Filsafat Timur
I.
Hinduisme
Matius Ali
(2010:3) mengutip Klostermair menyebutkan Hinduisme sebagai bersiarah ke
Tirupati, sebuah program politik, sebuah filsafat mendalam, sebuah cara hidup,
khotbah Bagavad-Gita, hidup asketis, malam ceria dengan melantunkan pujian
Reg-Wea di sebuah rumah di Bombay, ritual bagi para Brahmana, festival kuil di
Madurai dan mandi di sungai Gangga.
Pendiri
Hinduisme tidak diketahui. Titik awalnya merujuk masa pra-sejarah. Hinduisme
merupakan tradisi religius utama yang tertua. Menurut tradisi, seseorang tidak
dapat menjadi Hindu kecuali ia dilahirkan dalam keluarga Hindu. Hanya orang
yang berada dalam kasta dan menjalani ritual wajib tanpa melanggar cara hidup tradisional
yang dapat menjadi komunitas Hindu.
Bagi kaum
Hindu, Hinduisme lebih dari sekedaragama. Hinduisme dipandang sebagai hukum
atau kebenaran abadi (Sanata Dharma). Umat Hindu menyebut tradisi mereka
sebagai Vaidika Dharma yang berarti Dharma-nya Weda. Dalam kata Vaidika Dharma
terdapat bermacam makna termasuk makna sebagaimana agama di Barat. Namun dalam
arti khusus, hukum Weda adalah penerapan hukum universal dalam semua aspek
kehidupan seorang Hindu. Weda diturunkan secara lisan selama berabad-abad dan
dijaga kerahasiannya dari orang luar.
Orang Hindu
membagi masyarakat atas kasta (varnas) dengan asumsi bahwa tiap manusia
memiliki hak dan kewajiban yang secara alami berbeda menurut tempat dimana
mereka dilahirkan. Aspek lain dalam masyarakat Hindu adalah ritual korban (yajňa), menghafal dan membaca Weda serta
kepercayaan tertentu tentang hidup setelah kematian seperti terungkap dalam
kitab Epos dan Purăna.
a.
Asal Hinduisme
Hinduisme yang ada saat ini
adalah hasil dinamis perkembangan berbagai aliran religius. Karenanya Hinduisme
seringkali disebut “the family of religion”. Sejarawan sepakat bahwa agama ini
sudah berlangsung selama 5000 tahun peradaban manusia. Para penulis Weda
dikenal sebagai “arya”(bermakna
bangsawan atau yang mulia). Terdapat asumsi bahwa arya disini merujuk pada ras
Aryans.
Orang-orang Aryans berasal
dari lingkar Kutub Utara yakni daerah Skandinavia, Ukraina, Persia, Turki dan
menyebar ke Timur Tengah atau Asia Tengah. Tersedia sedikit bukti untuk asumsi
ini. Bahasa Rig-Weda mirip dengan bahasa Avesta agama Zoroasterisme, sebuah
agama yang muncul di Persia dan memberi pengaruh pada semua keyakinan modern
Mesopotamia.
Teks tertua Rig-Weda tidak
menyebutkan migrasi leluhur dari luar India. Tetapi ada kisah peperangan
melawan suku-suku Barbar dimana Dewa Indra memiliki peran paling sentral dan
paling dipuja. Penemuan arkeologis di Harappa dan Mohenjo Daro (Pakistan)
menunjukkan jejak suku Aryan yang menghancurkan peradaban Indus pada kurun
waktu 1750-1500 SM. Periode penghancuran ini sangat dekat dengan kurun waktu
Weda.
Selain Weda sebagai sumber
historis utama Hinduisme, tersedia sumber lain. Apa yang dimaksud disini adalah
tradisi suku-suku ădivăsĩs yang telah
menetap di India sejak zaman batu pada penandaan kira-kira 500.000 tahun lalu.
Jejak tradisi ini dapat ditelusuri dalam konsep reinkarnasi yang diterima
hingga saat ini.
Unsur ketiga pembentuk
Hinduisme adalah budaya Dravida yang berkembang di India selatan yang dipandang
lebih tua dari budaya Weda (di India Utara) yang berbahasa Sansekerta. Proses
saling tukar nilai antara budaya Weda dengan budaya lokal terus berlangsung
dalam periode perkembangan Hinduisme. Penyembahan lingga (simbol phallus yang terkait penyembahan Shiva),
praktek yoga (Shiva Mahăyogi) menunjukkan peran kuat tradisi lokal terhadap
budaya Weda.
b.
Teks Suci
Weda adalah sumber tunggal
bagi Hinduisme. Tradisi Weda dikenal dengan nama sruti. Sruti berarti
ajaran yang diterima melalui pendengaran (wahyu). Ajaran Weda dulunya
diturunkan kepada para Rishis dalam
bentuk suara. Ajaran sruti diperkirakan muncul pada masa 2300 SM atau mungkin
lebih awal.
Ketika orang menyebut Weda,
maka kata itu memiliki dua makna. Makna luas dan makna sempit.
Secara luas, Weda merujuk pada
keempat Samhită (kumpulan buku) yakni
(1) Rig-Veda, (2) Yajur-veda, (3) Samă-Veda dan (4) Atarva-Veda.
Setiap weda terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah Brăhmana yang
menjelaskan upacara dan mitologi. Bagian kedua adalah Ărayanka merupakan teks
dari hukan Ărayanka. Bagian terakhir adalah Upanishad.
Secara sempit, Weda hanya
terdiri dari keempat kitab Samhita yang harus dimengerti sehubungan dengan
ritual korban (yajňa). Weda bukan sejarah suci atau ajaran suci. Bukan juga
catatan pengalaman relijius personal. Weda memberi tekanan penting pada esensi
upacara korban.
Rig-Veda memberikan
mantra-mantra yakni rumusan sakral yang tidak dapat diubah. Yajur-Veda memberikan ajaran dasar
mengenai upacara yang harus diiukuti. Săma-Veda
memberikan rahasia nada untuk melantunkan kidung-kidung. Atarva-Veda berisi bermacam mantra dan jimat yang berada di luar
wilayah ritual kurban.
Rig-Veda menduduki posisi
khusus sebagai sruti (revealed authority). Pembelajar Rig-Veda
harus menguasai aturan pengucapan, ritual, tata bahasa etimologi dan astronomi.
Sementara Upanishad diperuntukan bagi orang-orang yang mundur dari kehidupan
sosial dan aktif mengabdikan diri pada latihan spiritual dan mistis. Upanishad
disebut juga Vedănta, yang artinya bagian akhir kitab Weda. Jumlah Upanishad
otentik sulit ditentukan. Terjemahan modern biasanya berisi 10 – 15 Upanishads.
Ada versi 108 Upanishad dan juga terdapat ratusan Upanishad kecil dan sekunder.
Menurut Des Bhagavan, keempat
Weda mencerminkan keempat kebenaran. Rig-Veda
menetapkan fokus pada pengenalan (cognition).
Yajur-Veda fokus pada tindakan (action). Săma Veda fokus pada keinginan (desire). Atharva-Veda menekankan kesatuan (unity).
c.
Tradisi suci (Smriti)
Kata smriti bermakna “apa yang diingat” atau “tradisi”. Ada sejumlah
teks yang berasal dari tradisi serta dihormati dalam kehidupan umat Hindu. Teks
smiti berisi aturan-aturan hidup sehingga memiliki efek langsung pada kehidupan
daripada teks sruti.
Dalam arti sempit, smriti terdiri
dari Dharashăstra yakni teks yang menjelaskan rinci hak dan kewajiban umat
Hindu menurut status mereka.
Dalam arti luas, smriti
mencakup Itihăsa-Purăna, Epos Rămăyana dan Mahăbhărata bersama 18 Puranas.
Dalam teks-teks ini terdapat penuntun tingkah kebenaran menurut jalan
spiritual. Posisi paling penting dalam smriti diduduki oleh Manu-smriti.
Menurut umat Hindu, Manu adalah nenek moyang seluruh umat manusia yang memberi
hukum universal. Manu adalah tokoh yang selamat dalam banjir besar yang membunuh
semua manusia.
Selain Manu-Smriti ada
sejumlah smriti lainnya seperti Wisnu-smriti
dan Yăjnăvălkya-smriti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar