a. Masa Weda, Masa Reaksi, Masa Pertengahan dan Masa Modern.
Hinduisme adalah way of life. Hinduisme memiliki prularitas doktrin. Dua ciri utama
yang membedakan Hinduisme dari ajaran agama lain adalah (1) Hinduisme tidak
memiliki seorang pendiri, dan (2) Hinduisme tidak memiliki tubuh otoritas yang
merumuskan batas-batas dogma.
Sejarah kronologis Hindu dapat dibagi atas empat
tahap. Pertama, masa Weda (1500 SM-300 M). Kedua, masa reaksi (300 SM-1000M).
Ketiga, masa pertengahan (1000-1800). Keempat, masa modern (1800-1974).
Ad.1. Masa Weda.
Masa Weda biasanya dihubungkan dengan mitos Ăryan.
Diyakini, orang-orang Arya datang membawa agama yang memuja dan memahami hati
para Dewa yang mewujud dalam kekuatan alam. Campuran ajaran Ăryan dengan
mentalitas relijius lokal menghasilkan dua aliran keyakinan. Pertama, ritualistik.
Kedua, filosofis.
Dalam aliran ritualistik, peran pendeta
profesional penting dalam berbagai upacara korban (yajňa). Para pendeta
bertugas membacakan mantra yang benar agar pintu alam magis terbuka. Pada
aliran filosofis, kesadaran (spirit)
akan kehadiran Roh adalah yang terpenting. Roh itu tersembunyi dibelakang semua
prularitas.
Dua dewa utama dalam kidung Rig-Weda adalah Indra dan Agni. Indra dalam aspek
kosmisnya adalah pembebas dari air bah, sementara pada aspek duniawinya, ia
adalah pahlawan orang Ăryan dalam perang melawan kaun non- Ăryan (dăsas). Indra juga dapat dilihat sebagai
penguasa alam svarloka. Alam svarloka adalah alam pikiran Ilahi (Devine mind). Ia adalah ada (pure existence). Agni merujuk pada sifat
kesalehan. Dalam Weda, Agni adalah dewa terpenting dan universal. Dalam dunia
fisik, Agni adalah penelan dan penikmat yang umum. Ia juga adalah pemurni. Ia
dipandang sebagai apinya hidup, pemberi semangat, dan pemberi daya atas semua
tindakan.
Selain Indra dan Agni, terdapat juga soma. Dewa soma dipercaya sebagai dewa
minuman yang menyegarkan. Ia adalah figur bagi kenikmatan ilahi (devine ănanda) dan prinsip kebahagiaan.
Dalam Taittirĩya Upanishad, ănanda
dikatakan sebgai atmosfir eteris kenikmatan yang mutlak untuk mempertahankan
keberadaan semua.
Dewa lain yang mengesankan dan bertugas di wilayah
surgawi adalah Varuna. Varuna merupakan personifikasi udara,
terang, gelap dan kemudian lautan. Varuna dipandang sebagai maha baik dan maha
pengampun. Ia adalah dewa yang mengampuni dosa pemujanya.
Ad.2. Masa Reaksi.
Seiring berjalannya waktu, Weda sebagai tradisi
relijius mendapatkan reaksi dari sekelompok kecil arif-bijakasana. Reaksi
populer memunculkan gerakan Buddhisme,
Jainisme,Shaivisme dan Vaishnavisme.
Sasaran reaksi kaum arif-bijaksana dapat dibagi atas dua bagian yakni eksternal
dan internal.
Secara eksternal, reaksi itu memunculkan Buddhisme
dan Jainisme (abad 6 SM) yang menolak otoritas tradisi Weda. Penolakan kedua
gerakan ini terutama ditujukan pada ajaran tentang tujuan hidup, institusi
kasta, dan tahapan kehidupan.
Shaivisme dan Vaishnavisme
sukar dilacak asal usulnya. Shaivisme
atau agama shiva diperkirakan muncul pada abad 6 SM. Agama ini memusatkan
pemujaan pada dewa Rudra, namun kemudian menggantikannya dengan Shiva sebagai
dewa non-Ăryan. Dalam Shaivisme, doktrin devosi (bhakti) memegang pernan
penting. Vaishnavisme memusatkan
pemujaan pada dewa Wisnu. Teks suci kaum Vaishnavisme
adalah epos Ramayana. Dalam epos ini diceritakan Rama adalah jelmaan (avatăra)
dari dewa Wisnu.
Selain reaksi eksternal di atas, reaksi kaum arif
bijaksana juga terjadi dalam lingkungan tradisi Weda. Reaksi internal ini memunculkan
teks-teks Upanishad yang mengkritisi tradisi sebelumnya.
Ad.3. Masa Pertengahan.
Pada periode 1000-1800, Hinduisme mendapat
tantangan serius dari perkembangan Islam. Tujuh serangan Mahmud Ghazni ke India
dengan mudah mematahkan perlawanan orang-orang Hindu. Pada tahun 1192, Muhammad
Ghuri membunuh penguasa utama Rajput di Utara India. Kemudian pada tahun 1200,
sebuah dinasti budak (slave dynasty) telah
mendirikan aturan Islam di India Utara yang bertahan hingga tahun 1858.
Periode 1000-1800 dikenal sebagai periode
pertengahan. Pada periode ini muncul para tokoh yang berupaya menjembatani
jurang antara Islam dan Hindu. Kabir (abad 15) menulis sekumpulan kidung yang
dikenal sebagai bijak. Guru Nanak (1469-1538) menulis teks suci kaum Sikh yang
berisi kidung yang didalamnya terdapat tulisan relijius Hindu maupun Islam.
Pada masa ini berkembang kehidupan sannyăsin sebagai bentuk pengunduran diri
dari kehidupan sosial.
Di India Selatan, reaksi kaum Hindu terhadap Islam
menunjukkan ciri kekuatan Weda. Gerakan devosional (bhakti) muncul sebagai ciri perlawanan Selatan dan berhasil
memunculkan minat studi terhadap Weda. Gerakan ini mendapat kekuatan terutama
oleh Săyana yang menulis
komentar-komentar atas Weda dan Shivăji (1627-1680) yang menjadi figur ahli
ritual Weda.
Matius Ali (2010:25) mencatat bahwa ciri paling
menonjol dari reaksi Hindu atas Islam adalah berkembangnya agama Wisnu
(Vaisnavisme). Dua tokoh penting agama Wisnu adalah Vallabha (1479-1531) dan
Caitanya (1486-1533). Kedua tokoh ini mengajarkan jalan devosi yang berpusat pada
Krishna dan Rădhă.
Ad.3. Masa Modern.
Lepas dari periode pengaruh Islam, Hinduisme
mendapat pengaruh dari kebudayaan Barat pada era modern (1800-1947). Masuknya
Inggris sebagai penjajah membuat Hinduisme mendapat tantangan baru dari
Kristen. Pada saat yang sama ajaran Hindu mendapat ancaman dari sains,
sekularisme dan humanisme.
Seperti
halnya pada masa pertengahan, gerakan kembali ke Weda mewarnai perkembangan
Hindu di masa ini. Raja Rammohun Roy adalah tokoh reformasi Hindu dalam periode
ini yang membenarkan monoteisme pada Vedănta. Reformasi Hindu semakin
mendapatkan kekuatannya setelah Swami Dayănanda Saraswatĩ memperkuat
keabsolutan Weda.
Kebudayaan Barat memberi ciri pembalikan yang unik
pada Hinduisme. Hinduisme sekarang menerima konsep-konsep rasional, modernis,
dan reformis serta menekankan pengalaman relijius umat sebagai bagian penting
dari cara keberagamaan masa kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar