Jumat, 06 April 2012

MEMBERSIHKAN MITOS DARI SEJARAH


 
Putri saya yang berusia 10 tahun berulang kali mengambil kertas ringkasannya. Memperhatikan lagi apa yang sudah ditulisnya disana. Memandang ke depan. Menerawang. Mencoba mengingat.
Aku tidak tahu untuk keberapa kalinya ia melakukan aktivitas yang sama. Satu hal yang aku mengerti adalah, ujian hari ini akan memberikan padanya rintangan kesulitan.
Sebagai orang tua, aku cemas dengan keadaan ini. Tapi aku tidak memiliki banyak pilihan selain memberinya semangat. Karena mungkin itulah kekuatan terakhir yang dimiliki oleh orang tua seperti aku yang memiliki anak perempuan berusia 10 tahun dan duduk di kelas 5 sekolah dasar. Kekuatan untuk mendamaikan apa yang aku ajarkan di ruamah, dan apa yang diterimanya di tempat pendidikan.

Menimbang Beban
Persoalan pendidikan di negeri kita bukan semata soal aktivitas mobilisasi anak usia wajib belajar untuk duduk di bangku sekolah. Bukan pula soal kemampuan ekonomi berbanding biaya sekolah yang melangit. Lebih dari itu, pendidikan berkait dengan soal isi dan jiwa pembelajaran yang dirangkum dalam kurikulum.
Kurikulum pendidikan sekolah dasar, khusus untuk bidang sosial, adalah persoalan paling serius. Beberapa bidang studi berisi materi yang hampir sama seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan sosial. Meskipun memiliki buku berbeda, isi materi kedua pelajaran ini hampir sama. Dalam kasus seperti ini, guru tidak memiliki banyak pilihan selain daripada memberikan semua materi kepada anak didiknya. Alih-alih menguasai materi, siswa, seperti juga anak saya, dihinggapi rasa cemas akibat banyaknya materi yang harus dikuasai.
Beberapa siswa yang cerdas tentu tidak mengalami kendala berarti. Mereka dengan mudah menguasai situasi hanya dengan membaca daftar isi dari beberapa mata pelajaran. Mereka akan menemukan adanya pengulangan materi terjadi di sana. Sayangnya, hanya ada sangat sedikit siswa yang membaca daftar isi saat menerima buku pelajaran. Bahkan mungkin saja, siswa seperti itu tidak ada sama sekali.
Itu artinya, kondisi tiap siswa saat menghadapi buku pelajaran selalu sama. Memulai dari bab awal. Menyudahi pada bab akhir. Kesulitan dan kemudahan muncul bersama-sama dalam setiap halaman buku pelajaran.
Masalah isi buku lebih rumit lagi. Niels Mulder (2000) menulis, di sekolah, bayangan yang jelas tentang individu, sejarah dan masyarakat dipasangkan pada pikiran siswa. Ini adalah gagasan untuk menjamin disiapkankannya partisipasi siswa dalam kehidupan sosial yang luas. Buku bacaan sekolah, tulis Mulder lebih lanjut, melayani tujuan ini dan merupakan bagian paling penting dari budaya negara bangsa, yang mencerminkan “mentalitas dominan” sebagaimana dilihat dan diinterpretasikan oleh pemerintah dan birokrasi.
Persis pada titik penilaian Mulder, persoalan saya dan mata pelajaran sosial di tingkat sekolah dasar dimulai. Paling tidak terdapat empat permasalahan dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial di basis sekolah dasar. Pertama, data sejarah tentang perkembangan kerajaan-kerajaan nusantara adalah data lama yang tidak dapat lagi diacu. Banjir buku sejarah dalam tahun-tahun terakhir ini menggugah kesadaran kita bahwa sebagian besar dari apa yang dahulu kita ketahui berasal dari sisa-sisa slogan revolusi kemerdekaan. Sejarah bukan lagi bermakna nasionalisme buta. Sejarah adalah penemuan diri yang sesungguhnya dalam bentang ruang dan waktu.
Kedua, data sejarah perkembangan agama yang tidak lagi valid. Isi sejarah perkembangan agama di negeri kita dikritik oleh Onghokham sebagai campuran antara mitos dan fakta. Kisah tentang para penyebar agama dan pengaruh mereka di Indonesia telah diketahui lebih dikukuhkan oleh dongeng daripada data sejarah.
Ketiga, data sejarah perjuangan pahlawan yang berisi beberapa tokoh baru yang sama sekali tidak ditemukan dalam sumber sejarah lain yang datang dari luar. Dalam kasus munculnya pahlawan-pahlawan baru ini nampak sekali upaya negara untuk memperluas klaim penguasaan atas wilayah.
Terakhir, kita memang membutuhkan para pembelajar sejarah yang kritis pada sejarah itu sendiri. Mitos memang harus dibuang dari sejarah. Termasuk sejarah bangsa Indonesia.
Kepareng. Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar