Minggu, 19 Februari 2012

Kierkegaard dan DIRI SENDIRI



  1. PIJAKAN FILSAFAT HEGEL
Bagi Hegel, pengetahuan tidak diperoleh melalui proses satu arah dari subjek (manusia yang mengetahui) kepada objek (yang diketahui). Pengetahuan dalam konstruksi Hegel bersifat timbal balik (reciprocal). Hegel menyebutnya dialektis. Apa yang saya ketahui dan saya yang mengetahui saling mengembangkan. Pengetahuan, dengan demikian, adalah hasil proses yang terus menerus menjadi (ongoing process), dimana yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known) saling mempengaruhi dan mengembangkan.
Kebenaran, atau pengetahuan sejati tidaklah dapat ditemukan hanya dengan memeriksa situasi atau masa tertentu dalam kehidupan manusia. Pengetahuan sejati sesungguhnya mewujudkan atau memperlihatkan diri hanya melalui proses perkembangan yang terjadi dari dalam perjalanan sejarah. Maka satu-satunya cara untuk mencapai realitas sejati atau kebenaran adalah dengan menggunakan pendekatan historis.
Proses mengetahui ini mengandai dua konsep penting. Pertama adalah absolut (das Absolute). Kedua, adalah roh (Geist). Kata absolute atau mutlak disini tidak berarti “harus” atau tidak dapat ditawar-tawar, melainkan lengkap, penuh dan menyeluruh. Bagi Hegel, yang absolut adalah keseluruahan realitas pada dirinya sendiri, yang dapat diketahui manusia (knowable reality). Mengenal yang absolut berati mengenal realitas yang sebenarnya, bukan semata persepsi atau gagasan mengenai realitas itu. Pengetahuan absolut sendiri bermakna pengetahuan yang bebas dari bias atau distorsi, menyeluruh, tidak tergantung pada konteks atau kondisi tertentu dan tanpa inkonsistensi internal. Pada pengetahuan absolut, proses dialektis berhenti, karena pengetahuan ini tidak dapat lagi dilampaui.
Yang absolut hanya mungkin sepanjang ada roh – yang disebut Hegel:”roh absolut. Roh absolut adalah kesadaran yang mengenal dirinya sendiri. Roh absolut nantinya merupakan pengetahuan manusia, lewat kesadarannya, mengenai realitas sesungguhnya.
Dalam perjalanan sejarah, roh absolut dapat ditemukan dalam setiap peristiwa, baik yang indah atau yang buruk, yang memang harus terjadi (necessary) demi bertahannya roh absolut. Perjalanan Roh dalam sejarah menuju pengetahuan sejati, memang ditempuh melalui proses dialektis.
Sistem filsafat spekulatif Hegel merupakan pertemuan antara kontigensi (contigency) dan keharusan (necessity).
Bertolak dari metafisika yang telah dirintis Immanuel Kant, Hegel menegaskan bahwa proses dialektis rasional dimulai dari pengalaman indrawi langsung yang membentuk pengetahuan manusia secara pasti (sense-certainty).
Refleksi rasional selalu memuat pertimbangan universal atau umum, yang berfungsi untuk mengubah pemahaman kita mengenai immediasi sebagai aspek partikular yang muncul begitu saja dalam, terlepas dari refleksi intelektual. Mediasi rasional selalau mempertahankan isi esensial aspek-aspek pengalaman atau perasaan langsung.Aspek-aspek ini mengalami proses yang disebut Aufhebung, yaiotu dilampau tapi tetap terpelihara dalam proses dialektis. Ketika proses rasional berlanjut, hasilnya semakin lama semain rasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar