Sabtu, 25 Februari 2012

Shad Shanda


a.  Sistem filsafat India (Shad Shanda)

Filsafat ortodoks India yang disebut Shad Darshana berkembang dari pengetahuan yang dipadatkan melalui Weda, Brăhmana, Upanishad dan Purăna. Kata Darshana bermakna persepsi langsung, pandangan kontemplatif dan penglihatan spiritual. Darshana dengan demikian dapat dilihat sebagai pengetahuan mengenai prinsip tertinggi.
Ada 6 sistem filsafat dalam Shad Darshana. Pertama, Nyăya yang didirikan Gautama. Kedua, Vaisheshika yang didirikan Kănada. Ketiga, Sămkhya yang dirumuskan Kapila. Keempat, Yoga yang dirumuskan Pătaňjali. Kelima, Pŭrva-Mĩmămsă yang dirumuskan Jaimini. Keenam, Vedănta yang dirumuskan Vyăsa.
Secara umum, aliran-aliran filsafat Hindu dapat dibagi atas dua bagian besar. Pertama, adalah aliran Ăstika yang menerima Weda (ortodoks). Kedua, aliran Năstika yang hetorodox. Keenam sistem Shad Darshana masuk dalam golongan Ăstika  yang ortodoks. Sementara aliran Cărvăkas, Buddhis dan Jaina masuk dalam aliran Năstika.
Keenam sistem filsafat Shad Darshana biasanya dikelompokkan atas tiga pasangan. Pasangan pertama adalah Nyăya-Vaisheshika. Pasangan kedua adalah Sămkhya-Yoga. Pasangan terakhir adalah Mĩmămsă- Vedănta.

Ad.1. Filsafat Nyăya-Vaisheshika.
Filsafat Nyăya-Vaisheshika mewakili tipe analistis dan menjunjung akal sehat serta aktivitas sains. Tujuan filsafat ini adalah pemeriksaan kritis atas objek-objek pengetahuan melalui pembuktian logis. Disini dilakukan eksplorasi arti pengalaman guna menyusun teori alam semesta. Teori mana didasarkan atas konsep ruang, waktu, sebab, materi, pikiran, jiwa dan pengetahuan filsafat tradisional.
Secara populer nyăya berarti benar atau lurus. Dalam arti sempit, nyăya berarti penalaran silogistis. Semua pengetahuan dalam nyăya mengimplikasikan 4 kondisi yaitu (1) subjek pengenal (pramătr); (2) objek (pramedya); kondisi dari hal pengenal (pramiti); dan sarana pengetahuan (pramăna). Setiap tindakan kognitif melibatkan tiga unsur yaitu subjek pengenal, isi yang disadari oleh subjek dan hubungan antara keduanya. Bentuk pengetahuan khusus tergantung pada sarana. Ada 4 sarana untuk memperoleh pengetahuan yaitu intuisi (pratyaksha), penyimpulan (anumăna), perbandingan (upamăna), dan bukti verbal (sabda).
Filsafat nyăya melihat keragaman benda yang dialami terbagi atas kelompok-kelompok substansi (dravya). Nyăya-Vaisheshika membagi substansi atas 9 kelompok yaitu (1) tanah atau prithivĩ, (2) air atau ăpah/jala, (3) api atau tejas, (4) udara atau văyu, (5) eter atau ăkăsha, (6) waktu atau kăla, (7) ruang atau dik, (8) diri atau ătman, dan (9) pikiran atau manas. Semua substansi ini tidak bersifat material, karenanya substansi hanya berfungsi sebagai kerangka kerja.
Dalam menganalisis objek individual dalam alam sistem Nyăya-Vaisheshika meletakan suatu objek dalam 6 kategori berbeda yaitu (1) kualitas (guna) yang terdiri dari warna, rasa, bau, sentuhan, angka, ukuran, perbedaan, hubungan, pemisahan, kedekatan, kejauhan, berat, kecairan, kekentalan, suara, pengetahuan, kesenangan, kesakitan, keinginan, kebencian, usaha, kebaikan, keburukan dan kesan; (2) tindakan (Karma) yang dikenali dari gerakan ke atas, ke bawah, mendatar, mengerut, dan mengembang; (3) universalia (Sămănya) yang berfungsi memberi label secara umum pada objek; (4) individualitas atau Visesa yang menunjukkan ciri atau sifat membedakan sebuah objek; (5) hubungan niscaya atau Samavăya yang menunjukkan hakikat hubungan yang mungkin antara kualitas yang inheren baik yang bersifat sementara (samyoga) maupun yang permanen (samavăya); (6) penyangkalan, negasi dan non-eksistensi (Abhăva) sebagai penunjuk sebuah objek yang telah terurai atau larut dalam partikel subatomis, terpisah melalui pelarutan universal (Mahăpralaya) kedalam ketiadaan (nothingness).
Sistem nyăya menerima 4 sumber pengetahuan yaitu persepsi (pratyaksa), penyimpulan (anumăna), analogi (upamăna), dan bukti terpercaya (sabda). Dalam hal membangun penyimpulan, sistem ini mengenal tiga macam penyimpulan yaitu (1) menyimpulkan suatu akibat dari sebab (pũrvavat), menyimpulkan sebuah sebab dari sebuah akibat (seshavat) dan (3) menyimpulkan sebuah asas abstrak dari persepsi (sămănyato drishta).
Argumen silogisme adalah penting dalam sistem nyăya. Kerangka silogisme nyăya terdiri atas (1) proposisi (pratijnă); (2) sebab (hetu); (3) contoh (udăharana); (4) aplikasi pada kasus khusus (upanaya) dan (5) kesimpulan (nigamana).

Ad.2. Filsafat Sănkhya-Yoga.
Seperti halnya sistem filsafat pertama, dalam sistem kedua ini, asimilasi antara Sănkhya dan Yoga menentukan ciri akhirnya. Yoga telah dimulai sejak tahun 3000 SM. Sumber paling awal berasal dari teks-teks Brahmanas yang merupakan bagian pertama Rig-Veda. Sumber berikutnya datang dari periode Upanishad (800-500 SM).
Uphanishad memiliki dua arti. Pertama, duduk di kaki sang guru. Kedua, menghilangkan kebodohan. Aspek yang utama di sini adalah bagaimana menemukan sang diri (self).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar