Sabtu, 25 Februari 2012

Shad Shanda


a.  Sistem filsafat India (Shad Shanda)

Filsafat ortodoks India yang disebut Shad Darshana berkembang dari pengetahuan yang dipadatkan melalui Weda, Brăhmana, Upanishad dan Purăna. Kata Darshana bermakna persepsi langsung, pandangan kontemplatif dan penglihatan spiritual. Darshana dengan demikian dapat dilihat sebagai pengetahuan mengenai prinsip tertinggi.
Ada 6 sistem filsafat dalam Shad Darshana. Pertama, Nyăya yang didirikan Gautama. Kedua, Vaisheshika yang didirikan Kănada. Ketiga, Sămkhya yang dirumuskan Kapila. Keempat, Yoga yang dirumuskan Pătaňjali. Kelima, Pŭrva-Mĩmămsă yang dirumuskan Jaimini. Keenam, Vedănta yang dirumuskan Vyăsa.
Secara umum, aliran-aliran filsafat Hindu dapat dibagi atas dua bagian besar. Pertama, adalah aliran Ăstika yang menerima Weda (ortodoks). Kedua, aliran Năstika yang hetorodox. Keenam sistem Shad Darshana masuk dalam golongan Ăstika  yang ortodoks. Sementara aliran Cărvăkas, Buddhis dan Jaina masuk dalam aliran Năstika.
Keenam sistem filsafat Shad Darshana biasanya dikelompokkan atas tiga pasangan. Pasangan pertama adalah Nyăya-Vaisheshika. Pasangan kedua adalah Sămkhya-Yoga. Pasangan terakhir adalah Mĩmămsă- Vedănta.

Ad.1. Filsafat Nyăya-Vaisheshika.
Filsafat Nyăya-Vaisheshika mewakili tipe analistis dan menjunjung akal sehat serta aktivitas sains. Tujuan filsafat ini adalah pemeriksaan kritis atas objek-objek pengetahuan melalui pembuktian logis. Disini dilakukan eksplorasi arti pengalaman guna menyusun teori alam semesta. Teori mana didasarkan atas konsep ruang, waktu, sebab, materi, pikiran, jiwa dan pengetahuan filsafat tradisional.
Secara populer nyăya berarti benar atau lurus. Dalam arti sempit, nyăya berarti penalaran silogistis. Semua pengetahuan dalam nyăya mengimplikasikan 4 kondisi yaitu (1) subjek pengenal (pramătr); (2) objek (pramedya); kondisi dari hal pengenal (pramiti); dan sarana pengetahuan (pramăna). Setiap tindakan kognitif melibatkan tiga unsur yaitu subjek pengenal, isi yang disadari oleh subjek dan hubungan antara keduanya. Bentuk pengetahuan khusus tergantung pada sarana. Ada 4 sarana untuk memperoleh pengetahuan yaitu intuisi (pratyaksha), penyimpulan (anumăna), perbandingan (upamăna), dan bukti verbal (sabda).
Filsafat nyăya melihat keragaman benda yang dialami terbagi atas kelompok-kelompok substansi (dravya). Nyăya-Vaisheshika membagi substansi atas 9 kelompok yaitu (1) tanah atau prithivĩ, (2) air atau ăpah/jala, (3) api atau tejas, (4) udara atau văyu, (5) eter atau ăkăsha, (6) waktu atau kăla, (7) ruang atau dik, (8) diri atau ătman, dan (9) pikiran atau manas. Semua substansi ini tidak bersifat material, karenanya substansi hanya berfungsi sebagai kerangka kerja.
Dalam menganalisis objek individual dalam alam sistem Nyăya-Vaisheshika meletakan suatu objek dalam 6 kategori berbeda yaitu (1) kualitas (guna) yang terdiri dari warna, rasa, bau, sentuhan, angka, ukuran, perbedaan, hubungan, pemisahan, kedekatan, kejauhan, berat, kecairan, kekentalan, suara, pengetahuan, kesenangan, kesakitan, keinginan, kebencian, usaha, kebaikan, keburukan dan kesan; (2) tindakan (Karma) yang dikenali dari gerakan ke atas, ke bawah, mendatar, mengerut, dan mengembang; (3) universalia (Sămănya) yang berfungsi memberi label secara umum pada objek; (4) individualitas atau Visesa yang menunjukkan ciri atau sifat membedakan sebuah objek; (5) hubungan niscaya atau Samavăya yang menunjukkan hakikat hubungan yang mungkin antara kualitas yang inheren baik yang bersifat sementara (samyoga) maupun yang permanen (samavăya); (6) penyangkalan, negasi dan non-eksistensi (Abhăva) sebagai penunjuk sebuah objek yang telah terurai atau larut dalam partikel subatomis, terpisah melalui pelarutan universal (Mahăpralaya) kedalam ketiadaan (nothingness).
Sistem nyăya menerima 4 sumber pengetahuan yaitu persepsi (pratyaksa), penyimpulan (anumăna), analogi (upamăna), dan bukti terpercaya (sabda). Dalam hal membangun penyimpulan, sistem ini mengenal tiga macam penyimpulan yaitu (1) menyimpulkan suatu akibat dari sebab (pũrvavat), menyimpulkan sebuah sebab dari sebuah akibat (seshavat) dan (3) menyimpulkan sebuah asas abstrak dari persepsi (sămănyato drishta).
Argumen silogisme adalah penting dalam sistem nyăya. Kerangka silogisme nyăya terdiri atas (1) proposisi (pratijnă); (2) sebab (hetu); (3) contoh (udăharana); (4) aplikasi pada kasus khusus (upanaya) dan (5) kesimpulan (nigamana).

Ad.2. Filsafat Sănkhya-Yoga.
Seperti halnya sistem filsafat pertama, dalam sistem kedua ini, asimilasi antara Sănkhya dan Yoga menentukan ciri akhirnya. Yoga telah dimulai sejak tahun 3000 SM. Sumber paling awal berasal dari teks-teks Brahmanas yang merupakan bagian pertama Rig-Veda. Sumber berikutnya datang dari periode Upanishad (800-500 SM).
Uphanishad memiliki dua arti. Pertama, duduk di kaki sang guru. Kedua, menghilangkan kebodohan. Aspek yang utama di sini adalah bagaimana menemukan sang diri (self).

Filsafat Timu r2


a.   Masa Weda, Masa Reaksi, Masa Pertengahan dan Masa Modern.

Hinduisme adalah way of life. Hinduisme memiliki prularitas doktrin. Dua ciri utama yang membedakan Hinduisme dari ajaran agama lain adalah (1) Hinduisme tidak memiliki seorang pendiri, dan (2) Hinduisme tidak memiliki tubuh otoritas yang merumuskan batas-batas dogma.
Sejarah kronologis Hindu dapat dibagi atas empat tahap. Pertama, masa Weda (1500 SM-300 M). Kedua, masa reaksi (300 SM-1000M). Ketiga, masa pertengahan (1000-1800). Keempat, masa modern (1800-1974).

Ad.1. Masa Weda.
Masa Weda biasanya dihubungkan dengan mitos Ăryan. Diyakini, orang-orang Arya datang membawa agama yang memuja dan memahami hati para Dewa yang mewujud dalam kekuatan alam. Campuran ajaran Ăryan dengan mentalitas relijius lokal menghasilkan dua aliran keyakinan. Pertama, ritualistik. Kedua, filosofis.
Dalam aliran ritualistik, peran pendeta profesional penting dalam berbagai upacara korban (yajňa). Para pendeta bertugas membacakan mantra yang benar agar pintu alam magis terbuka. Pada aliran filosofis, kesadaran (spirit) akan kehadiran Roh adalah yang terpenting. Roh itu tersembunyi dibelakang semua prularitas.
Dua dewa utama dalam kidung Rig-Weda adalah Indra dan Agni. Indra dalam aspek kosmisnya adalah pembebas dari air bah, sementara pada aspek duniawinya, ia adalah pahlawan orang Ăryan dalam perang melawan kaun non- Ăryan (dăsas). Indra juga dapat dilihat sebagai penguasa alam svarloka. Alam svarloka adalah alam pikiran Ilahi (Devine mind). Ia adalah ada (pure existence). Agni merujuk pada sifat kesalehan. Dalam Weda, Agni adalah dewa terpenting dan universal. Dalam dunia fisik, Agni adalah penelan dan penikmat yang umum. Ia juga adalah pemurni. Ia dipandang sebagai apinya hidup, pemberi semangat, dan pemberi daya atas semua tindakan.
Selain Indra dan Agni, terdapat juga soma. Dewa soma dipercaya sebagai dewa minuman yang menyegarkan. Ia adalah figur bagi kenikmatan ilahi (devine ănanda) dan prinsip kebahagiaan. Dalam Taittirĩya Upanishadănanda dikatakan sebgai atmosfir eteris kenikmatan yang mutlak untuk mempertahankan keberadaan semua.
Dewa lain yang mengesankan dan bertugas di wilayah surgawi adalah Varuna. Varuna merupakan personifikasi udara, terang, gelap dan kemudian lautan. Varuna dipandang sebagai maha baik dan maha pengampun. Ia adalah dewa yang mengampuni dosa pemujanya.

Ad.2. Masa Reaksi.
Seiring berjalannya waktu, Weda sebagai tradisi relijius mendapatkan reaksi dari sekelompok kecil arif-bijakasana. Reaksi populer memunculkan gerakan Buddhisme, Jainisme,Shaivisme dan Vaishnavisme. Sasaran reaksi kaum arif-bijaksana dapat dibagi atas dua bagian yakni eksternal dan internal.
Secara eksternal, reaksi itu memunculkan Buddhisme dan Jainisme (abad 6 SM) yang menolak otoritas tradisi Weda. Penolakan kedua gerakan ini terutama ditujukan pada ajaran tentang tujuan hidup, institusi kasta, dan tahapan kehidupan.
Shaivisme dan Vaishnavisme sukar dilacak asal usulnya. Shaivisme atau agama shiva diperkirakan muncul pada abad 6 SM. Agama ini memusatkan pemujaan pada dewa Rudra, namun kemudian menggantikannya dengan Shiva sebagai dewa non-Ăryan. Dalam Shaivisme, doktrin devosi (bhakti) memegang pernan penting. Vaishnavisme memusatkan pemujaan pada dewa Wisnu. Teks suci kaum Vaishnavisme adalah epos Ramayana. Dalam epos ini diceritakan Rama adalah jelmaan (avatăra) dari dewa Wisnu.
Selain reaksi eksternal di atas, reaksi kaum arif bijaksana juga terjadi dalam lingkungan tradisi Weda. Reaksi internal ini memunculkan teks-teks Upanishad yang mengkritisi tradisi sebelumnya.




Ad.3. Masa Pertengahan.
Pada periode 1000-1800, Hinduisme mendapat tantangan serius dari perkembangan Islam. Tujuh serangan Mahmud Ghazni ke India dengan mudah mematahkan perlawanan orang-orang Hindu. Pada tahun 1192, Muhammad Ghuri membunuh penguasa utama Rajput di Utara India. Kemudian pada tahun 1200, sebuah dinasti budak (slave dynasty) telah mendirikan aturan Islam di India Utara yang bertahan hingga tahun 1858.
Periode 1000-1800 dikenal sebagai periode pertengahan. Pada periode ini muncul para tokoh yang berupaya menjembatani jurang antara Islam dan Hindu. Kabir (abad 15) menulis sekumpulan kidung yang dikenal sebagai bijak. Guru Nanak (1469-1538) menulis teks suci kaum Sikh yang berisi kidung yang didalamnya terdapat tulisan relijius Hindu maupun Islam. Pada masa ini berkembang kehidupan sannyăsin sebagai bentuk pengunduran diri dari kehidupan sosial.
Di India Selatan, reaksi kaum Hindu terhadap Islam menunjukkan ciri kekuatan Weda. Gerakan devosional (bhakti) muncul sebagai ciri perlawanan Selatan dan berhasil memunculkan minat studi terhadap Weda. Gerakan ini mendapat kekuatan terutama oleh Săyana yang menulis komentar-komentar atas Weda dan Shivăji (1627-1680) yang menjadi figur ahli ritual Weda.
Matius Ali (2010:25) mencatat bahwa ciri paling menonjol dari reaksi Hindu atas Islam adalah berkembangnya agama Wisnu (Vaisnavisme). Dua tokoh penting agama Wisnu adalah Vallabha (1479-1531) dan Caitanya (1486-1533). Kedua tokoh ini mengajarkan jalan devosi yang berpusat pada Krishna dan Rădhă.

Ad.3. Masa Modern.
Lepas dari periode pengaruh Islam, Hinduisme mendapat pengaruh dari kebudayaan Barat pada era modern (1800-1947). Masuknya Inggris sebagai penjajah membuat Hinduisme mendapat tantangan baru dari Kristen. Pada saat yang sama ajaran Hindu mendapat ancaman dari sains, sekularisme dan humanisme.
 Seperti halnya pada masa pertengahan, gerakan kembali ke Weda mewarnai perkembangan Hindu di masa ini. Raja Rammohun Roy adalah tokoh reformasi Hindu dalam periode ini yang membenarkan monoteisme pada Vedănta. Reformasi Hindu semakin mendapatkan kekuatannya setelah Swami Dayănanda Saraswatĩ memperkuat keabsolutan Weda.
Kebudayaan Barat memberi ciri pembalikan yang unik pada Hinduisme. Hinduisme sekarang menerima konsep-konsep rasional, modernis, dan reformis serta menekankan pengalaman relijius umat sebagai bagian penting dari cara keberagamaan masa kini.

Filsafat Yimur (1)


Filsafat Timur

I.       Hinduisme
Matius Ali (2010:3) mengutip Klostermair menyebutkan Hinduisme sebagai bersiarah ke Tirupati, sebuah program politik, sebuah filsafat mendalam, sebuah cara hidup, khotbah Bagavad-Gita, hidup asketis, malam ceria dengan melantunkan pujian Reg-Wea di sebuah rumah di Bombay, ritual bagi para Brahmana, festival kuil di Madurai dan mandi di sungai Gangga.
Pendiri Hinduisme tidak diketahui. Titik awalnya merujuk masa pra-sejarah. Hinduisme merupakan tradisi religius utama yang tertua. Menurut tradisi, seseorang tidak dapat menjadi Hindu kecuali ia dilahirkan dalam keluarga Hindu. Hanya orang yang berada dalam kasta dan menjalani ritual wajib tanpa melanggar cara hidup tradisional yang dapat menjadi komunitas Hindu.
Bagi kaum Hindu, Hinduisme lebih dari sekedaragama. Hinduisme dipandang sebagai hukum atau kebenaran abadi (Sanata Dharma). Umat Hindu menyebut tradisi mereka sebagai Vaidika Dharma yang berarti Dharma-nya Weda. Dalam kata Vaidika Dharma terdapat bermacam makna termasuk makna sebagaimana agama di Barat. Namun dalam arti khusus, hukum Weda adalah penerapan hukum universal dalam semua aspek kehidupan seorang Hindu. Weda diturunkan secara lisan selama berabad-abad dan dijaga kerahasiannya dari orang luar.
Orang Hindu membagi masyarakat atas kasta (varnas) dengan asumsi bahwa tiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang secara alami berbeda menurut tempat dimana mereka dilahirkan. Aspek lain dalam masyarakat Hindu adalah ritual korban (yajňa), menghafal dan membaca Weda serta kepercayaan tertentu tentang hidup setelah kematian seperti terungkap dalam kitab Epos dan Purăna.

a.  Asal Hinduisme
Hinduisme yang ada saat ini adalah hasil dinamis perkembangan berbagai aliran religius. Karenanya Hinduisme seringkali disebut “the family of religion”. Sejarawan sepakat bahwa agama ini sudah berlangsung selama 5000 tahun peradaban manusia. Para penulis Weda dikenal sebagai “arya”(bermakna bangsawan atau yang mulia). Terdapat asumsi bahwa arya disini merujuk pada ras Aryans.
Orang-orang Aryans berasal dari lingkar Kutub Utara yakni daerah Skandinavia, Ukraina, Persia, Turki dan menyebar ke Timur Tengah atau Asia Tengah. Tersedia sedikit bukti untuk asumsi ini. Bahasa Rig-Weda mirip dengan bahasa Avesta agama Zoroasterisme, sebuah agama yang muncul di Persia dan memberi pengaruh pada semua keyakinan modern Mesopotamia.
Teks tertua Rig-Weda tidak menyebutkan migrasi leluhur dari luar India. Tetapi ada kisah peperangan melawan suku-suku Barbar dimana Dewa Indra memiliki peran paling sentral dan paling dipuja. Penemuan arkeologis di Harappa dan Mohenjo Daro (Pakistan) menunjukkan jejak suku Aryan yang menghancurkan peradaban Indus pada kurun waktu 1750-1500 SM. Periode penghancuran ini sangat dekat dengan kurun waktu Weda.
Selain Weda sebagai sumber historis utama Hinduisme, tersedia sumber lain. Apa yang dimaksud disini adalah tradisi suku-suku ădivăsĩs yang telah menetap di India sejak zaman batu pada penandaan kira-kira 500.000 tahun lalu. Jejak tradisi ini dapat ditelusuri dalam konsep reinkarnasi yang diterima hingga saat ini.
Unsur ketiga pembentuk Hinduisme adalah budaya Dravida yang berkembang di India selatan yang dipandang lebih tua dari budaya Weda (di India Utara) yang berbahasa Sansekerta. Proses saling tukar nilai antara budaya Weda dengan budaya lokal terus berlangsung dalam periode perkembangan Hinduisme. Penyembahan lingga (simbol phallus yang terkait penyembahan Shiva), praktek yoga (Shiva Mahăyogi) menunjukkan peran kuat tradisi lokal terhadap budaya Weda.


b.  Teks Suci
Weda adalah sumber tunggal bagi Hinduisme. Tradisi Weda dikenal dengan nama sruti. Sruti berarti ajaran yang diterima melalui pendengaran (wahyu). Ajaran Weda dulunya diturunkan kepada para Rishis dalam bentuk suara. Ajaran sruti diperkirakan muncul pada masa 2300 SM atau mungkin lebih awal.
Ketika orang menyebut Weda, maka kata itu memiliki dua makna. Makna luas dan makna sempit.
Secara luas, Weda merujuk pada keempat  Samhită (kumpulan buku) yakni (1) Rig-Veda, (2) Yajur-veda, (3) Samă-Veda dan (4) Atarva-Veda. Setiap weda terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah Brăhmana yang menjelaskan upacara dan mitologi. Bagian kedua adalah Ărayanka merupakan teks dari hukan Ărayanka. Bagian terakhir adalah Upanishad.
Secara sempit, Weda hanya terdiri dari keempat kitab Samhita yang harus dimengerti sehubungan dengan ritual korban (yajňa). Weda bukan sejarah suci atau ajaran suci. Bukan juga catatan pengalaman relijius personal. Weda memberi tekanan penting pada esensi upacara korban.
Rig-Veda memberikan mantra-mantra yakni rumusan sakral yang tidak dapat diubah. Yajur-Veda memberikan ajaran dasar mengenai upacara yang harus diiukuti. Săma-Veda memberikan rahasia nada untuk melantunkan kidung-kidung. Atarva-Veda berisi bermacam mantra dan jimat yang berada di luar wilayah ritual kurban.
Rig-Veda menduduki posisi khusus sebagai sruti (revealed authority). Pembelajar Rig-Veda harus menguasai aturan pengucapan, ritual, tata bahasa etimologi dan astronomi. Sementara Upanishad diperuntukan bagi orang-orang yang mundur dari kehidupan sosial dan aktif mengabdikan diri pada latihan spiritual dan mistis. Upanishad disebut juga Vedănta, yang artinya bagian akhir kitab Weda. Jumlah Upanishad otentik sulit ditentukan. Terjemahan modern biasanya berisi 10 – 15 Upanishads. Ada versi 108 Upanishad dan juga terdapat ratusan Upanishad kecil dan sekunder.
Menurut Des Bhagavan, keempat Weda mencerminkan keempat kebenaran. Rig-Veda menetapkan fokus pada pengenalan (cognition). Yajur-Veda fokus pada tindakan (action). Săma Veda fokus pada keinginan (desire). Atharva-Veda menekankan kesatuan (unity).

c.   Tradisi suci (Smriti)
Kata smriti bermakna “apa yang diingat” atau “tradisi”. Ada sejumlah teks yang berasal dari tradisi serta dihormati dalam kehidupan umat Hindu. Teks smiti berisi aturan-aturan hidup sehingga memiliki efek langsung pada kehidupan daripada teks sruti.
Dalam arti sempit, smriti terdiri dari Dharashăstra yakni teks yang menjelaskan rinci hak dan kewajiban umat Hindu menurut status mereka.
Dalam arti luas, smriti mencakup Itihăsa-Purăna, Epos Rămăyana dan Mahăbhărata bersama 18 Puranas. Dalam teks-teks ini terdapat penuntun tingkah kebenaran menurut jalan spiritual. Posisi paling penting dalam smriti diduduki oleh Manu-smriti. Menurut umat Hindu, Manu adalah nenek moyang seluruh umat manusia yang memberi hukum universal. Manu adalah tokoh yang selamat dalam banjir besar yang membunuh semua manusia.
Selain Manu-Smriti ada sejumlah smriti lainnya seperti Wisnu-smriti  dan Yăjnăvălkya-smriti.


IDE MENURUT PLATON





 

Ide dalam pandangan Platon berbeda dengan ide yang dipahami oleh sebagian besar kita di masa ini. Bertens (1999:129) melihat bahwa pemaknaan ide di dunia modern “berarti suatu gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pikiran saja”. Lebih lanjut Bertens memberikan penegasan :
Akibatnya, bagi orang modern ide merupakan sesuatu yang bersifat subjektif belaka. Lain halnya pada Plato. Bagi dia Ide merupakan sesuatu yang objektif. Ada Ide-ide, terlepas dari subjek yang berpikir. Ide-ide tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Ide-ide tidak tergantung pada pemikiran; sebaliknya, pemikiran tergantung pad aide-ide. Justru karena ada ide-ide yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepada Ide-ide itu.”

Dalam bahasa Bertens, ide Platon bersifat objektif, karena kategori yang dibangunnya tentang ide yang bukan ciptaan pikiran. Ini berbeda dengan pemahaman kita tentang ide yang subjektif. Ide sebagai hasil ciptaan pikiran.
Guna mengenal lebih dalam tentang ide Platon, tugas ini kemudian mencari dan menulis kembali pandangan beberapa sarjana filsafat tentang ide Platon. Tiga sarjana yang dipilih adalah Harun Hadiwijono, K. Bertens dan A.Setyo Wibowo. Penambahan pendapat saya tentang ide Platon pada bagian akhir tugas ini lebih sebagai sebuah komentar atas hasil ringkasan pendapat para sarjana di atas.
Hadiwijono (1980:40) menulis ide Platon dengan kata “idea”. Konsep idea Platon dimata Hadiwijono, merupakan jalan tengah, sekaligus pendamai antara konsep Herakleitos tentang semua yang bergerak dan konsep Parmenides tentang semua yang tetap. Karenanya, Hadiwijono membaca idea Platon sebagai yang tetap, yang tidak berubah dan yang kekal.
Penjelasan tentang idea Platon ini dilanjutkan Hadiwijono (1980:41) dengan menulis :
Jadi ada dua macam dunia, yaitu dunia ini, yang serba berubah dan serba jamak, dimana tiada hal yang sempurna, dunia yang diamati dengan indera, yang bersifat indrawi, dan dunia ide, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (dalam arti ini, bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu, dan yang indah hanya satu saja) yang bersifat kekal.

Ini tidak berarti, lanjut Hadiwijono, bahwa di dunia ide hanya terdapat satu idea saja. Karenanya dilihat dari segi lain, ide juga menyangkut kejamakan. Misalnya dalam ide bunga ada ide yang indah, ada yang baik dan seterusnya. Ide-ide yang menggabung dalam suatu objek disebut koinonia (persekutuan).
Bertens (1999:129-131) menghubungkan ide Platon dengan sifat filsafat Socrates yang aktif. Bagi Platon, setiap esensi mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan konkret. Dengan menghubungkan ide Platon dengan ide-ide dalam ilmu pasti, Bertens menunjukkan dimana letak ide itu sendiri. Segi tiga misalnya, bukanlah sebuah bangun yang konkret, melainkan suatu bangun ideal tentang bidang dengan tiga sisi.
Jadi ide Platon dalam pandangan Bertens diarahkan pada sebuah substansi kesempurnaan. Lebih tepat jika dikatan sebagai sesuatu yang murni. Bertens (1999:131) menulis :
Memang ada suatu Ide “yang bagus” yang sebagian diwujudkan dalam kain ini, dalam patung ini dan dalam semua hal yang disebut bagus Dengan sengaja kami mengatakan “sebagian”, karena kain ini tidak mewujudkan “yang bagus” secara murni. Di satu pihak kain ini masih mempunyai banyak ciri lain lagi selain “bagus” saja (misalnya merah, mahal, buatan luar negeri dan seterusnya)

Bertens selanjutnya mencatat bahwa ide tidak dapat hilang meskipun sesuatu yang konkret hilang. Gambar segitiga yang dihapus dari papan tulis tidak akan menghilangkan ide tentang segi tiga. Karenanya antara ide dengan benda konkrit terdapat hubungan yang erat. Ada tiga antara ide dengan benda-benda jasmani. Pertama, ide hadir dalam benda konkret. Kedua, benda jasmani mengambil bagian dalam ide dalam bentuk partisipasi (metexis). Misalnya satu mobil bagus adalah konkritisasi dari ide satu, ide mobil, dan ide bagus.
Setyo Wibowo (dalam majalah Basis,Desember 2008) menegaskan bahwa idea Platon adalah “sebuah prinsip yang dipostulatkan supaya pikiran kita bisa mengetahui dan menata (bisa mengidentifikasi dan meletakkan pada tempatnya) dunia yang tampak di depan kita. Pilihan definisi di atas dilatari kuat oleh usaha Setyo Wibowo menghindari dua istilah yang digunakan Hadiwijono dan Bertens untuk menentukan space dari ide Platon. Kedua istilah itu adalah dunia dan tempat.
Setyo Wibowo menolak  paham “tempat” bagi ide dengan menyerang konsep dunia inteligibel (noetos topos) yang dicetuskan Philion dari Alexandria sebagai lawan dari tempat yang visible (heratos topos) oleh Plato. Menurutnya, konsep neoplatonico-kristiani yang diusung Philion mengaburkan arti idea Platon. Idea Platon bukanlah sebuah dunia atas tempat berkumpulnya semua konsep dari apa yang nyata. Ini bukan suatu surga bagi kekalan semua yang fana. Idea Plato hanya berisi lima prinsip panduan pemikiran. Lima prinsip itu adalah Being (ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same (sama)  dan Difference (beda).
Bagi saya pribadi, idea Plato lebih mudah dipahami dari konteks Bertens dan Hadiwijono tentang sebuah dunia yang adalah tempat berkumpulnya kesempurnaan dari benda-benda fana. Tetapi seperti yang diingatkan Setyo Wibowo, ide ini sama sekali bukan idea yang dimaksud Plato. Karena jika ada sebuah dunia tempat berkumpul kesempurnaan dari semua yang fana maka tentu ada dunia diatasnya lagi yang merupakan sumber darimana kesempurnaan. Dan diatas dunia yang terakhir tentu masih ada dunia yang adalah inti dari kesempurnaan.
Memahami idea Plato pada akhirnya memang harus dilandaskan pada kelima prinsip yang disebut Setyo Wibowo tentang Being (ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same (sama)  dan Difference (beda). Namun memahami satu buah mobil bagus dengan menyadari ide menjadi, ide diam, ide gerak, ide sama dan ide berbeda secara serentak pada ide satu, ide mobil dan ide bagus yang disebut Hadiwijono sebagai proses koinonia juga bukan persoalan mudah. Idea pada akhirnya memang bukan tempat. Idea adalah, sebagaimana diungkapkan Setyo Wibowo, adalah prinsip, yang saya tambahkan menjadi prinsip yang objektif. Sebuah istilah yang mungkin saya sendiri tidak paham apa maknanya.













DASAR-DASAR FILSAFAT MORAL


ELABORASI TERHADAP PIKIRAN ETIK EMMANUEL KANT
OLEH: H.B.ACTON


           
1.                  Pendahuluan
Filsuf Jerman terkemuka pada abad 18, Christian Wolff (1679-1754) mengelaborasi dan mensistematisasi karya Leibniz yang isinya menantang pandangan kaum empirisme dalam filsafat John Locke. Empirisme mengemukakan bahwa semua pengalaman manusia tentang dunia didasarkan atas pengalaman inderawi. Leibniz mengemukakan tesis penantangan itu dengan berujar “segala sesuatu yang ada dalam intelek berasal dari indera, kecuali intelek itu sendiri.”
Christian Wolff menggunakan prinsip Leibniz di atas dan meneruskan tradisi rasionalisme yang dibangun oleh Anselmus dan Rene Descartes untuk selanjutnya melemparkan problem filsafatnya yakni bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan secara a priori. Maksud Wolff, eksistensi Tuhan dapat ditunjukkan atas dasar proposisi-proposisi yang diketahui benar terlepas dari pengalaman inderawi. Wolff juga meneguhkan pendapat bahwa prinsip-prinsip dasar moralitas diketahui secara a priori dan terlepas dari wahyu ilahi.
Satu-satunya prinsip moral yang rasional hanyalah, demikian Wolff, “kerjakan apapun yang membuat anda dan kondisi anda sendiri serta semua orang yang mengikuti anda menjadi lebih sempurna.” Wolff menerima asumsi-asumsi dasar Soic, sebuah aliran filsafat kuno Yunani yang memandang tujuan terakhir adalah hidup sesuai dengan alam, dan melengkapinya dengan catatan :”kebahagiaan adalah buah dari tindakan, tetapi kebahagiaan itu sendiri buakn tujuan dari tindakan moral.”
Immanuel Kant hidup mengikuti pandangan Wolff di atas, tetapi sekaligus memelihara peitisme kristen Luteran Jerman yang percaya bahwa tuntutan hukum-hukum Tuhan lebih tinggi dari teologia model apa pun. Hidup yang dikehendaki Tuhan bagi kaum peitisme adalah hidup yang sederhana, teratur, hemat, saleh, tekun dalam doa sukarela setiap hari, berderma, dan menundukkan hasrat-hasrat murahan dari jiwa. Campuran dari latar belakang pandangan hidupnya ini nampak jelas dalam penjelasan-penjelasan teori kritisnya yang bermuara pada pembuktian keberadaan Tuhan. Kant menyebut bukti keberadaan Tuhan sebagai lebih a priori dari bukti lain apapun, karena ini tidak mengasumsikan bahwa segala sesuatu secara aktual harus ada.






2.                  Sikap Etik Kant
Kant dibangunkan dari tidur dogmatiknya dalam impian filsafat Wolff setelah membaca tulisan David Hume yang diterbitkan dalam bahasa Jerman. David Hume, memunculkan premis dasar kaum empirisme yang menyebutkan: “pengetahuan manusia didasarkan pada pengalaman inderawi, dan tidak dapat melampauinya.” Hume menjatuhkan palunya di atas kepala kaum rasionalisme dengan sebuah hantaman telak :”setiap peristiwa yang dipandang memiliki sebab tidak didasarkan atas pembenaran rasional tetapi merupakan kebiasaan akan pengharapan yang muncul dan terus saling mengait dari pengalaman-pengalaman masa lalu.”
Dalam kekagumannya pada pandangan Hume, Kant masih menyisakan pertanyaan terakhir atas empirisme: “Dapatkah empirisme konsisten atas pandangannya?” Karena jika empirisme konsisten, maka hukum sebab akibat (casual laws) yang dibangun dalam ilmu alam, yang dianggap bukan deskripsi kejadian alam tapi semata-mata pengalaman subjektif pikiran, pada akhirnya akan menyisakan skeptisime. Apabila obyektifitas saintifik digugat, maka pengetahuan semata-mata adalah pengalaman subjektif yang digeneralisasi.
Dalam bukunya “Kritik der reinen vernunft” Kant mengajukan argumen-argumen a priori yang tidak dikendalikan oleh rujukan empiris untuk membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpulan kontradiktif dapat diberikan. Kant mengemukan dua proposisi terkenal. Pertama, dunia mempunyai permulaan waktu atau dunia tidak mempunyai permulaan waktu. Kedua, ada kebebasan kehendak yang tidak disebabkan atau kebebasan kehendak itu mustahil karena segalanya terjadi sesuai hukum alam. Karena kedua proposisi yang bertentangan ini tidak bisa kedua-duanya benar, maka pasti ada satu proposisi yang tidak sempurna dan tidak lengkap.
Menurut Kant, prinsip-prinsip seperti “setiap peristiwa mempunyai sebab” merupakan prinsip formal yang membawa keteraturan (order) dan kejelasan (inteligibility) kepada kesan-kesan inderawi tetapi tidak mempunyai signifikasi objektif yang terlepas dari kesan inderawi. Kant menamai prinsip formal itu “konsep-konsep pemahaman murni” dan “kategori-kategori”. Baik konsep pemahaman murni dan kategori digunakan kita untuk menafsir kesan-kesan inderawi. Tanpa keduanya, penafsiran kesan inderawi akan berakhir dengan kebingungan dan kesia-siaan.

Minggu, 19 Februari 2012

Kierkegaard dan DIRI SENDIRI



  1. PIJAKAN FILSAFAT HEGEL
Bagi Hegel, pengetahuan tidak diperoleh melalui proses satu arah dari subjek (manusia yang mengetahui) kepada objek (yang diketahui). Pengetahuan dalam konstruksi Hegel bersifat timbal balik (reciprocal). Hegel menyebutnya dialektis. Apa yang saya ketahui dan saya yang mengetahui saling mengembangkan. Pengetahuan, dengan demikian, adalah hasil proses yang terus menerus menjadi (ongoing process), dimana yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known) saling mempengaruhi dan mengembangkan.
Kebenaran, atau pengetahuan sejati tidaklah dapat ditemukan hanya dengan memeriksa situasi atau masa tertentu dalam kehidupan manusia. Pengetahuan sejati sesungguhnya mewujudkan atau memperlihatkan diri hanya melalui proses perkembangan yang terjadi dari dalam perjalanan sejarah. Maka satu-satunya cara untuk mencapai realitas sejati atau kebenaran adalah dengan menggunakan pendekatan historis.
Proses mengetahui ini mengandai dua konsep penting. Pertama adalah absolut (das Absolute). Kedua, adalah roh (Geist). Kata absolute atau mutlak disini tidak berarti “harus” atau tidak dapat ditawar-tawar, melainkan lengkap, penuh dan menyeluruh. Bagi Hegel, yang absolut adalah keseluruahan realitas pada dirinya sendiri, yang dapat diketahui manusia (knowable reality). Mengenal yang absolut berati mengenal realitas yang sebenarnya, bukan semata persepsi atau gagasan mengenai realitas itu. Pengetahuan absolut sendiri bermakna pengetahuan yang bebas dari bias atau distorsi, menyeluruh, tidak tergantung pada konteks atau kondisi tertentu dan tanpa inkonsistensi internal. Pada pengetahuan absolut, proses dialektis berhenti, karena pengetahuan ini tidak dapat lagi dilampaui.
Yang absolut hanya mungkin sepanjang ada roh – yang disebut Hegel:”roh absolut. Roh absolut adalah kesadaran yang mengenal dirinya sendiri. Roh absolut nantinya merupakan pengetahuan manusia, lewat kesadarannya, mengenai realitas sesungguhnya.
Dalam perjalanan sejarah, roh absolut dapat ditemukan dalam setiap peristiwa, baik yang indah atau yang buruk, yang memang harus terjadi (necessary) demi bertahannya roh absolut. Perjalanan Roh dalam sejarah menuju pengetahuan sejati, memang ditempuh melalui proses dialektis.
Sistem filsafat spekulatif Hegel merupakan pertemuan antara kontigensi (contigency) dan keharusan (necessity).
Bertolak dari metafisika yang telah dirintis Immanuel Kant, Hegel menegaskan bahwa proses dialektis rasional dimulai dari pengalaman indrawi langsung yang membentuk pengetahuan manusia secara pasti (sense-certainty).
Refleksi rasional selalu memuat pertimbangan universal atau umum, yang berfungsi untuk mengubah pemahaman kita mengenai immediasi sebagai aspek partikular yang muncul begitu saja dalam, terlepas dari refleksi intelektual. Mediasi rasional selalau mempertahankan isi esensial aspek-aspek pengalaman atau perasaan langsung.Aspek-aspek ini mengalami proses yang disebut Aufhebung, yaiotu dilampau tapi tetap terpelihara dalam proses dialektis. Ketika proses rasional berlanjut, hasilnya semakin lama semain rasional.

SEJARAH SINGKAT FILSAFAT BARAT MODERN


SEJARAH SINGKAT FILSAFAT BARAT MODERN

Sejarah filsafat modern barat, sebagaimana diungkapkan Hamersma (1983:3) adalah buah dari bersemainya benih pemikiran di zaman abad pertengahan dan memuncak pada renaissance. Ciri utama pemikiran modern dilambangkan dengan “subjek” sebagai pusat pemikiran. Subjek yang dimaksud disini adalah manusia. Manusia dianggap sebagai pusat dari segala sesuatu. Manusia, dalam filsafat modern, memaknai dirinya tidak lagi sebagai orang yang bersiarah di dunia (viator mundi), tetapi sebagai pribadi yang menciptakan dunia (faber mundi).
Penemuan mesiu, seni cetak dan kompas telah membawa dunia barat saat itu pada keyakinan yang teguh akan peran mereka sebagai pencipta dunia. Alam pemikiran abad pertengahan yang didominasi otoritas gereja dan negera perlahan semakin ditinggalkan. Substansi pemikiran yang berpusat pada manusia menjadikan manusia sebagai dia yang memikul seluruh kenyataan hidup.
Dalam suasana semacam itulah, lahir filsuf rasionalis Rene Descartes. Descartes mengajukan metode baru dalam pendekatan filsafat yaitu “kesangsian metodis”. Dalam kesangsian metodis, Descartes meragukan segala sesuatu. Ia ragu pada kenyataan disekitarnya. Ragu pada pengetahuannya. Juga ragu pada pengalamannya. Ketika ia ragu pada segala sesuatu, ada satu hal yang tidak dapat diragukan. Hal itu adalah dirinya yang sedang ragu. Dengan demikian jelas bagi Descartes bahwa satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah dia yang meragu. Descartes yang ragu adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Ia ragu, ia berpikir. Ia berpikir, maka ia ada. Adanya dia karena ia berpikir dan sangsi. Descartes menegaskannya dalam kalimat “Cogito, ergo sum”. Je pense, done je suis. Saya berpikir, maka saya ada.
Dalam konstruksi  rasionalisme Descartes, akal budi atau rasio dapat mencapai kepastian akan kebenaran tanpa membutuhkan bantuan apapun. Untuk ini, ada tiga hal yang jelas dan tegas (clare et distincte) yaitu Allah, pemikiran (cogito) dan keluasan (extensio). Pemikiran merupakan bagian dari bidang psikologi. Keluasan adalah bidang dari ilmu alam. Dalam diri manusia, kedua hal itu menyatu. Konsep ini menyebabkan Descartes dipandang sebagai pemikir dualisme. Jiwa dan tubuh adalah dua hal yang terpisah dan hanya menyatu sebagai akibat kerja kelenjar kecil dibawah otak.
Serumpun dengan pemikiran Descartes adalah Baruch Spinoza, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Blaise Pascal. Zaman dimana keempat filsuf ini hidup disebut zaman Barok. Baruch Spinoza memandang substansi alam dan Allah sebagai satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Pengetahuan manusia adalah kontemplasi yang memberi persesuaian dengan keseluruhan, dan sebagai hasilnya, kebebasan dan kebahagiaan.  Sementara bagi Leibniz, tidak ada substansi tunggal. Substansi bersifat banyak. Semua itu dinamai monade-monade. Monade-monade itu seperti jiwa. Ia dapat berpikir dan memiliki kesadaran. Monade-monade itu diatur dalam suatu harmonia praestabilita yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya.
Mengambil keberjarakan dengan para pemikir sebelumnya, Blaise Pascal berada pada posisi anti rasionalisme. Bagi Pascal, hati memiliki alasan-alasan yang sama sekali tidak dapat diketahui akal. Bagi Pascal, keputusan-keputusan yang dibuat manusia lebih banyak adalah penyangkalan atas akal sehat, daripada sebaliknya.
Zaman fajar budi lahir diujung zaman Barok. Para pemikir era fajar budi memandang bahwa alam pemikiran manusia kini telah dewasa.  Manusia kini bertumpu pada rasio. Kata kunci zaman Barok antara lain rasio, empiri, toleransi, dan kebebasan. Dalam sejarah filsafat prancis, pada masa ini lahir filsuf besar seperti Voltaire, d’Alembert, Diderot, dan Rousseau. Jerman melahirkan nama-nama Wolff, Lessing dan Immanuel Kant. Sementara emiprisme Inggris memunculkan tokohnya seperti Locke, Berkeley dan Hume.
Pemikiran empirisme menjadi penanda paling menonjol di zaman fajar budi. Jika rasionalisme menekankan pentingnya rasio dalam memperoleh ilmu pengetahuan, maka empirisme meyakini bahwa pengetahuan hanya dicapai oleh hasil kerja panca indera. Dan karena terbatasnya panca indera manusia, maka pengetahuan juga tidak dapat mencapai kepenuhannya.
Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Lock menjadikan paham empirisme begitu mendominasi periode ini. Isi otak saya, kata Lock terdiri dari ide-ide. Ada ide-ide tunggal (simple idea) dan ada ide-ide jamak (complex idea). Ide yang peertama berhubungan langsung dengan pengalaman inderawi. Ide yang kedua merupakan hubungan dari ide-ide yang pertama. Misalnya sebab, akibat, relasi, syarat dan sebagainya hanya dapat diamati melalui kombinasi ide-ide tunggal.
Empirisme memuncak pada David Hume (1711-1776)/ Hume mengikuti pemikiran Locke dan Berkeley sampai batas dimana empirisme menjadi agak mustahil.  Bagi Hume, pendapat Berkeley tentang subjek yang sedang mengamati dicoret oleh Hume. Bagi Hume, aku sebagai pusat pengalaman, kesadaran dan pikiran hanyalah kesan (impression) semata-mata. Kesan merupakan bahan darimana pengetahuan tersusun. Karena itu, kesadaran manusia bukanlah suatu jiwa. Kesadaran hanyalah deretan kontinyu dari kesan-kesan.
Pemikiran Hume ini menggelisahkan Immanuel Kant (1724- 1804). Bagi Kant empirisme benar. Namun rasionalisme tidak dapat serta merta dibuang. Karenanya, Kant berupa membuat sintesa atas perang dua aliran filsafat ini. Kant menunjukkan bahwa pegetahuan adalah hasil perpaduan antara pengalaman inderawi dan kemampuan pikiran. Ia membagi tiga tingkatan pengetahuan manusia. Pertama, pengetahuan yang berasal dari pengalaman yang disebutnya Sinneswahrnehmung. Kedua, pengetahuan yang berasal dari akal budi yang disebutnya verstand. Ketiga, pengetahuan yang berasal dari intelektual atau rasio yang disebutnya vernunft.
Pengalaman inderawi adalah unsur a-posteriori yaitu segala sesuatu yang ada kemudian. Sementara akal budi merupakan unsur a-priori yang datang sebelum adanya pengalaman inderawi. Pada akhirnya, pengetahuan adalah sintesa antara kedua unsur ini. Bagi Immanuel Kant, pengetahuan tidaklah berasal dari metafisika. Pengetahuan harus digali dari bawah, untuk menciptakan ruang bagi iman. Dalam cara berpikir Kant, manusia bukanlah pengamat atas objek-objek yang diam, melainkan objek-objek yang harus dibawa ke hadapan manusia untuk diamati. Gaya berpikir semacam ini disebut « revolusi Copernican ke arah subjek ».
Dalam hubungannya dengan pemaknaan pengetahuan, Kant bertanya : ‘apa yang harus saya lakukan ?’ Bagi Kant, ada bermacam kaidah tindakan manusia. Kaidahitu antara lain : (1) maksim-maksim yaitu kaidah yang bersifat subjektif, (2) undang-undang yaitu kaidah yang berlaku secara umum objektif, (3) imperatif hipotetis yaitu syarat untuk mencapai sesuatu yang bersifat umum, untuk mendapatkan x orang harus melakukan y terlebih dahulu, (4) imperatif kategoris, berlaku umum, selalu, ada dimana-mana. Tujuan etika bagi Kant adalah kebaikan, dan kebaikan menghasilkan kebahagiaan sempurna.
Periode Kant menutup zaman filsafat fajar budi.  Selanjutnya, filsafat memasuki zaman romantik dimana para filsuf Jerman seperti Johann Gottlieb Fitche (1762-1814) dan Friedrich Wilhem Joseph von Schelling mengembangkan filsafatnya dari pemikiran Kant. Bagi Fitche, idealisme Kant tidak cukup konsekuen. Menurut Fitche bidang an sich filsafat Kant, bidang dimana benda ada pada dirinya sendiri, sama sekali tidak ada. Pada tahap pertama, ada pikiran yang disebut Fitche sebagai tesis. Pikiran tidak dapat memikirkan dirinya sendiri. Maka dengan demikian dibutuhkan objek di luar aku. Objek yang bukan aku ini disebut anti tesis. Jadi subjek yang berpikir dan objek dari pikiran adalah tesis dan anti tesis. Bertautnya subjek dan objek merupakan proses sintesis.
Pemikiran idealisme Jerman memuncak pada George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Pendapat Kant bahwa manusia hanya bias mengenal gejala-gejala diatasi Hegel dengan konsep pemberian struktur oleh kategori-kategori dari akal. Jadi dalam filsafat Hegel, tidak ada yang tidak bisa dikenal. Seluruh system filsafat Hegel terdiri dari “triade-triade” yaitu rangkaian dialektis tiga tahap yaitu tesis, anti tesis dan sistesis. Disini Hegel menggunakan terminologi Fitche. Hegel yang kemudian menyusun suatu sistem filsafat yang terdiri atas ilmu logika, filsafat alam dan filsafat roh. Di dalam ketiga   cabang filsafat ini, hamper semua penyelidikan filasat dirangkum. Bagian paling menggetarkan dari filsafat Hegel terletak pada tesisnya bahwa seluruh kenyataan adalah suatu kejadian besar. Kejadian itu adalah kejadian roh. Roh ini adalah Allah. Bukan Allah sebagai persona, Allah yang sama sekali lain (transendensi), melainkan Allah yang imanen. Sistem Allah hegel hamper mirip dengan Allah Spinoza yang panteistis.
Setelah filsafat Hegel, dunia memasuki zaman modern. Ada bermacam pemikiran filsafat pasca Hegel. Namun yang paling mudah diidentifikasi adalah terpisahnya filsafat menurut teritori negara. Paling tidak ada tiga wilayah. Filsafat Jerman. Filsafat Perancis. Filsafat Anglo-Saxon. Filsafat Jerman melanjutkan sistem filsafat Kant dan Hegel. Sementara filsafat di negeri yang berbahasa Inggris (Anglo –Saxon) mengikuti pemikiran empirisme Hume. Filsafat Perancis hampir selalu menampakkan ciri positivisme Auguste Comte. Namun beberapa filsuf Prancis di era modern seperti Sartre (1905-1980)  tampil sebagai filsuf eksistensialisme yang melanjutkan pekerjaan para filsuf di negeri berbahasa Jerman seperti SǾren Kierkegaard (1838-1855) dan Friedrich Nietszche (1844-1900).

Agnostisisme sebagai Transformator Keberagaman


Agnostisisme sebagai Transformator Keberagaman



Agnostisisme adalah ciri filsafat abad 20. Dalam agnostisisme, penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan dianggap absurd. Tetapi bersamaan dengan itu, hal adanya Tuhan dianggap tidak dapat diketahui secara filosofis. Tuhan, dalam pandangan agnostisisme, berada di luar cakupan filsafat.
Orang percaya kepada Tuhan sangat dihormati. Tetapi hal percaya semacam ini dipandang sebagai selera pribadi. Karenanya, hal seseorang memeluk suatu agama semata-mata berdasar pada selera. Agama kemudian menjadi sangat privat. Akibatnya, pembicaraan agama di ruang publik dipandang tabu. Dalam ruang publik, orang boleh berekspresi, berprofesi dan menjalankan tugas masing-masing tanpa harus disibukan dengan agama dan segala macam isu Ketuhanan.

Dasar Filosofis Agnostisisme
Pandangan agnostisisme dikonstruksikan oleh bangun filsafat Immanuel Kant (1724-1804). Immanuel Kant, hidup dalam lingkungan budaya dan intelektual yang dilukiskan T.Z. Lavine (2002:185-7) sebagai Aufklärung Jerman. Suatu lingkungan yang secara budaya tetap feodal, agrikultural dan rural - berbeda dengan Inggris dan  Prancis yang telah menanjak periode industrialisasi dan urban: serta secara intelektual sangat rasionalistis, dogmatis dan spekulatif. Immanuel Kant sendiri mendasarkan pikirannya pada metafisika Wolff yang rasionalisme.
Rasionalisme lahir sebagai produk renaisance dan menjadi penghubung bagi filsafat abad pertengahan dengan filsafaf modern. Hamersma (1983:3-5) melukiskan bahwa pembentukan rasionalisme didorong oleh semangat faber mundi (orang yang menciptakan dunianya) dimana manusia melihat dirinya sebagai pusat dari kenyataan. Semua filsafat berpusat pada manusia. Pernyataan yang mewakili zaman ini ditemukan dalam diri tokoh rasionalisme termasyur Rene Descartes (1596-1650) yang berujar :”Cogito, ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Descartes memulai filsafatnya dengan kesangsian metodis. Sangsi akan segala hal. Jika saya sangsi akan segala sesuatu, maka tinggal satu hal yang tak dapat saya sangkal, yaitu diri saya yang sangsi. Keraguan terhadap segala hal menyisakan satu saja hal yang pasti yaitu diri saya yang sangsi. Bagi Descartes, saya yang ragu adalah subyek pemikiran. Manusia dengan demikian menjadi subjek atau titik tolak pemikiran.
Descartes, tulis Hamersma (1983:8), menyebut idenya tentang “saya yang ragu” sebagai ide jelas dan tegas. Ide jelas dan tegas bersifat pasti. Akal budi, rasio juga bersifat pasti karena mencapai kepastian tanpa pertolongan apapun.
Para pemikir sesudah Descartes semisal Baruch Spinoza dan Gottfried Wilhelm Leibniz (lihat Hamersma,1983:9-16) sependapat dengan Descartes. Spinoza (1959:1) dalam bukunya yang berjudul Ethics mengemukakan definisi pertamanya bahwa penyebab dalam dirinya sendiri (causa sui) secara esensial meliputi eksistensi dan alam tak dapat dipahami kecuali ia bereksistensi. Dalam proposisi-proposisi selanjutnya terlihat bagaimana Spinoza menjelaskan delapan definisi dasarnya (sebab, benda, substansi, atribut, mode. Tuhan, kebebasan dan keabadian) dengan penjelasan rasional mengikuti metode persamaan matematika. Suatu proyek filsafat yang jelas-jelas menekankan kepercayaan pada akal semata. Leibniz, tidak berbeda dengan Spinoza dalam metodenya untuk menjelaskan teori substansi tak terhingga (monade) yang pada akhirnya bergerak menuju rencana Allah.
Rasionalisme yang berbasis pada ilmu pasti dan matematika berkembang pesat di Eropa. Kecuali ketika memasuki tanah Inggris, rasionalisme mendapat roh baru dalam diri John Locke (1632-1704) yang berujar :”experiece, in that all knowledge is founded” (lihat Hamersma, 1983:18). Tjahjadi (2004:237) menjelaskan pernyataan ini. Sebelum mengalami sesuatu, pikiran atau rasio kita seperti tabula rasa atau kertas kosong. Kertas kosong itu kemudian diisi oleh pengalaman. Dalam hal ini ada dua macam pengalaman. Pertama, pengalaman lahiriah (sense/external sensation) atau disebut pengalaman inderawi yang berhubungan dengan realitas material yang ditangkap panca indera. Kedua, pengalaman batiniah (internal sense/reflection) apabila kesadaran melihat aktivitasnya sendiri. Inilah tonggak kelahiran empirisme. Empirisme mencapai puncaknya dalam diri David Hume (1711-1776). Bagi Hume, kesadaran manusia berasal dari pengalaman. Hume berujar :”I never catch myself at any time without a perception
Tjahjadi (2004:248) mengemukakan bahwa Hume mengajukan teori tentang dua macam persepsi. Pertama, kesan (impressions) yang diperoleh langsung dari pengalaman. Kedua, pandangan (ideas) sebagai hasil asosiasi atas kesan. Pengetahuan manusia didapat dari kedua hal ini. Karenanya pengetahuan hanya seperangkat kepercayaan saja dan bukan kenyataan.
Immanuel Kant, sebagaimana disebut Acton (2003:9-10) dibangunkan dari tidur dogmatiknya setelah membaca buah pikiran Hume yang berjudul Enquiry concerning Human Understanding yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Keyakinan Kant terhadap filsafat Christian Wolff (1679-1754) yang memuat inti kritik Leibniz terhadap pemikiran empirisme Locke tiba-tiba runtuh. Hume menyodorkan pada Kant dan para pengikut rasionalisme sebuah keraguan tentang kepastian. Kepastian tidak dapat dicapai. Pencapaian tertinggi rasio manusia hanya kemungkinan (probability).
Kant kemudian membangun teori pengetahuan baru untuk menjembatani perbedaan pandangan antara rasionalisme dan empirisme. Tjahjadi (2004:281) menyebutnya “Revolusi Copernican” dalam pengetahuan. Bagi Kant, pengenalan segala sesuatu, termasuk pengetahuan berpusat pada subjek, bukan pada objek. Baik rasionalisme maupun empirisme memandang pengetahuan dari sisi objek yang membuat manusia mengetahui. Bagi Kant, yang terutama adalah subjek pengetahuan yaitu manusia itu sendiri. Karenanya teori pengetahuan Kant berawal dari pertanyaan: “Bagaimana pengetahuan terjadi?” Dalam bukunya yang berjudul Kritik der reinen Vernunft, Kant mengurai proses pengetahuan manusia atas tiga tingkatan. Tingkat pertama disebut pemahaman inderawi (Sinneswahrnehmung). Tingkat kedua disebut akal budi (verstand). Tingkat terakhir disebut budi atau intelektual (vernunft).
Tjahjadi (2004:283-6) menjelaskan ketiga tingkatan proses pengetahuan ini. Pada tahap pemahaman inderawi (Sinneswahrnehmung), tiap manusia telah memiliki ruang dan waktu (Raum und Zeit) sebagai unsur apriori yang mendahului pengalaman. Menggunakan ruang dan waktu manusia memahami gejala (fenomena) atau penampakan (eksistensi) dari segala sesuatu. Dibelakang fenomena ini terdapat realitas “benda pada dirinya sendiri” yang disebut das Ding an sich. Tetapi das Ding an sich tidak dapat diamati. Manusia hanya dapat mengamati sintesa dari (1) data inderawi yang ditangkap sebagai materi atau bahan, dan (2) struktur ruang-waktu yang disebut bentuk (formen). Jadi pengalaman manusia tidak lain dari data-data inderawi yang digabungkan dengan ruang dan waktu. Dalam pengalaman manusia menemukan bahwa data inderawi berupa kayu, api, dan air dalam belanga merupakan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi pengalaman “memasak air”.
Pada tahap akal budi (verstand) terjadi pengolahan spontan atas input yang berasal dari pengalaman. Pengolahan spontan ini mungkin terjadi karena adanya kategori-kategori (kategorien). Kategori-kategori ini adalah konsep-konsep fundamental yang membantu manusia menyusun pengetahuannya. Lavine (2002:187) mengkonstruksikan 12 kategori Kant dalam konstruksi sebagai berikut :
Kuantitas
Kualitas
Hubungan
Modalitas
Kesatuan
Pembenaran
Zat-Kejadian
Kemungkinan
Pluralitas
Sangkalan
Sebab-akibat
Aktualitas
Totalitas
Batasan
Tibal balik kausal
Keharusan


Kategori berperan menata pengalaman inderawi untuk dijadikan pengetahuan. Pada tahap ini terjadi sintesis antara (1) unsur aposteriori (unsur yang datang sesudah pengalaman) dan unsur apriori. Melalui penerapan kategori kasualitas (sebab akibat) pengalaman memasak air dapat diukur untuk menetapkan sebuah pengetahuan bahwa air mendidih pada suhu 100 derajat celsius. Pada tingkat ini, Kant menolak prinsip empirisme Hume tentang ketidaksanggupan pengetahuan mencapai kepastian.
Pada tahap budi atau intelektual (vernunft), pengetahuan manusia dirangkum. Intelektual hanya mampu merangkum pengetahuan selama ia dipimpin oleh pandangan jiwa, dunia, dan pandangan Allah. Pandangan-pandangan ini memberikan semacam orientasi atau petunjuk agar intelektualitas dapat menata pengetahuan. Pandangan jiwa (psikologi) membantu intelektual menata gejala batiniah. Pandangan dunia (kosmologi) membantu menata gejala lahiriah. Sedangkan pandangan Allah (teologi) adalah gagasan yang mendasari baik pandangan jiwa maupun dunia. Ketiga pandangan ini, meskipun bertugas menata dan mensistematisasi pengalaman, sama sekali bukan pengalaman. Karenanya, tidak ada pengetahuan rasional tentang jiwa, dunia, dan Allah. Filsafat Kant sekaligus mengakhiri filsafat Skolastik yang mendaku Allah sebagai causa prima (penyebab pertama segala sesuatu). Allah, bagi Kant, bukan objek dari pengalaman yang dikenai kategori kasualitas. Allah tidak dapat dikenal melalui pengetahuan. Bagi Kant, hanya etika, tools bagi kita untuk mengenal Allah.


Melampaui Kant
Suseno (2006:105) mencatat dengan baik pandangan Kant tentang Ketuhanan yang diawali dengan seruan “memikirkan objek-objek yang di luar cakupan pengalaman inderawi hanya menghasilkan kesesatan dan tipuan”. Karena Tuhan terletak di luar pengalaman manusia, maka tidak mungkin menentukan sesuatu secara teoritis tentang eksistensi Tuhan. Bagi Kant, pengetahuan benar-benar terbatas pada objek-objek yang dapat ditangkap indera.
Meski demikian, bagi Kant, masalah Tuhan belum selesai. Hal Tuhan dan Ketuhanan, terletak dalam filsafat moral. Filsafat moral bertolak dari fakta, kenyataan bahwa manusia menemukan kebebasannya berada dibawah suatu kewajiban mutlak. Kewajiban untuk bertindak secara moral. Ini adalah mekanisme hati nurani manusia yang mutlak wajib memilih antara yang baik dan yang jahat. Ini bukan fakta inderawi. Ini ada dalam kesadaran. Kant menyebutnya, fakta akal budi.
Bagaimana Tuhan masuk dalam kesadaran jenis ini? Tuhan masuk melalui kenyataan bahwa manusia secara alami mengharapkan kebahagiaan. Jadi orang bersikap moral demi kebahagiaan. Berhadapan dengan kenyataan sehari-hari bahwa kebahagiaan sempurna itu sulit dicapai, maka bagi Kant, jaminan akan kebahagiaan sempurna itu hanya satu yaitu Allah sendiri.
Jelas disini bahwa kesadaran moral menunjukkan eksistensi Allah. Dengan demikian, moralitas yang kita sadari sebagai rasional hanya mungkin jika ada Allah. Hal ini, ditegaskan berulang kali oleh Kant, bukanlah pengetahuan objektif-teoritis tentang Yang Ilahi. Ini adalah pengetahuan subjektif. Meski demikian, pikiran adalah sebuah realitas objektif yang dituntut oleh hukum praktis. Kepastian praktis itu sedemikian kuat sehingga akal budi teoritis berhak mengandaikannya. Disini, Kant menolak kemungkinan teoritis tentang Allah, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa percaya pada Allah dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
Hanya saja, Kant tidak memperhatikan pengetahuan lain di luar pengetahuan objektif. Kant sendiri membedakan pengetahuan antara objek-objek dan paham-paham transendental. Objek-objek pengetahuan adalah pohon, hukum alam, sejarah, penyakit, dan lain-lain. Paham-paham transendental adalah pengertian-pengertian yang merupakan syarat kemungkinan suatu fakta kesadaran moral manusia.
Keduabelas kategori intelektual di atas, merupakan kenyataan transendental yang sekaligus adalah “syarat kemungkinan pengertian objektif”. Di sini terlihat bahwa dimensi transendental dibatasi secara sempit pada masalah epistemologi. Pada titik ini, Kant benar, bahwa Allah bukanlah sebuah objek yang dapat ditemukan dalam objek-objek lainnya.
Suseno (2006:110) menunjukkan bagaimana Hegel menutupi kelemahan metode Kant ini, dalam apa yang disebut fenomenologi. Tjahjadi (2004:319-20) mencatat bahwa dalam Phänomenologie des Geistes (1870), Hegel menunjukkan bagaimana akal budi (verstand) hanya mampu mengidentifikasikan dan mendefinisikan secara abstrak dan kurang mendalam hal-hal bersifat khusus. Totalitas realitas hanya mampu ditangkap melalui intelektualitas (vernunft). Namun baik akal budi maupun intelektualitas hanyalah kemampuan epistemologis manusia.
Pengetahuan manusia hanya sempurna tercapai dalam proses aufheben (mengangkat, menyimpan, meniadakan, membatalkan). Proses aufheben memungkinkan konsep bergerak dari tesis, anti-tesis menuju pada sintesis. Apa yang lebih dikenal dengan metode dialektika. Inti dari dialektika adalah bahwa seluruh jagad raya dan seluruh realitas, baik material maupun spiritual, adalah bisa dipahami atau bersifat intelektual (vernunftig), sebab dibentuk oleh aktivitas intelektual (vernunft). Dengan demikian apa yang bisa dipahami adalah nyata, dan apa yang nyata bisa dipahami (vernunftig). Proses aufheben tidak lain dari pengembaraan roh (Geistes) untuk memperoleh wujudnya dalam kesadaran diri, yaitu Yang Absolut (das Absolute). Puncak dari dialektika adalah kesadaran yang menyadari dirinya (das sich wissende Wissen).
Fenomenologi Hegel kemudian disempurnakan oleh Scheler dan Husser dan seterusnya oleh Husserl. Dalam Husserl, fenomenologi merupakan jalan “kembali kepada benda atau realitas itu sendiri” (zuruck su den sachen selbst). Relevansi fenomenologi Husserl bagi filsafat Ketuhanan terletak pada konstruksi intuisi eidetik. Intuisi eidetik adalah intuisi yang sekaligus dapat menangkap eidos atau form (bentuk). Secara sederhana, dengan mengingat keterbatasan pemahaman tentangnya, Ketuhanan, dalam fenomenologi dapat ditangkap sebagai konsep yang memiliki esensi dibelakang konsep itu sendiri. Esensi itu kurang dan lebih bersifat kebendaan, pribadi, dan diri.


Perangkap Positivsme Logis dan Rasionalisme Kritis
Persoalan Ketuhanan tidak kemudian melangkah dalam ketenangan konsepsi. Positivisme logis dan rasionalisme kritis, adalah dua jenis filsafat yang menawarkan tantangan bagi persoalan Ketuhanan.
Prinsip verifikasi ditegakkan di atas positivisme logis. Positivisme logis adalah sebuah aliran filsafat yang berupaya mengembalikan filsafat ke bentuk eksak, jelas dan logis sesuai prinsip-prinsip ilmu alam. Menurut positivisme logis hanya ada dua macam kalimat yang mempunyai arti rasional. Rasional disini bermakna dapat ditunjukkan benar atau salah. Kedua macam kalimat itu adalah: (1) kalimat murni analitis dan (2) pernyataan empiris. Kalimat murni analitis terdapat dalam kalimat matematika seperti 7+2=9. Sementara pernyataan empiris adalah semua bentuk pernyataan yang dapat dicek kebenarannya melalui pengamatan inderawi seperti kalimat “meja itu bundar”. Pernyataan empiris diuji kebenarannya dengan prinsip verifikasi. Suseno (2006:113) menulis, prinsip verifikasi menyatakan bahwa hanya pernyataan yang dapat dicek kebenarannya secara empiris mempunyai makna.