Sabtu, 25 Februari 2012

Filsafat Yimur (1)


Filsafat Timur

I.       Hinduisme
Matius Ali (2010:3) mengutip Klostermair menyebutkan Hinduisme sebagai bersiarah ke Tirupati, sebuah program politik, sebuah filsafat mendalam, sebuah cara hidup, khotbah Bagavad-Gita, hidup asketis, malam ceria dengan melantunkan pujian Reg-Wea di sebuah rumah di Bombay, ritual bagi para Brahmana, festival kuil di Madurai dan mandi di sungai Gangga.
Pendiri Hinduisme tidak diketahui. Titik awalnya merujuk masa pra-sejarah. Hinduisme merupakan tradisi religius utama yang tertua. Menurut tradisi, seseorang tidak dapat menjadi Hindu kecuali ia dilahirkan dalam keluarga Hindu. Hanya orang yang berada dalam kasta dan menjalani ritual wajib tanpa melanggar cara hidup tradisional yang dapat menjadi komunitas Hindu.
Bagi kaum Hindu, Hinduisme lebih dari sekedaragama. Hinduisme dipandang sebagai hukum atau kebenaran abadi (Sanata Dharma). Umat Hindu menyebut tradisi mereka sebagai Vaidika Dharma yang berarti Dharma-nya Weda. Dalam kata Vaidika Dharma terdapat bermacam makna termasuk makna sebagaimana agama di Barat. Namun dalam arti khusus, hukum Weda adalah penerapan hukum universal dalam semua aspek kehidupan seorang Hindu. Weda diturunkan secara lisan selama berabad-abad dan dijaga kerahasiannya dari orang luar.
Orang Hindu membagi masyarakat atas kasta (varnas) dengan asumsi bahwa tiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang secara alami berbeda menurut tempat dimana mereka dilahirkan. Aspek lain dalam masyarakat Hindu adalah ritual korban (yajňa), menghafal dan membaca Weda serta kepercayaan tertentu tentang hidup setelah kematian seperti terungkap dalam kitab Epos dan Purăna.

a.  Asal Hinduisme
Hinduisme yang ada saat ini adalah hasil dinamis perkembangan berbagai aliran religius. Karenanya Hinduisme seringkali disebut “the family of religion”. Sejarawan sepakat bahwa agama ini sudah berlangsung selama 5000 tahun peradaban manusia. Para penulis Weda dikenal sebagai “arya”(bermakna bangsawan atau yang mulia). Terdapat asumsi bahwa arya disini merujuk pada ras Aryans.
Orang-orang Aryans berasal dari lingkar Kutub Utara yakni daerah Skandinavia, Ukraina, Persia, Turki dan menyebar ke Timur Tengah atau Asia Tengah. Tersedia sedikit bukti untuk asumsi ini. Bahasa Rig-Weda mirip dengan bahasa Avesta agama Zoroasterisme, sebuah agama yang muncul di Persia dan memberi pengaruh pada semua keyakinan modern Mesopotamia.
Teks tertua Rig-Weda tidak menyebutkan migrasi leluhur dari luar India. Tetapi ada kisah peperangan melawan suku-suku Barbar dimana Dewa Indra memiliki peran paling sentral dan paling dipuja. Penemuan arkeologis di Harappa dan Mohenjo Daro (Pakistan) menunjukkan jejak suku Aryan yang menghancurkan peradaban Indus pada kurun waktu 1750-1500 SM. Periode penghancuran ini sangat dekat dengan kurun waktu Weda.
Selain Weda sebagai sumber historis utama Hinduisme, tersedia sumber lain. Apa yang dimaksud disini adalah tradisi suku-suku ădivăsĩs yang telah menetap di India sejak zaman batu pada penandaan kira-kira 500.000 tahun lalu. Jejak tradisi ini dapat ditelusuri dalam konsep reinkarnasi yang diterima hingga saat ini.
Unsur ketiga pembentuk Hinduisme adalah budaya Dravida yang berkembang di India selatan yang dipandang lebih tua dari budaya Weda (di India Utara) yang berbahasa Sansekerta. Proses saling tukar nilai antara budaya Weda dengan budaya lokal terus berlangsung dalam periode perkembangan Hinduisme. Penyembahan lingga (simbol phallus yang terkait penyembahan Shiva), praktek yoga (Shiva Mahăyogi) menunjukkan peran kuat tradisi lokal terhadap budaya Weda.


b.  Teks Suci
Weda adalah sumber tunggal bagi Hinduisme. Tradisi Weda dikenal dengan nama sruti. Sruti berarti ajaran yang diterima melalui pendengaran (wahyu). Ajaran Weda dulunya diturunkan kepada para Rishis dalam bentuk suara. Ajaran sruti diperkirakan muncul pada masa 2300 SM atau mungkin lebih awal.
Ketika orang menyebut Weda, maka kata itu memiliki dua makna. Makna luas dan makna sempit.
Secara luas, Weda merujuk pada keempat  Samhită (kumpulan buku) yakni (1) Rig-Veda, (2) Yajur-veda, (3) Samă-Veda dan (4) Atarva-Veda. Setiap weda terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah Brăhmana yang menjelaskan upacara dan mitologi. Bagian kedua adalah Ărayanka merupakan teks dari hukan Ărayanka. Bagian terakhir adalah Upanishad.
Secara sempit, Weda hanya terdiri dari keempat kitab Samhita yang harus dimengerti sehubungan dengan ritual korban (yajňa). Weda bukan sejarah suci atau ajaran suci. Bukan juga catatan pengalaman relijius personal. Weda memberi tekanan penting pada esensi upacara korban.
Rig-Veda memberikan mantra-mantra yakni rumusan sakral yang tidak dapat diubah. Yajur-Veda memberikan ajaran dasar mengenai upacara yang harus diiukuti. Săma-Veda memberikan rahasia nada untuk melantunkan kidung-kidung. Atarva-Veda berisi bermacam mantra dan jimat yang berada di luar wilayah ritual kurban.
Rig-Veda menduduki posisi khusus sebagai sruti (revealed authority). Pembelajar Rig-Veda harus menguasai aturan pengucapan, ritual, tata bahasa etimologi dan astronomi. Sementara Upanishad diperuntukan bagi orang-orang yang mundur dari kehidupan sosial dan aktif mengabdikan diri pada latihan spiritual dan mistis. Upanishad disebut juga Vedănta, yang artinya bagian akhir kitab Weda. Jumlah Upanishad otentik sulit ditentukan. Terjemahan modern biasanya berisi 10 – 15 Upanishads. Ada versi 108 Upanishad dan juga terdapat ratusan Upanishad kecil dan sekunder.
Menurut Des Bhagavan, keempat Weda mencerminkan keempat kebenaran. Rig-Veda menetapkan fokus pada pengenalan (cognition). Yajur-Veda fokus pada tindakan (action). Săma Veda fokus pada keinginan (desire). Atharva-Veda menekankan kesatuan (unity).

c.   Tradisi suci (Smriti)
Kata smriti bermakna “apa yang diingat” atau “tradisi”. Ada sejumlah teks yang berasal dari tradisi serta dihormati dalam kehidupan umat Hindu. Teks smiti berisi aturan-aturan hidup sehingga memiliki efek langsung pada kehidupan daripada teks sruti.
Dalam arti sempit, smriti terdiri dari Dharashăstra yakni teks yang menjelaskan rinci hak dan kewajiban umat Hindu menurut status mereka.
Dalam arti luas, smriti mencakup Itihăsa-Purăna, Epos Rămăyana dan Mahăbhărata bersama 18 Puranas. Dalam teks-teks ini terdapat penuntun tingkah kebenaran menurut jalan spiritual. Posisi paling penting dalam smriti diduduki oleh Manu-smriti. Menurut umat Hindu, Manu adalah nenek moyang seluruh umat manusia yang memberi hukum universal. Manu adalah tokoh yang selamat dalam banjir besar yang membunuh semua manusia.
Selain Manu-Smriti ada sejumlah smriti lainnya seperti Wisnu-smriti  dan Yăjnăvălkya-smriti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar