Putri saya yang berusia 10
tahun berulang kali mengambil kertas ringkasannya. Memperhatikan lagi apa yang
sudah ditulisnya disana. Memandang ke depan. Menerawang. Mencoba mengingat.
Aku tidak tahu untuk keberapa
kalinya ia melakukan aktivitas yang sama. Satu hal yang aku mengerti adalah,
ujian hari ini akan memberikan padanya rintangan kesulitan.
Sebagai orang tua, aku cemas
dengan keadaan ini. Tapi aku tidak memiliki banyak pilihan selain memberinya
semangat. Karena mungkin itulah kekuatan terakhir yang dimiliki oleh orang tua
seperti aku yang memiliki anak perempuan berusia 10 tahun dan duduk di kelas 5
sekolah dasar. Kekuatan untuk mendamaikan apa yang aku ajarkan di ruamah, dan
apa yang diterimanya di tempat pendidikan.
Menimbang Beban
Persoalan pendidikan di negeri
kita bukan semata soal aktivitas mobilisasi anak usia wajib belajar untuk duduk
di bangku sekolah. Bukan pula soal kemampuan ekonomi berbanding biaya sekolah
yang melangit. Lebih dari itu, pendidikan berkait dengan soal isi dan jiwa
pembelajaran yang dirangkum dalam kurikulum.
Kurikulum pendidikan sekolah
dasar, khusus untuk bidang sosial, adalah persoalan paling serius. Beberapa
bidang studi berisi materi yang hampir sama seperti Pendidikan Kewarganegaraan
dan Ilmu Pengetahuan sosial. Meskipun memiliki buku berbeda, isi materi kedua
pelajaran ini hampir sama. Dalam kasus seperti ini, guru tidak memiliki banyak
pilihan selain daripada memberikan semua materi kepada anak didiknya. Alih-alih
menguasai materi, siswa, seperti juga anak saya, dihinggapi rasa cemas akibat
banyaknya materi yang harus dikuasai.
Beberapa siswa yang cerdas
tentu tidak mengalami kendala berarti. Mereka dengan mudah menguasai situasi hanya
dengan membaca daftar isi dari beberapa mata pelajaran. Mereka akan menemukan
adanya pengulangan materi terjadi di sana. Sayangnya, hanya ada sangat sedikit
siswa yang membaca daftar isi saat menerima buku pelajaran. Bahkan mungkin
saja, siswa seperti itu tidak ada sama sekali.
Itu artinya, kondisi tiap siswa
saat menghadapi buku pelajaran selalu sama. Memulai dari bab awal. Menyudahi
pada bab akhir. Kesulitan dan kemudahan muncul bersama-sama dalam setiap
halaman buku pelajaran.
Masalah isi buku lebih rumit
lagi. Niels Mulder (2000) menulis, di sekolah, bayangan yang jelas tentang
individu, sejarah dan masyarakat dipasangkan pada pikiran siswa. Ini adalah gagasan
untuk menjamin disiapkankannya partisipasi siswa dalam kehidupan sosial yang
luas. Buku bacaan sekolah, tulis Mulder lebih lanjut, melayani tujuan ini dan merupakan
bagian paling penting dari budaya negara bangsa, yang mencerminkan “mentalitas
dominan” sebagaimana dilihat dan diinterpretasikan oleh pemerintah dan
birokrasi.
Persis pada titik penilaian
Mulder, persoalan saya dan mata pelajaran sosial di tingkat sekolah dasar
dimulai. Paling tidak terdapat empat permasalahan dalam pendidikan ilmu-ilmu
sosial di basis sekolah dasar. Pertama, data sejarah tentang perkembangan
kerajaan-kerajaan nusantara adalah data lama yang tidak dapat lagi diacu. Banjir
buku sejarah dalam tahun-tahun terakhir ini menggugah kesadaran kita bahwa
sebagian besar dari apa yang dahulu kita ketahui berasal dari sisa-sisa slogan
revolusi kemerdekaan. Sejarah bukan lagi bermakna nasionalisme buta. Sejarah
adalah penemuan diri yang sesungguhnya dalam bentang ruang dan waktu.
Kedua, data sejarah
perkembangan agama yang tidak lagi valid. Isi sejarah perkembangan agama di
negeri kita dikritik oleh Onghokham sebagai campuran antara mitos dan fakta. Kisah
tentang para penyebar agama dan pengaruh mereka di Indonesia telah diketahui
lebih dikukuhkan oleh dongeng daripada data sejarah.
Ketiga, data sejarah
perjuangan pahlawan yang berisi beberapa tokoh baru yang sama sekali tidak
ditemukan dalam sumber sejarah lain yang datang dari luar. Dalam kasus
munculnya pahlawan-pahlawan baru ini nampak sekali upaya negara untuk
memperluas klaim penguasaan atas wilayah.
Terakhir, kita memang
membutuhkan para pembelajar sejarah yang kritis pada sejarah itu sendiri. Mitos
memang harus dibuang dari sejarah. Termasuk sejarah bangsa Indonesia.
Kepareng. Tabik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar