Sabtu, 25 Februari 2012

Filsafat Timu r2


a.   Masa Weda, Masa Reaksi, Masa Pertengahan dan Masa Modern.

Hinduisme adalah way of life. Hinduisme memiliki prularitas doktrin. Dua ciri utama yang membedakan Hinduisme dari ajaran agama lain adalah (1) Hinduisme tidak memiliki seorang pendiri, dan (2) Hinduisme tidak memiliki tubuh otoritas yang merumuskan batas-batas dogma.
Sejarah kronologis Hindu dapat dibagi atas empat tahap. Pertama, masa Weda (1500 SM-300 M). Kedua, masa reaksi (300 SM-1000M). Ketiga, masa pertengahan (1000-1800). Keempat, masa modern (1800-1974).

Ad.1. Masa Weda.
Masa Weda biasanya dihubungkan dengan mitos Ăryan. Diyakini, orang-orang Arya datang membawa agama yang memuja dan memahami hati para Dewa yang mewujud dalam kekuatan alam. Campuran ajaran Ăryan dengan mentalitas relijius lokal menghasilkan dua aliran keyakinan. Pertama, ritualistik. Kedua, filosofis.
Dalam aliran ritualistik, peran pendeta profesional penting dalam berbagai upacara korban (yajňa). Para pendeta bertugas membacakan mantra yang benar agar pintu alam magis terbuka. Pada aliran filosofis, kesadaran (spirit) akan kehadiran Roh adalah yang terpenting. Roh itu tersembunyi dibelakang semua prularitas.
Dua dewa utama dalam kidung Rig-Weda adalah Indra dan Agni. Indra dalam aspek kosmisnya adalah pembebas dari air bah, sementara pada aspek duniawinya, ia adalah pahlawan orang Ăryan dalam perang melawan kaun non- Ăryan (dăsas). Indra juga dapat dilihat sebagai penguasa alam svarloka. Alam svarloka adalah alam pikiran Ilahi (Devine mind). Ia adalah ada (pure existence). Agni merujuk pada sifat kesalehan. Dalam Weda, Agni adalah dewa terpenting dan universal. Dalam dunia fisik, Agni adalah penelan dan penikmat yang umum. Ia juga adalah pemurni. Ia dipandang sebagai apinya hidup, pemberi semangat, dan pemberi daya atas semua tindakan.
Selain Indra dan Agni, terdapat juga soma. Dewa soma dipercaya sebagai dewa minuman yang menyegarkan. Ia adalah figur bagi kenikmatan ilahi (devine ănanda) dan prinsip kebahagiaan. Dalam Taittirĩya Upanishadănanda dikatakan sebgai atmosfir eteris kenikmatan yang mutlak untuk mempertahankan keberadaan semua.
Dewa lain yang mengesankan dan bertugas di wilayah surgawi adalah Varuna. Varuna merupakan personifikasi udara, terang, gelap dan kemudian lautan. Varuna dipandang sebagai maha baik dan maha pengampun. Ia adalah dewa yang mengampuni dosa pemujanya.

Ad.2. Masa Reaksi.
Seiring berjalannya waktu, Weda sebagai tradisi relijius mendapatkan reaksi dari sekelompok kecil arif-bijakasana. Reaksi populer memunculkan gerakan Buddhisme, Jainisme,Shaivisme dan Vaishnavisme. Sasaran reaksi kaum arif-bijaksana dapat dibagi atas dua bagian yakni eksternal dan internal.
Secara eksternal, reaksi itu memunculkan Buddhisme dan Jainisme (abad 6 SM) yang menolak otoritas tradisi Weda. Penolakan kedua gerakan ini terutama ditujukan pada ajaran tentang tujuan hidup, institusi kasta, dan tahapan kehidupan.
Shaivisme dan Vaishnavisme sukar dilacak asal usulnya. Shaivisme atau agama shiva diperkirakan muncul pada abad 6 SM. Agama ini memusatkan pemujaan pada dewa Rudra, namun kemudian menggantikannya dengan Shiva sebagai dewa non-Ăryan. Dalam Shaivisme, doktrin devosi (bhakti) memegang pernan penting. Vaishnavisme memusatkan pemujaan pada dewa Wisnu. Teks suci kaum Vaishnavisme adalah epos Ramayana. Dalam epos ini diceritakan Rama adalah jelmaan (avatăra) dari dewa Wisnu.
Selain reaksi eksternal di atas, reaksi kaum arif bijaksana juga terjadi dalam lingkungan tradisi Weda. Reaksi internal ini memunculkan teks-teks Upanishad yang mengkritisi tradisi sebelumnya.




Ad.3. Masa Pertengahan.
Pada periode 1000-1800, Hinduisme mendapat tantangan serius dari perkembangan Islam. Tujuh serangan Mahmud Ghazni ke India dengan mudah mematahkan perlawanan orang-orang Hindu. Pada tahun 1192, Muhammad Ghuri membunuh penguasa utama Rajput di Utara India. Kemudian pada tahun 1200, sebuah dinasti budak (slave dynasty) telah mendirikan aturan Islam di India Utara yang bertahan hingga tahun 1858.
Periode 1000-1800 dikenal sebagai periode pertengahan. Pada periode ini muncul para tokoh yang berupaya menjembatani jurang antara Islam dan Hindu. Kabir (abad 15) menulis sekumpulan kidung yang dikenal sebagai bijak. Guru Nanak (1469-1538) menulis teks suci kaum Sikh yang berisi kidung yang didalamnya terdapat tulisan relijius Hindu maupun Islam. Pada masa ini berkembang kehidupan sannyăsin sebagai bentuk pengunduran diri dari kehidupan sosial.
Di India Selatan, reaksi kaum Hindu terhadap Islam menunjukkan ciri kekuatan Weda. Gerakan devosional (bhakti) muncul sebagai ciri perlawanan Selatan dan berhasil memunculkan minat studi terhadap Weda. Gerakan ini mendapat kekuatan terutama oleh Săyana yang menulis komentar-komentar atas Weda dan Shivăji (1627-1680) yang menjadi figur ahli ritual Weda.
Matius Ali (2010:25) mencatat bahwa ciri paling menonjol dari reaksi Hindu atas Islam adalah berkembangnya agama Wisnu (Vaisnavisme). Dua tokoh penting agama Wisnu adalah Vallabha (1479-1531) dan Caitanya (1486-1533). Kedua tokoh ini mengajarkan jalan devosi yang berpusat pada Krishna dan Rădhă.

Ad.3. Masa Modern.
Lepas dari periode pengaruh Islam, Hinduisme mendapat pengaruh dari kebudayaan Barat pada era modern (1800-1947). Masuknya Inggris sebagai penjajah membuat Hinduisme mendapat tantangan baru dari Kristen. Pada saat yang sama ajaran Hindu mendapat ancaman dari sains, sekularisme dan humanisme.
 Seperti halnya pada masa pertengahan, gerakan kembali ke Weda mewarnai perkembangan Hindu di masa ini. Raja Rammohun Roy adalah tokoh reformasi Hindu dalam periode ini yang membenarkan monoteisme pada Vedănta. Reformasi Hindu semakin mendapatkan kekuatannya setelah Swami Dayănanda Saraswatĩ memperkuat keabsolutan Weda.
Kebudayaan Barat memberi ciri pembalikan yang unik pada Hinduisme. Hinduisme sekarang menerima konsep-konsep rasional, modernis, dan reformis serta menekankan pengalaman relijius umat sebagai bagian penting dari cara keberagamaan masa kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar