama yang terselubung. Karena konstruksi Hegel menjelaskan bahwa dibelakang
semua pikiran, pada tingkatan manapun, roh semesta mencapai tujuannya. Hegel
menamakan gejala pencapaian tujuan roh semesta itu dengan kata “kelihaian akal
budi” (die List der Vernunft).
Dibelakang semua keputusan-keputusan manusia dan usaha-usaha manusia bekerja “kelihaian
akal budi” yang menuntun manusia pada tujuan dari akal budi itu sendiri. Inti
pemikian inilah yang ditolak Feuerbach. Bagi Feuerbach, manusia adalah
kenyataan, sebaliknya Allah adalah pikiran manusia.
2.
Apa
yang mau dikatakan Freud dengan menamakan agama sebagai ilusi infantil?
Ilusi infantil adalah ilusi
kekanak-kanakan. Agama disebut Freud sebagai ilusi infantil karena dalam agama
manusia percaya pada dewa-dewa atau Tuhan yang melindungi orang percaya dari
ancaman dan penderitaan. Namun perlindungan itu hanyalah ilusi. Dewa atau Tuhan
bukan sungguh-sungguh melindungi. Perlindungan kekuatan adi manusia itu
hanyalah apa yang diinginkan, bukan apa yang terjadi. Mengharapkan apa yang
diinginkan adalah ciri khas anak kecil. Karenanya, orang beragama dilihat Freud
sebagai manusia dengan ciri kekanak-kanakan. Mereka selalu mengharap apa yang
diinginkan, dan bukan berusaha untuk mencapai keinginan mereka.
3.
Mengapa
Sartre berpendapat bahwa manusia tidak bebas kalau ada Allah?
Keyakinan bahwa adanya Allah
menghancurkan kebebasan manusia bertolak dari pengertian Sartre tentang
manusia. Sartre membedakan dua macam kenyataan. Pertama, berada pada dirinya
sendiri (etre en soi). Suatu realitas
padat objektif. Kedua, berada bagi
dirinya sendiri (etre pour soi).
Kesadaran diri. Kesadaran diri yang hanya dapat ada apabila etre en soi ditolak. Pada akhirnya,
manusia adalah mahluk yang berada bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, manusia
“bertanggung jawab atas diri sendiri”, dan bertanggung jawab pada orang lain.
Dalam kepercayaan akan Allah, manusia kemudian menjadi tidak bertanggung jawab
karena semua hal diserahkan kepada Allah. Tanggung jawab hanya mungkin muncul,
demikian Sartre, jika manusia itu bebas. Adanya Allah justru membuat manusia
tidak bebas karena segalanya telah diatur dan diarahkan. Karenanya, bagi
Sartre, agar manusia bebas, Allah selayaknya ditiadakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar