Minggu, 19 Februari 2012

Agnostisisme sebagai Transformator Keberagaman


Agnostisisme sebagai Transformator Keberagaman



Agnostisisme adalah ciri filsafat abad 20. Dalam agnostisisme, penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan dianggap absurd. Tetapi bersamaan dengan itu, hal adanya Tuhan dianggap tidak dapat diketahui secara filosofis. Tuhan, dalam pandangan agnostisisme, berada di luar cakupan filsafat.
Orang percaya kepada Tuhan sangat dihormati. Tetapi hal percaya semacam ini dipandang sebagai selera pribadi. Karenanya, hal seseorang memeluk suatu agama semata-mata berdasar pada selera. Agama kemudian menjadi sangat privat. Akibatnya, pembicaraan agama di ruang publik dipandang tabu. Dalam ruang publik, orang boleh berekspresi, berprofesi dan menjalankan tugas masing-masing tanpa harus disibukan dengan agama dan segala macam isu Ketuhanan.

Dasar Filosofis Agnostisisme
Pandangan agnostisisme dikonstruksikan oleh bangun filsafat Immanuel Kant (1724-1804). Immanuel Kant, hidup dalam lingkungan budaya dan intelektual yang dilukiskan T.Z. Lavine (2002:185-7) sebagai Aufklärung Jerman. Suatu lingkungan yang secara budaya tetap feodal, agrikultural dan rural - berbeda dengan Inggris dan  Prancis yang telah menanjak periode industrialisasi dan urban: serta secara intelektual sangat rasionalistis, dogmatis dan spekulatif. Immanuel Kant sendiri mendasarkan pikirannya pada metafisika Wolff yang rasionalisme.
Rasionalisme lahir sebagai produk renaisance dan menjadi penghubung bagi filsafat abad pertengahan dengan filsafaf modern. Hamersma (1983:3-5) melukiskan bahwa pembentukan rasionalisme didorong oleh semangat faber mundi (orang yang menciptakan dunianya) dimana manusia melihat dirinya sebagai pusat dari kenyataan. Semua filsafat berpusat pada manusia. Pernyataan yang mewakili zaman ini ditemukan dalam diri tokoh rasionalisme termasyur Rene Descartes (1596-1650) yang berujar :”Cogito, ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Descartes memulai filsafatnya dengan kesangsian metodis. Sangsi akan segala hal. Jika saya sangsi akan segala sesuatu, maka tinggal satu hal yang tak dapat saya sangkal, yaitu diri saya yang sangsi. Keraguan terhadap segala hal menyisakan satu saja hal yang pasti yaitu diri saya yang sangsi. Bagi Descartes, saya yang ragu adalah subyek pemikiran. Manusia dengan demikian menjadi subjek atau titik tolak pemikiran.
Descartes, tulis Hamersma (1983:8), menyebut idenya tentang “saya yang ragu” sebagai ide jelas dan tegas. Ide jelas dan tegas bersifat pasti. Akal budi, rasio juga bersifat pasti karena mencapai kepastian tanpa pertolongan apapun.
Para pemikir sesudah Descartes semisal Baruch Spinoza dan Gottfried Wilhelm Leibniz (lihat Hamersma,1983:9-16) sependapat dengan Descartes. Spinoza (1959:1) dalam bukunya yang berjudul Ethics mengemukakan definisi pertamanya bahwa penyebab dalam dirinya sendiri (causa sui) secara esensial meliputi eksistensi dan alam tak dapat dipahami kecuali ia bereksistensi. Dalam proposisi-proposisi selanjutnya terlihat bagaimana Spinoza menjelaskan delapan definisi dasarnya (sebab, benda, substansi, atribut, mode. Tuhan, kebebasan dan keabadian) dengan penjelasan rasional mengikuti metode persamaan matematika. Suatu proyek filsafat yang jelas-jelas menekankan kepercayaan pada akal semata. Leibniz, tidak berbeda dengan Spinoza dalam metodenya untuk menjelaskan teori substansi tak terhingga (monade) yang pada akhirnya bergerak menuju rencana Allah.
Rasionalisme yang berbasis pada ilmu pasti dan matematika berkembang pesat di Eropa. Kecuali ketika memasuki tanah Inggris, rasionalisme mendapat roh baru dalam diri John Locke (1632-1704) yang berujar :”experiece, in that all knowledge is founded” (lihat Hamersma, 1983:18). Tjahjadi (2004:237) menjelaskan pernyataan ini. Sebelum mengalami sesuatu, pikiran atau rasio kita seperti tabula rasa atau kertas kosong. Kertas kosong itu kemudian diisi oleh pengalaman. Dalam hal ini ada dua macam pengalaman. Pertama, pengalaman lahiriah (sense/external sensation) atau disebut pengalaman inderawi yang berhubungan dengan realitas material yang ditangkap panca indera. Kedua, pengalaman batiniah (internal sense/reflection) apabila kesadaran melihat aktivitasnya sendiri. Inilah tonggak kelahiran empirisme. Empirisme mencapai puncaknya dalam diri David Hume (1711-1776). Bagi Hume, kesadaran manusia berasal dari pengalaman. Hume berujar :”I never catch myself at any time without a perception
Tjahjadi (2004:248) mengemukakan bahwa Hume mengajukan teori tentang dua macam persepsi. Pertama, kesan (impressions) yang diperoleh langsung dari pengalaman. Kedua, pandangan (ideas) sebagai hasil asosiasi atas kesan. Pengetahuan manusia didapat dari kedua hal ini. Karenanya pengetahuan hanya seperangkat kepercayaan saja dan bukan kenyataan.
Immanuel Kant, sebagaimana disebut Acton (2003:9-10) dibangunkan dari tidur dogmatiknya setelah membaca buah pikiran Hume yang berjudul Enquiry concerning Human Understanding yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Keyakinan Kant terhadap filsafat Christian Wolff (1679-1754) yang memuat inti kritik Leibniz terhadap pemikiran empirisme Locke tiba-tiba runtuh. Hume menyodorkan pada Kant dan para pengikut rasionalisme sebuah keraguan tentang kepastian. Kepastian tidak dapat dicapai. Pencapaian tertinggi rasio manusia hanya kemungkinan (probability).
Kant kemudian membangun teori pengetahuan baru untuk menjembatani perbedaan pandangan antara rasionalisme dan empirisme. Tjahjadi (2004:281) menyebutnya “Revolusi Copernican” dalam pengetahuan. Bagi Kant, pengenalan segala sesuatu, termasuk pengetahuan berpusat pada subjek, bukan pada objek. Baik rasionalisme maupun empirisme memandang pengetahuan dari sisi objek yang membuat manusia mengetahui. Bagi Kant, yang terutama adalah subjek pengetahuan yaitu manusia itu sendiri. Karenanya teori pengetahuan Kant berawal dari pertanyaan: “Bagaimana pengetahuan terjadi?” Dalam bukunya yang berjudul Kritik der reinen Vernunft, Kant mengurai proses pengetahuan manusia atas tiga tingkatan. Tingkat pertama disebut pemahaman inderawi (Sinneswahrnehmung). Tingkat kedua disebut akal budi (verstand). Tingkat terakhir disebut budi atau intelektual (vernunft).
Tjahjadi (2004:283-6) menjelaskan ketiga tingkatan proses pengetahuan ini. Pada tahap pemahaman inderawi (Sinneswahrnehmung), tiap manusia telah memiliki ruang dan waktu (Raum und Zeit) sebagai unsur apriori yang mendahului pengalaman. Menggunakan ruang dan waktu manusia memahami gejala (fenomena) atau penampakan (eksistensi) dari segala sesuatu. Dibelakang fenomena ini terdapat realitas “benda pada dirinya sendiri” yang disebut das Ding an sich. Tetapi das Ding an sich tidak dapat diamati. Manusia hanya dapat mengamati sintesa dari (1) data inderawi yang ditangkap sebagai materi atau bahan, dan (2) struktur ruang-waktu yang disebut bentuk (formen). Jadi pengalaman manusia tidak lain dari data-data inderawi yang digabungkan dengan ruang dan waktu. Dalam pengalaman manusia menemukan bahwa data inderawi berupa kayu, api, dan air dalam belanga merupakan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi pengalaman “memasak air”.
Pada tahap akal budi (verstand) terjadi pengolahan spontan atas input yang berasal dari pengalaman. Pengolahan spontan ini mungkin terjadi karena adanya kategori-kategori (kategorien). Kategori-kategori ini adalah konsep-konsep fundamental yang membantu manusia menyusun pengetahuannya. Lavine (2002:187) mengkonstruksikan 12 kategori Kant dalam konstruksi sebagai berikut :
Kuantitas
Kualitas
Hubungan
Modalitas
Kesatuan
Pembenaran
Zat-Kejadian
Kemungkinan
Pluralitas
Sangkalan
Sebab-akibat
Aktualitas
Totalitas
Batasan
Tibal balik kausal
Keharusan


Kategori berperan menata pengalaman inderawi untuk dijadikan pengetahuan. Pada tahap ini terjadi sintesis antara (1) unsur aposteriori (unsur yang datang sesudah pengalaman) dan unsur apriori. Melalui penerapan kategori kasualitas (sebab akibat) pengalaman memasak air dapat diukur untuk menetapkan sebuah pengetahuan bahwa air mendidih pada suhu 100 derajat celsius. Pada tingkat ini, Kant menolak prinsip empirisme Hume tentang ketidaksanggupan pengetahuan mencapai kepastian.
Pada tahap budi atau intelektual (vernunft), pengetahuan manusia dirangkum. Intelektual hanya mampu merangkum pengetahuan selama ia dipimpin oleh pandangan jiwa, dunia, dan pandangan Allah. Pandangan-pandangan ini memberikan semacam orientasi atau petunjuk agar intelektualitas dapat menata pengetahuan. Pandangan jiwa (psikologi) membantu intelektual menata gejala batiniah. Pandangan dunia (kosmologi) membantu menata gejala lahiriah. Sedangkan pandangan Allah (teologi) adalah gagasan yang mendasari baik pandangan jiwa maupun dunia. Ketiga pandangan ini, meskipun bertugas menata dan mensistematisasi pengalaman, sama sekali bukan pengalaman. Karenanya, tidak ada pengetahuan rasional tentang jiwa, dunia, dan Allah. Filsafat Kant sekaligus mengakhiri filsafat Skolastik yang mendaku Allah sebagai causa prima (penyebab pertama segala sesuatu). Allah, bagi Kant, bukan objek dari pengalaman yang dikenai kategori kasualitas. Allah tidak dapat dikenal melalui pengetahuan. Bagi Kant, hanya etika, tools bagi kita untuk mengenal Allah.


Melampaui Kant
Suseno (2006:105) mencatat dengan baik pandangan Kant tentang Ketuhanan yang diawali dengan seruan “memikirkan objek-objek yang di luar cakupan pengalaman inderawi hanya menghasilkan kesesatan dan tipuan”. Karena Tuhan terletak di luar pengalaman manusia, maka tidak mungkin menentukan sesuatu secara teoritis tentang eksistensi Tuhan. Bagi Kant, pengetahuan benar-benar terbatas pada objek-objek yang dapat ditangkap indera.
Meski demikian, bagi Kant, masalah Tuhan belum selesai. Hal Tuhan dan Ketuhanan, terletak dalam filsafat moral. Filsafat moral bertolak dari fakta, kenyataan bahwa manusia menemukan kebebasannya berada dibawah suatu kewajiban mutlak. Kewajiban untuk bertindak secara moral. Ini adalah mekanisme hati nurani manusia yang mutlak wajib memilih antara yang baik dan yang jahat. Ini bukan fakta inderawi. Ini ada dalam kesadaran. Kant menyebutnya, fakta akal budi.
Bagaimana Tuhan masuk dalam kesadaran jenis ini? Tuhan masuk melalui kenyataan bahwa manusia secara alami mengharapkan kebahagiaan. Jadi orang bersikap moral demi kebahagiaan. Berhadapan dengan kenyataan sehari-hari bahwa kebahagiaan sempurna itu sulit dicapai, maka bagi Kant, jaminan akan kebahagiaan sempurna itu hanya satu yaitu Allah sendiri.
Jelas disini bahwa kesadaran moral menunjukkan eksistensi Allah. Dengan demikian, moralitas yang kita sadari sebagai rasional hanya mungkin jika ada Allah. Hal ini, ditegaskan berulang kali oleh Kant, bukanlah pengetahuan objektif-teoritis tentang Yang Ilahi. Ini adalah pengetahuan subjektif. Meski demikian, pikiran adalah sebuah realitas objektif yang dituntut oleh hukum praktis. Kepastian praktis itu sedemikian kuat sehingga akal budi teoritis berhak mengandaikannya. Disini, Kant menolak kemungkinan teoritis tentang Allah, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa percaya pada Allah dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
Hanya saja, Kant tidak memperhatikan pengetahuan lain di luar pengetahuan objektif. Kant sendiri membedakan pengetahuan antara objek-objek dan paham-paham transendental. Objek-objek pengetahuan adalah pohon, hukum alam, sejarah, penyakit, dan lain-lain. Paham-paham transendental adalah pengertian-pengertian yang merupakan syarat kemungkinan suatu fakta kesadaran moral manusia.
Keduabelas kategori intelektual di atas, merupakan kenyataan transendental yang sekaligus adalah “syarat kemungkinan pengertian objektif”. Di sini terlihat bahwa dimensi transendental dibatasi secara sempit pada masalah epistemologi. Pada titik ini, Kant benar, bahwa Allah bukanlah sebuah objek yang dapat ditemukan dalam objek-objek lainnya.
Suseno (2006:110) menunjukkan bagaimana Hegel menutupi kelemahan metode Kant ini, dalam apa yang disebut fenomenologi. Tjahjadi (2004:319-20) mencatat bahwa dalam Phänomenologie des Geistes (1870), Hegel menunjukkan bagaimana akal budi (verstand) hanya mampu mengidentifikasikan dan mendefinisikan secara abstrak dan kurang mendalam hal-hal bersifat khusus. Totalitas realitas hanya mampu ditangkap melalui intelektualitas (vernunft). Namun baik akal budi maupun intelektualitas hanyalah kemampuan epistemologis manusia.
Pengetahuan manusia hanya sempurna tercapai dalam proses aufheben (mengangkat, menyimpan, meniadakan, membatalkan). Proses aufheben memungkinkan konsep bergerak dari tesis, anti-tesis menuju pada sintesis. Apa yang lebih dikenal dengan metode dialektika. Inti dari dialektika adalah bahwa seluruh jagad raya dan seluruh realitas, baik material maupun spiritual, adalah bisa dipahami atau bersifat intelektual (vernunftig), sebab dibentuk oleh aktivitas intelektual (vernunft). Dengan demikian apa yang bisa dipahami adalah nyata, dan apa yang nyata bisa dipahami (vernunftig). Proses aufheben tidak lain dari pengembaraan roh (Geistes) untuk memperoleh wujudnya dalam kesadaran diri, yaitu Yang Absolut (das Absolute). Puncak dari dialektika adalah kesadaran yang menyadari dirinya (das sich wissende Wissen).
Fenomenologi Hegel kemudian disempurnakan oleh Scheler dan Husser dan seterusnya oleh Husserl. Dalam Husserl, fenomenologi merupakan jalan “kembali kepada benda atau realitas itu sendiri” (zuruck su den sachen selbst). Relevansi fenomenologi Husserl bagi filsafat Ketuhanan terletak pada konstruksi intuisi eidetik. Intuisi eidetik adalah intuisi yang sekaligus dapat menangkap eidos atau form (bentuk). Secara sederhana, dengan mengingat keterbatasan pemahaman tentangnya, Ketuhanan, dalam fenomenologi dapat ditangkap sebagai konsep yang memiliki esensi dibelakang konsep itu sendiri. Esensi itu kurang dan lebih bersifat kebendaan, pribadi, dan diri.


Perangkap Positivsme Logis dan Rasionalisme Kritis
Persoalan Ketuhanan tidak kemudian melangkah dalam ketenangan konsepsi. Positivisme logis dan rasionalisme kritis, adalah dua jenis filsafat yang menawarkan tantangan bagi persoalan Ketuhanan.
Prinsip verifikasi ditegakkan di atas positivisme logis. Positivisme logis adalah sebuah aliran filsafat yang berupaya mengembalikan filsafat ke bentuk eksak, jelas dan logis sesuai prinsip-prinsip ilmu alam. Menurut positivisme logis hanya ada dua macam kalimat yang mempunyai arti rasional. Rasional disini bermakna dapat ditunjukkan benar atau salah. Kedua macam kalimat itu adalah: (1) kalimat murni analitis dan (2) pernyataan empiris. Kalimat murni analitis terdapat dalam kalimat matematika seperti 7+2=9. Sementara pernyataan empiris adalah semua bentuk pernyataan yang dapat dicek kebenarannya melalui pengamatan inderawi seperti kalimat “meja itu bundar”. Pernyataan empiris diuji kebenarannya dengan prinsip verifikasi. Suseno (2006:113) menulis, prinsip verifikasi menyatakan bahwa hanya pernyataan yang dapat dicek kebenarannya secara empiris mempunyai makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar