Jumat, 06 April 2012

BEBERAPA PERTANYAAN DASAR FILSAFAT KETUHANAN 2


1.          Apa inti kritik agama Feuerbach?
Ludwig Feuerbach (1804-1872) mengkritik filsafat roh semesta yang dikonstruksikan G.W.F.Hegel. Inti kritik Feuerbach adalah bahwa hakekat filsafat Hegel sebenarnya hanyalah kepercayaan agama yang terselubung. Karena konstruksi Hegel menjelaskan bahwa dibelakang semua pikiran, pada tingkatan manapun, roh semesta mencapai tujuannya. Hegel menamakan gejala pencapaian tujuan roh semesta itu dengan kata “kelihaian akal budi” (die List der Vernunft). Dibelakang semua keputusan-keputusan manusia dan usaha-usaha manusia bekerja “kelihaian akal budi” yang menuntun manusia pada tujuan dari akal budi itu sendiri. Inti pemikian inilah yang ditolak Feuerbach. Bagi Feuerbach, manusia adalah kenyataan, sebaliknya Allah adalah pikiran manusia.

2.          Apa yang mau dikatakan Freud dengan menamakan agama sebagai ilusi infantil?
Ilusi infantil adalah ilusi kekanak-kanakan. Agama disebut Freud sebagai ilusi infantil karena dalam agama manusia percaya pada dewa-dewa atau Tuhan yang melindungi orang percaya dari ancaman dan penderitaan. Namun perlindungan itu hanyalah ilusi. Dewa atau Tuhan bukan sungguh-sungguh melindungi. Perlindungan kekuatan adi manusia itu hanyalah apa yang diinginkan, bukan apa yang terjadi. Mengharapkan apa yang diinginkan adalah ciri khas anak kecil. Karenanya, orang beragama dilihat Freud sebagai manusia dengan ciri kekanak-kanakan. Mereka selalu mengharap apa yang diinginkan, dan bukan berusaha untuk mencapai keinginan mereka.



3.          Mengapa Sartre berpendapat bahwa manusia tidak bebas kalau ada Allah?
Keyakinan bahwa adanya Allah menghancurkan kebebasan manusia bertolak dari pengertian Sartre tentang manusia. Sartre membedakan dua macam kenyataan. Pertama, berada pada dirinya sendiri (etre en soi). Suatu realitas padat objektif.  Kedua, berada bagi dirinya sendiri (etre pour soi). Kesadaran diri. Kesadaran diri yang hanya dapat ada apabila etre en soi ditolak. Pada akhirnya, manusia adalah mahluk yang berada bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, manusia “bertanggung jawab atas diri sendiri”, dan bertanggung jawab pada orang lain. Dalam kepercayaan akan Allah, manusia kemudian menjadi tidak bertanggung jawab karena semua hal diserahkan kepada Allah. Tanggung jawab hanya mungkin muncul, demikian Sartre, jika manusia itu bebas. Adanya Allah justru membuat manusia tidak bebas karena segalanya telah diatur dan diarahkan. Karenanya, bagi Sartre, agar manusia bebas, Allah selayaknya ditiadakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar