Agnostisisme sebagai
Transformator Keberagaman
Agnostisisme adalah ciri
filsafat abad 20. Dalam agnostisisme, penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan
dianggap absurd. Tetapi bersamaan dengan itu, hal adanya Tuhan dianggap tidak
dapat diketahui secara filosofis. Tuhan, dalam pandangan agnostisisme, berada
di luar cakupan filsafat.
Orang percaya kepada Tuhan
sangat dihormati. Tetapi hal percaya semacam ini dipandang sebagai selera
pribadi. Karenanya, hal seseorang memeluk suatu agama semata-mata berdasar pada
selera. Agama kemudian menjadi sangat privat. Akibatnya, pembicaraan agama di
ruang publik dipandang tabu. Dalam ruang publik, orang boleh berekspresi,
berprofesi dan menjalankan tugas masing-masing tanpa harus disibukan dengan
agama dan segala macam isu Ketuhanan.
Dasar Filosofis Agnostisisme
Pandangan agnostisisme
dikonstruksikan oleh bangun filsafat Immanuel Kant (1724-1804). Immanuel Kant,
hidup dalam lingkungan budaya dan intelektual yang dilukiskan T.Z. Lavine
(2002:185-7) sebagai Aufklärung
Jerman. Suatu lingkungan yang secara budaya tetap feodal, agrikultural dan
rural - berbeda dengan Inggris dan
Prancis yang telah menanjak periode industrialisasi dan urban: serta
secara intelektual sangat rasionalistis, dogmatis dan spekulatif. Immanuel Kant
sendiri mendasarkan pikirannya pada metafisika Wolff yang rasionalisme.
Rasionalisme lahir sebagai
produk renaisance dan menjadi penghubung bagi filsafat abad pertengahan dengan
filsafaf modern. Hamersma (1983:3-5) melukiskan bahwa pembentukan rasionalisme
didorong oleh semangat faber mundi
(orang yang menciptakan dunianya) dimana manusia melihat dirinya sebagai pusat
dari kenyataan. Semua filsafat berpusat pada manusia. Pernyataan yang mewakili
zaman ini ditemukan dalam diri tokoh rasionalisme termasyur Rene Descartes
(1596-1650) yang berujar :”Cogito, ergo
sum” (saya berpikir, maka saya ada). Descartes memulai filsafatnya dengan
kesangsian metodis. Sangsi akan segala hal. Jika saya sangsi akan segala sesuatu,
maka tinggal satu hal yang tak dapat saya sangkal, yaitu diri saya yang sangsi.
Keraguan terhadap segala hal menyisakan satu saja hal yang pasti yaitu diri
saya yang sangsi. Bagi Descartes, saya yang ragu adalah subyek pemikiran.
Manusia dengan demikian menjadi subjek atau titik tolak pemikiran.
Descartes, tulis Hamersma
(1983:8), menyebut idenya tentang “saya yang ragu” sebagai ide jelas dan tegas.
Ide jelas dan tegas bersifat pasti. Akal budi, rasio juga bersifat pasti karena
mencapai kepastian tanpa pertolongan apapun.
Para pemikir sesudah Descartes
semisal Baruch Spinoza dan Gottfried Wilhelm Leibniz (lihat Hamersma,1983:9-16)
sependapat dengan Descartes. Spinoza (1959:1) dalam bukunya yang berjudul Ethics mengemukakan definisi pertamanya
bahwa penyebab dalam dirinya sendiri (causa
sui) secara esensial meliputi eksistensi dan alam tak dapat dipahami
kecuali ia bereksistensi. Dalam proposisi-proposisi selanjutnya terlihat
bagaimana Spinoza menjelaskan delapan definisi dasarnya (sebab, benda, substansi,
atribut, mode. Tuhan, kebebasan dan keabadian) dengan penjelasan rasional
mengikuti metode persamaan matematika. Suatu proyek filsafat yang jelas-jelas
menekankan kepercayaan pada akal semata. Leibniz, tidak berbeda dengan Spinoza
dalam metodenya untuk menjelaskan teori substansi tak terhingga (monade) yang pada akhirnya bergerak
menuju rencana Allah.
Rasionalisme yang berbasis
pada ilmu pasti dan matematika berkembang pesat di Eropa. Kecuali ketika
memasuki tanah Inggris, rasionalisme mendapat roh baru dalam diri John Locke
(1632-1704) yang berujar :”experiece, in
that all knowledge is founded” (lihat Hamersma, 1983:18). Tjahjadi
(2004:237) menjelaskan pernyataan ini. Sebelum mengalami sesuatu, pikiran atau
rasio kita seperti tabula rasa atau kertas kosong. Kertas kosong itu kemudian
diisi oleh pengalaman. Dalam hal ini ada dua macam pengalaman. Pertama,
pengalaman lahiriah (sense/external
sensation) atau disebut pengalaman inderawi yang berhubungan dengan
realitas material yang ditangkap panca indera. Kedua, pengalaman batiniah (internal sense/reflection) apabila
kesadaran melihat aktivitasnya sendiri. Inilah tonggak kelahiran empirisme.
Empirisme mencapai puncaknya dalam diri David Hume (1711-1776). Bagi Hume,
kesadaran manusia berasal dari pengalaman. Hume berujar :”I never catch myself at any time without a perception”
Tjahjadi (2004:248)
mengemukakan bahwa Hume mengajukan teori tentang dua macam persepsi. Pertama,
kesan (impressions) yang diperoleh langsung dari pengalaman. Kedua, pandangan (ideas) sebagai hasil asosiasi atas
kesan. Pengetahuan manusia didapat dari kedua hal ini. Karenanya pengetahuan
hanya seperangkat kepercayaan saja dan bukan kenyataan.
Immanuel Kant, sebagaimana
disebut Acton (2003:9-10) dibangunkan dari tidur dogmatiknya setelah membaca
buah pikiran Hume yang berjudul Enquiry
concerning Human Understanding yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman.
Keyakinan Kant terhadap filsafat Christian Wolff (1679-1754) yang memuat inti
kritik Leibniz terhadap pemikiran empirisme Locke tiba-tiba runtuh. Hume
menyodorkan pada Kant dan para pengikut rasionalisme sebuah keraguan tentang
kepastian. Kepastian tidak dapat dicapai. Pencapaian tertinggi rasio manusia
hanya kemungkinan (probability).
Kant kemudian membangun teori
pengetahuan baru untuk menjembatani perbedaan pandangan antara rasionalisme dan
empirisme. Tjahjadi (2004:281) menyebutnya “Revolusi Copernican” dalam
pengetahuan. Bagi Kant, pengenalan segala sesuatu, termasuk pengetahuan
berpusat pada subjek, bukan pada objek. Baik rasionalisme maupun empirisme
memandang pengetahuan dari sisi objek yang membuat manusia mengetahui. Bagi
Kant, yang terutama adalah subjek pengetahuan yaitu manusia itu sendiri.
Karenanya teori pengetahuan Kant berawal dari pertanyaan: “Bagaimana
pengetahuan terjadi?” Dalam bukunya yang berjudul Kritik der reinen Vernunft,
Kant mengurai proses pengetahuan manusia atas tiga tingkatan. Tingkat pertama
disebut pemahaman inderawi (Sinneswahrnehmung).
Tingkat kedua disebut akal budi (verstand).
Tingkat terakhir disebut budi atau intelektual (vernunft).
Tjahjadi (2004:283-6)
menjelaskan ketiga tingkatan proses pengetahuan ini. Pada tahap pemahaman
inderawi (Sinneswahrnehmung), tiap
manusia telah memiliki ruang dan waktu (Raum
und Zeit) sebagai unsur apriori yang mendahului pengalaman. Menggunakan
ruang dan waktu manusia memahami gejala (fenomena) atau penampakan (eksistensi)
dari segala sesuatu. Dibelakang fenomena ini terdapat realitas “benda pada
dirinya sendiri” yang disebut das Ding an sich. Tetapi das Ding an sich tidak dapat diamati.
Manusia hanya dapat mengamati sintesa dari (1) data inderawi yang ditangkap
sebagai materi atau bahan, dan (2) struktur ruang-waktu yang disebut bentuk
(formen). Jadi pengalaman manusia tidak lain dari data-data inderawi yang
digabungkan dengan ruang dan waktu. Dalam pengalaman manusia menemukan bahwa
data inderawi berupa kayu, api, dan air dalam belanga merupakan bahan-bahan
yang dibutuhkan bagi pengalaman “memasak air”.
Pada tahap akal budi (verstand) terjadi pengolahan spontan
atas input yang berasal dari pengalaman. Pengolahan spontan ini mungkin terjadi
karena adanya kategori-kategori (kategorien).
Kategori-kategori ini adalah konsep-konsep fundamental yang membantu manusia
menyusun pengetahuannya. Lavine (2002:187) mengkonstruksikan 12 kategori Kant
dalam konstruksi sebagai berikut :
Kuantitas
|
Kualitas
|
Hubungan
|
Modalitas
|
Kesatuan
|
Pembenaran
|
Zat-Kejadian
|
Kemungkinan
|
Pluralitas
|
Sangkalan
|
Sebab-akibat
|
Aktualitas
|
Totalitas
|
Batasan
|
Tibal balik kausal
|
Keharusan
|
Kategori berperan menata pengalaman
inderawi untuk dijadikan pengetahuan. Pada tahap ini terjadi sintesis antara
(1) unsur aposteriori (unsur yang
datang sesudah pengalaman) dan unsur apriori.
Melalui penerapan kategori kasualitas (sebab akibat) pengalaman memasak air
dapat diukur untuk menetapkan sebuah pengetahuan bahwa air mendidih pada suhu
100 derajat celsius. Pada tingkat ini, Kant menolak prinsip empirisme Hume
tentang ketidaksanggupan pengetahuan mencapai kepastian.
Pada tahap budi atau
intelektual (vernunft), pengetahuan manusia
dirangkum. Intelektual hanya mampu merangkum pengetahuan selama ia dipimpin
oleh pandangan jiwa, dunia, dan pandangan Allah. Pandangan-pandangan ini
memberikan semacam orientasi atau petunjuk agar intelektualitas dapat menata
pengetahuan. Pandangan jiwa (psikologi) membantu intelektual menata gejala
batiniah. Pandangan dunia (kosmologi) membantu menata gejala lahiriah.
Sedangkan pandangan Allah (teologi) adalah gagasan yang mendasari baik
pandangan jiwa maupun dunia. Ketiga pandangan ini, meskipun bertugas menata dan
mensistematisasi pengalaman, sama sekali bukan pengalaman. Karenanya, tidak ada
pengetahuan rasional tentang jiwa, dunia, dan Allah. Filsafat Kant sekaligus
mengakhiri filsafat Skolastik yang mendaku Allah sebagai causa prima (penyebab pertama segala sesuatu). Allah, bagi Kant,
bukan objek dari pengalaman yang dikenai kategori kasualitas. Allah tidak dapat
dikenal melalui pengetahuan. Bagi Kant, hanya etika, tools bagi kita untuk mengenal Allah.
Melampaui Kant
Suseno (2006:105) mencatat dengan
baik pandangan Kant tentang Ketuhanan yang diawali dengan seruan “memikirkan
objek-objek yang di luar cakupan pengalaman inderawi hanya menghasilkan
kesesatan dan tipuan”. Karena Tuhan terletak di luar pengalaman manusia, maka
tidak mungkin menentukan sesuatu secara teoritis tentang eksistensi Tuhan. Bagi
Kant, pengetahuan benar-benar terbatas pada objek-objek yang dapat ditangkap
indera.
Meski demikian, bagi Kant,
masalah Tuhan belum selesai. Hal Tuhan dan Ketuhanan, terletak dalam filsafat
moral. Filsafat moral bertolak dari fakta, kenyataan bahwa manusia menemukan
kebebasannya berada dibawah suatu kewajiban mutlak. Kewajiban untuk bertindak
secara moral. Ini adalah mekanisme hati nurani manusia yang mutlak wajib
memilih antara yang baik dan yang jahat. Ini bukan fakta inderawi. Ini ada
dalam kesadaran. Kant menyebutnya, fakta akal budi.
Bagaimana Tuhan masuk dalam
kesadaran jenis ini? Tuhan masuk melalui kenyataan bahwa manusia secara alami
mengharapkan kebahagiaan. Jadi orang bersikap moral demi kebahagiaan.
Berhadapan dengan kenyataan sehari-hari bahwa kebahagiaan sempurna itu sulit
dicapai, maka bagi Kant, jaminan akan kebahagiaan sempurna itu hanya satu yaitu
Allah sendiri.
Jelas disini bahwa kesadaran
moral menunjukkan eksistensi Allah. Dengan demikian, moralitas yang kita sadari
sebagai rasional hanya mungkin jika ada Allah. Hal ini, ditegaskan berulang
kali oleh Kant, bukanlah pengetahuan objektif-teoritis tentang Yang Ilahi. Ini
adalah pengetahuan subjektif. Meski demikian, pikiran adalah sebuah realitas
objektif yang dituntut oleh hukum praktis. Kepastian praktis itu sedemikian
kuat sehingga akal budi teoritis berhak mengandaikannya. Disini, Kant menolak
kemungkinan teoritis tentang Allah, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa
percaya pada Allah dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
Hanya saja, Kant tidak
memperhatikan pengetahuan lain di luar pengetahuan objektif. Kant sendiri
membedakan pengetahuan antara objek-objek dan paham-paham transendental.
Objek-objek pengetahuan adalah pohon, hukum alam, sejarah, penyakit, dan
lain-lain. Paham-paham transendental adalah pengertian-pengertian yang
merupakan syarat kemungkinan suatu fakta kesadaran moral manusia.
Keduabelas kategori
intelektual di atas, merupakan kenyataan transendental yang sekaligus adalah
“syarat kemungkinan pengertian objektif”. Di sini terlihat bahwa dimensi
transendental dibatasi secara sempit pada masalah epistemologi. Pada titik ini,
Kant benar, bahwa Allah bukanlah sebuah objek yang dapat ditemukan dalam
objek-objek lainnya.
Suseno (2006:110) menunjukkan
bagaimana Hegel menutupi kelemahan metode Kant ini, dalam apa yang disebut
fenomenologi. Tjahjadi (2004:319-20) mencatat bahwa dalam Phänomenologie des Geistes (1870), Hegel menunjukkan bagaimana akal
budi (verstand) hanya mampu
mengidentifikasikan dan mendefinisikan secara abstrak dan kurang mendalam
hal-hal bersifat khusus. Totalitas realitas hanya mampu ditangkap melalui
intelektualitas (vernunft). Namun
baik akal budi maupun intelektualitas hanyalah kemampuan epistemologis manusia.
Pengetahuan manusia hanya
sempurna tercapai dalam proses aufheben
(mengangkat, menyimpan, meniadakan, membatalkan). Proses aufheben memungkinkan konsep bergerak dari tesis, anti-tesis menuju
pada sintesis. Apa yang lebih dikenal dengan metode dialektika. Inti dari
dialektika adalah bahwa seluruh jagad raya dan seluruh realitas, baik material
maupun spiritual, adalah bisa dipahami atau bersifat intelektual (vernunftig), sebab dibentuk oleh
aktivitas intelektual (vernunft).
Dengan demikian apa yang bisa dipahami adalah nyata, dan apa yang nyata bisa
dipahami (vernunftig). Proses aufheben
tidak lain dari pengembaraan roh (Geistes)
untuk memperoleh wujudnya dalam kesadaran diri, yaitu Yang Absolut (das Absolute). Puncak dari dialektika
adalah kesadaran yang menyadari dirinya (das
sich wissende Wissen).
Fenomenologi Hegel kemudian
disempurnakan oleh Scheler dan Husser dan seterusnya oleh Husserl. Dalam
Husserl, fenomenologi merupakan jalan “kembali kepada benda atau realitas itu
sendiri” (zuruck su den sachen selbst).
Relevansi fenomenologi Husserl bagi filsafat Ketuhanan terletak pada konstruksi
intuisi eidetik. Intuisi eidetik
adalah intuisi yang sekaligus dapat menangkap eidos atau form (bentuk).
Secara sederhana, dengan mengingat keterbatasan pemahaman tentangnya,
Ketuhanan, dalam fenomenologi dapat ditangkap sebagai konsep yang memiliki
esensi dibelakang konsep itu sendiri. Esensi itu kurang dan lebih bersifat
kebendaan, pribadi, dan diri.
Perangkap Positivsme Logis dan Rasionalisme Kritis
Persoalan Ketuhanan tidak
kemudian melangkah dalam ketenangan konsepsi. Positivisme logis dan
rasionalisme kritis, adalah dua jenis filsafat yang menawarkan tantangan bagi
persoalan Ketuhanan.
Prinsip verifikasi ditegakkan
di atas positivisme logis. Positivisme logis adalah sebuah aliran filsafat yang
berupaya mengembalikan filsafat ke bentuk eksak, jelas dan logis sesuai
prinsip-prinsip ilmu alam. Menurut positivisme logis hanya ada dua macam
kalimat yang mempunyai arti rasional. Rasional disini bermakna dapat
ditunjukkan benar atau salah. Kedua macam kalimat itu adalah: (1) kalimat murni
analitis dan (2) pernyataan empiris. Kalimat murni analitis terdapat dalam
kalimat matematika seperti 7+2=9. Sementara pernyataan empiris adalah semua
bentuk pernyataan yang dapat dicek kebenarannya melalui pengamatan inderawi
seperti kalimat “meja itu bundar”. Pernyataan empiris diuji kebenarannya dengan
prinsip verifikasi. Suseno (2006:113) menulis, prinsip verifikasi menyatakan
bahwa hanya pernyataan yang dapat dicek kebenarannya secara empiris mempunyai
makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar