Minggu, 19 Februari 2012

THE PURPOSE OF PHILOSOPHY


THE PURPOSE OF PHILOSOPHY
ISAIAH BERLIN
THE POWER OF IDEAS
(ED. H. HARDY)
NEW JERSEY: PRINCETON UNIVERSITY PRESS, 2000
PAGE 24-35


Apakah pokok bahsan filsafat? Tidak ada jawaban universal yang diterima untuk pertanyaan ini. Pendapat berbeda-beda, dari mereka yang memandangnya sebagai perenungan dari segala masa dan eksistensi, ibu segala pengetahuan, untuk mereka yang mengharapkan penolakannya sebagai setengah ilmu (psudeo-science) yang memanfaatkan kekacauan-kekacauan bahasa lisan, suatu gejala ketidakdewasaan intelektual, dalam kaitannya dengan penyerahan bersama teologi dan disiplin spekulasi lainnya ke museum barang antik keingintahuan, sebagaimana juga  astrologi dan alchemy yang telah lama diturunkan oleh perarakan kemenangan ilmu pengetahuan alam.
Mungkin cara terbaik mendekati topik ini adalah dengan menanyakan apakah yang merupakan lapangan disiplin ilmu lain? Bagaimana kita membatasi bidang dari, katakanlah, kimia atau sejarah atau antropologi? Jelas disini bahwa subjek atau lapangan studi ditentukan oleh bermacam pertanyaan kepada mana mereka ditemukan guna menyediakan jawaban. Pertanyaan itu sendiri dapat dipahami jika, dan hanya jika, kita tahu dimana menjari jawaban-jawabannya.
Jika anda menanyakan seseorang suatu pertanyaan biasa, katakanlah “dimana mantel saya? Mengapa Kennedy memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat? Apakah sistem hukum pidana Uni Soviet? Ia selayaknya tahu bagaimana menata penemuan sebuah jawaban. Kita mungkin tidak mengetahui jawaban kita sendiri, tapi kita tahu bahwa, dalam kasus pertanyaan tentang mantel, prosedur yang tepat adalah mencari di kursi, di lemari dan seterusnya. Dalam kasus Kennedy memenangkan pemilihan presiden atau sistem hukum pidana Soviet kita mencari keterangan para penulis atau spesialis untuk bermacam bukti empiris yang menuntun kitga pada kesimpulan relevan dan menyumbangkan mereka, jika tidak pasti, suatu angka yang mungkin.
Dengan kata lain, kita tahu dimana mencari jawaban: kita tahu apa yang membuat banyak jawaban masuk akal pada tempat pertama adalah bahwa kita berpikir jawaban dapat ditemukan melalui pengertian empiris/nyata, yaitu, melalui kerapihan pengamatan atau percobaan, atau metode-metode yang tersusun dari hal ini, disebut bagian dari akal sehat atau ilmu pengetahuan alam. Ada kelompok jawaban lain dari pertanyaan dimana kita tidak kurang jelas mengenai alur yang tepat melalui mana jawaban-jawaban dapat dicari, disebut ilmu-ilmu formal: matematika sebagai contoh, atau logika, atau tata bahasa atau catur, dan ilmu-ilmu lambang, menetapkan istilah dari aksioma-aksioma yang ditetapkan secara tertentu dan aturan-aturan deduksi tertentu dan seterusnya, dimana jawaban persoalan-persoalan ditemukan dengan menerapkan aturan-aturan ini dalam cara yang ditentukan sebagai benar.
Kita tidak mengetahui bukti yang tepat dari theorema Fermat, sebagai contoh, tidak seorangpun tahu bagaimana menemukannya, tapi kita tahu sepanjang garis apa untuk maju, kita tahu metode apakah yang akan digunakan, dan metode-metode mana yang tidak dapat, berhubungan dengan jawaban. Jika orang berpikir bahwa jawaban untuk persoalan matematika dapat diperoleh dengan melihat di padang hijau atau mengamati perilaku lebah, atau bahwa jawaban untuk persoalan-persoalan empiris cadap diperoleh dengan kalkulasi murni tanpa isi faktual apapun, kita kini tahu kekeliruan mereka sebagai gejala kegilaan. Setiap tipe besar dari pertanyaan-pertanyaan – faktual dan formal – memiliki tekniknya masing-masing: penemuan kecerdasan manusia dalam lapangan-lapangan ini, saat mereka ditentukan, dapat digunakan manusia yang tidak cerdas sama sekali dalam suatu perilaku setengah mekanis dalam tujuan untuk mendapatkan hasil yang benar.
Tanda dari bidang-bidang pengetauan manusia ini adalah bahwa sejak pertanyaan memberikan kita tahu dalam arah mana guna memulai upaya memperoleh jawaban. Sejarah sistematisasi pemikiran manusia adalah secara besar menopang upaya perumusan  semua jawaban yang dipikirkan manusia dalam suatu cara bahwa jawaban untuk pertanyaan dimaksud akan jatuh dalam salah satu dari dua keranjang besar: empirical, yaitu  pertanyaan-pertanyaan formal yang jawabannya tergantung pada, di akhir, data-data pengamatan; dan formal, yaitu bahwa pertanyaan-pertanyaan dijawab tergantung pada kalkulasi murni tanpa pengekangan pengetahuan faktual. Dikotomi ini adalah suatu formulasi sederhana – elemen-elemen empiris dan formal adalah tidak mudah dimerdekakan, tapi ia mengandung cukup kebenaran tanpa menjadi serius menyesatkan. Jarak antara kedua sumber besar pengetahuan manusia telah dikenal sejak semula dari pemikiran kesadaran diri sendiri.
Namun ada kepastian pertanyaan yang tidak secara mudah mendukung dalam klasifikasi ini. Apakah itu okapi? Adalah jawaban yang cukup mudah melalui pengamatan empiris. Apa itu akar pangkat tiga dari 729? adalah ditata oleh sepotong kalkulasi yang sesuai dengan aturan yang diterima. Tapi jika saya bertanya apakah itu waktu? Apakah semua manusia sungguh-sungguh bersaudara? Bagaimana saya menemukan jawab-jawabannya?Jika saya bertanya dimana mantel saya, suatu kemungkinan jawaban tersedia (entah benar atau salah) mungkin di lemari and kita semua tahu dimana harus mencari. Tapi jika seoarang anak bertanya padaku, dimana bayangan dalam cermin? Itu seharusnya sedikit berguna untuk mengundangnya di dalam cermin, yang mana itu mungkin ditemukan untuk terdiri dari gelas yang keras, atau dipermukaan cermin, karena gambar adalah pasti tidak pada permukaan dari pikiran dimana meterai mungkin ditempel padanya, atau dibelakang cermin (dimana bayangan terlihat) karena jika anda melihat kebelakang anda tidak akan menemukan gambar disana demikian seterusnya.
Banyak yang berpikir cukup lama, dan cukup intens, tentang pertanyaan-pertanyaan apakah itu waktu? Dapatkah waktu bertahan? Ketika aku melihat rangkap, apakah dua itu? Bagaimana aku tahu manusia lainnya (atau objek material) bukanlah isapan jempol pikiranku, yang dibawa dalam suatu pernyataan frustasi tanpa harapan. Apakah arti dari bentuk waktu mendatang dalam struktur bahasa Inggris? Dapat dijawab oleh ahli tata bahasa dengan secara mekanis menggunakan aturan formal, tapi jika aku bertanya apakah arti dari “masa depan”? dimana kita menemukan jawabannya?
Kelihatannya ada sesuatu yang aneh mengenai semua pertanyaan – seluas bagian sebagaimana pandangan ganda, atau angka, atau persaudaraan umat manusia atau tujuan hidup, mereka berbeda dari pertanyaan dalam dua keranjang dalam mana jawaban itu sendiori tidak terlihat untuk isi suatu titik kepada cara jawaban dapat ditemukan. Lainnya, lebih bersifat biasa, pertanyaan isi tepat point-point lainnnya, membangun tehnik penemuan jawaban mereka. Pertanyaan tentang waktu, eksistensi lainnya, dengan demikian mereduksi pertanyaan membingungkan, dan mengganggu masyarakat praktis secara tepat karena mereka tidak terlihat dituntun ke arah jawaban yang jelas atau pengetahuan yang bermanfaat dalam setiap bentuk.
Ini memperlihatkan bahwa antara dua keranjang asli , empirikal dan formal, selayaknya ada satu keranjang antara, dalam mana semua pertanyaan yang hidup yang tidak dapat secara mudah dicocokan dalam satu dari kedua keranjang dimaksud diletakkan. Pertanyaan-pertanyaan ini dari bermacam alam, banyak pertanyaan tentang kata dan sejumlah simbol, lainnya tentang metode yang dikejar oleh mereka yang mengunakannya: para ilmuan, artis, pengkritik, orang biasa dalam lapangan kehidupan publik, tetap lainnya adalah mengenai hubungan antara bidang-bidang yang bermacam-macam dari manusia, banyak yang sepakat dengan prasangka berpikir, beberapa dengan alam dan akhir moral serta tindakan sosial politik.
Hanya karakterisitik umum dimana semua pertanyaan ini tampil untuk dimiliki adalah bahwa mereka tidak dapat dijawab baik oleh penyelidikan atau kalkulasi, baik oleh metode deduktif atau deduktif, dan, sebagai akibat wajar dari hal ini, bahwa mereka yang bertanya hal-hal itu menghadapai suatu kebingungan sejak awal, mereka tidak tahu dimana menemukan jawaban, tidak ada kamus, ensiklopedia, kompendia pengetahuan, tidak ada ahli, tidak ada kaum ortodoks yang akan dirujuk untuk dengan kepercayaan diri sebagai kewenangan yang tidak dapat dipertanyakan yang mempengaruhi atau pengetahuan dalam hal ini. Lebih dari itu kebanyakan pertanyaan mencirikan sesuatu yang umum atau cocok dengan persoalan-peroslan mendasaratau lainnya ketika diri mereka sendiri bersifat umum, sangar siap muncul atau menuntun pertanyaan prinsip.
Beberapa pertanyaan dapat disebut pertanyaan filsafat. Orang biasa menghormati pertanyaan tersebut dengan penghinaan, atau terkagum, atau curiga, tergantung pada perangai mereka. Karena alasan inijika tidak untuk yang lain, ada kecenderungan alami untuk mencoba formulasi ulang pertanyaan-pertanyaan ini dalam beberapa cara atau pada setiap peringkat bagian dari mereka dapat dijawab baik oleh pernyataan formal maupun empiris, karenanya dapat dikatakan, tujuan terkadang sangat menyakitkan, sangat menyedihkan,  dibuat agar cocok kedalam baik  keranjang empiris maupun formal, dimana ada metode yang disetujui, dielaborasi melalui masa, lapangan yang tergantung hasil-hasil yang benar dapat diuji melalui penerimaan pengertian.
Sejarah pengetahuan manusia adalah pada derajat terbesar, suatu pencapaian dukungan kecocokan semua pertanyaan dalam satu atau dua kategori yang sangat bersemangat, untuk secepat mungkin menjadi teka-teki, pertanyaan aneh dapat di translasi ke dalam satu yang dapat diupayakan oleh baik disiplin empiris atau formal, ini menghentikan untuk menjadi filsafat dan menjadi bagian dari ilmu yang dikenal. Jadi bukanlah kekeliruan dahulu untuk menganggap astronomi dalam, katakanlah, permulaan abad pertengahan sebagai sebuah disiplin filsafat, jadi sepanjang jawaban atas pertanyaan tentang bintang-bintang dan planet-planter tidak ditentukan oleh pengamatan atau percobaan dan perhitungan, tapi ditentukan oleh gagasan non-empiris seperti, contohnya, tubuh yang sempurna ditentukan untuk mengikuti arah edar oleh tujuan mereka atau bagian dalam intisari, dengan mana mereka diberkati oleh Tuhan atau alam, bahkan jika ini menyumbangkan kemustahilan oleh pengamatan empiris, itu tidak cukup jelas bagaimana pertanyaan astronomi dapat menjadi mantap, yaitu, bagian apa yang dijalankan melalui penyelidikan aktual badan semesta, dan bagian mana oleh pernyataan teologi atau metafisika yang mana tidak cakap untuk diuji baik dalam arti empiris maupun formal.
Hanya ketika pertanyaan-pertanyaan astronomi telah diformulasi dalam cara bahwa jawaban yang jelas dapat ditemukan dengan menggunakan dan tergantung pada metode pengamatan dan percobaan, dan sebaliknya terhubung dalam suatu struktur koherensi sistemik dari mana ia dapat diuji oleh logika murni atau secara matematis, ilmu astronomi modern tercipta, meninggalkan dibelakangnya awan gelap gagasan metafisik, yang tidak terhubung dengan uji empiris dan sebagai konsekuensinya tidak lagi relevan pada ilmu baru, dan secara berangsur-angsur dipindahkan dan dilupakan.
Demikian juga pada masa kita, banyak disiplin seperti ekonomi, psikologi, tata bahasa, dan logika itu sendiri, secara berangsur-angsur menggerakan diri mereka sendiri terbebas dari segala hal dan tidak tergantung pada pengamatan maupun formal; jika dan ketika mereka berhasil melengkapi proses ini. Mereka akan pada akhirnya memulai usaha mereka sendiri pada karir independen sebagai ilmu alam atau formal, suatu ilmu empiris dan atau formal pada masa kini dan masa depan, tapi dengan sebuah kekayaan filsafat dimasa lampau. Sejarah pengetahuan dengan demikian adalah seri panjang penolakan, dalam mana disiplin baru berupaya mencapai kemerdekaan mereka dengan membunuh “orang tua subjek”/subjek utama dan membasmi dari dalam diri mereka sendiri apakah jejak persoalan-persoalan filosofis tetap hidup dengan bermacam peertanyaan yang tidak terbawa dalam struktur mereka sendiri, dan yang secara jelas terindikasi dari teknik pemecahan masalah mereka sendiri.
Bahwa pada setiap urutan, adalah ideal seperti ilmu pengetahuan dalam begitu jauh sebagaimana beberapa persoalan mereka (sebagai contoh dalam kosmologi modern) tidak diformulasikan dalam kemurnian empiris atau istilah matematis, lapangan mereka perlu dilengkapi dengan filsafat. Tentu saja gegabah untuk mengatakan bahwa setiap perkembangan ilmu pengetahuan tingkat tinggi pada akhirnya membasmi persoalan-persoalan filisofisnya. Dalam fisika sebagai contoh, pertanyaan mendasar hadir pada masa kini dimana dalam banyak cara terlihat sebagai filsafat – pertanyaan yang peduli kerangka konsep yang bermacam-macam dalam hubungan dari mana hipotesis dibentuk dan pengamatan ditafsirkan. Bagaimana model gelombang berhubungan satu dengan yang lain? Apakah keadaan yang tak dapat dipastikan (indeterminacy) suatu tampilan akhir dari teori subatomik? Beberapa pertanyaan adalah tipe pertanyaan filosofis, dalam hal tertentu, tidak bersifat deduktif atau program pengamatan yang menuntun langsung semua pemecahan persoalan mereka. Pada sisi lain, tentu saja ini benar bahwa mereka yang berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu butuh untuk dilatih dan berbakat dalam bidang fisika, dan bahwa setiap jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan akan membentuk tahap lanjutan dalam bidang ilmu fisika itu sendiri. Walaupun dengan pemisahan progresif dari ilmu pengetahuan positif, tidak ada pertanyaan filsafat adalah pertanyaan fisika, kebanyakan pertanyaan fisika tetap mejadi pertanyaan yang filsafatis.
Tidak ada alasan, hanya satu, mengapa cakupan dan isi dari filsafat tidak terlihat sangat terkurangi dari proses aus karena gesekan. Sebab tidak penting seberapa banyak pertanyaan dapat ditransformasikan sebagai kemampuan secara empiris atau formal, sejumlah pertanyaan kelihatan tidak mampu menjadi begitu menyenangkan tidak tampil untuk kurang berkembang. Kenyataan ini selayaknya menyusahkan para filsuf dari abad pencerahan, yang meyakini bahwa semua pertanyaan sejati layaknya dapat dipecahkan dengan metode yang telah dicapai jadi bagus sekali suatu kemenangan dalam genggaman ilmu alam dari abad tujuh belas dan permulaan abad kedelapan belas.
Benar bahwa bahkan dalam saat cerah itu manusia tetap nampak tidak sangat dekat pada solusi dari suatu sumber, tidak dapat diragukan sangat filosofis, sebaba nampak tanpa jawaban, pertanyaan seperti apakah manusia dan benda-benda telah diciptakan untuk memenuhi suatu tujuan Tuhan atau alam, dan jika demikian apakah tujuan itu, apakah manusia bebas memilih antara alternatif yang tersedia, atau sebaliknya secara ketat ditentukan oleh hukum sebab akibat yang menuntun benda-benda mati alamiah, apakah kebenaran etik dan estetik semesta dan objektif atau relatif dan subjektif, apakah manusia terikat dari daging dan darah dan tulang dan jaringan saraf, atau apakah tempat tinggal bumi dari jiwa yang abadi, apakah sejarah manusia memiliki bentuk yang dapat dibedakan, atau apakah rentetan penyebab berulang atau sebuah runtutan sebab dan akibat yang tak dapat dipahami. Pertanyaan-pertanyaan kuno ini menyiksa leluhur mereka di Yunani dan Roma dan Palestina juga di Barat pada abad pertengahan.
Fisika dan kimia tidak memberitahukan siapapun mengapa banyak manusia berkewajiban untuk mematuhi manusia lainnya dan dibawah keadaan apa, dan apakah alam seperti kewajiban, dan apakah yang baik dan yang buruk, apakah kebahagiaan dan pengetahuan, keadilan dan pengampunan, kebebasan dan persamaan, efisiensi dan kemerdekaan individu, adakah kesejajaran validitas tujuan tindakan manusia, dan jika demikian, apakah mereka berkesesuaian satu dengan yang lain, jika tidak, yang mana yang akan dipilih, dan apa kriteria validitas dari pilihan-pilihan itu, dan bagaimana kita harus pasti akan validitas mereka, dan apakah artinya validitas itu sendiri? Serta banyak tipe pertanyaan lainnya.
Namun, demikian sebuah kebaikan banyak argumentasi filsuf abad ke-18, suatu pernyataan yang sama dari kekacauan dan keraguan yang pernah berlaku dalam ruang ilmu pengetahuan alam juga, namun ada kecerdasan manusia pada akhirnya berlaku dan menciptakan rezim.
Alam dan hukum alam menggantung dan tersembunyi dalam kegelapan
Lalu berfirmanlah Allah, jadilah Newton, maka terang pun jadilah.
   
Jika Newton dapat, dengan sejumlah kecil hukum dasar, memampukan kita pada akhirnya dalam teori, untuk menentukan posisi dan gerak tiap entitas fisik dalam alam semesta, dan dengan cara ini menghapuskan secara besar-besaran, masa tidak berbentuk yang saling berlawanan, ketidakjelasan dan hanya aturan setengah cerdas dari kesetujuan yang sampai sekarang lolos dari pengetahuan alam, yang tidak beralasan untuk diharapkan bahwa, dengan menggunakan prinsip-prinsip yang sama pada tuntunan manusia dan analisis alam oleh manusia, kita harus dapat memperoleh klarifikasi yang sama dan mendirikan pengetahuan manusia di atas dasar-dasar keseimbangan yang kokoh.
Filsafat memberi makan pada kekacauan dan ketidakjelasan bahasa, jika ada kejelasan, pasti dapatlah ditemukan bahwa satu-satunya pertanyaan yang tersisa dapat diperhatikan dengan pengujian kepercayaan manusia, atau ekspresi yang dapat mengidentifikasi setiap kebutuhan, harapan, ketakutan dan ketertarikan manusia. Ada studi yang tepat bagi ahli psikologi, ahli antropologi, ilmuan sosial dan ekonom, semua yang dulu dibutuhkan Newton, karena ilmu pengetahuan manusia,  dalam cara ini adalah kebingungan metafisik akan sekali dan untuk selamanya dihapus, rumpun bermalas-malasan para spekulator filsafat dibasmi dan, pada landasan yang jelas, suatu kecemerlangan dan keteguhan bangunan ilmu alam didirikan.
Inilah harapan dari semua filsuf terkenal masa pencerahan, dari Hobes dan Hume ke Helvetius, Holbach, Condorcet, Bentham, Sainbt-Simon, Comte, dan para penerus mereka. Namun program ini gagal dipenuhi. Bidang filsafat tidak menyekat dalam suatu seri pengganti bidang ilmu pengetahuan. Pertanyaan filsafat berlanjut dan terus mempesona dan menyiksa pencarian pikiran.
Bagaimana ini bisa demikian? Jawaban menerangkan atas persoalan ini diberikan oleh Kant, pemikir pertama yang menggambarkan suatu keberjarakan yang jelas antara, pada satu sisi, pertanyaan tentang fakta, dan pada sisi lainnya, peertanyaan tentang bentuk dalam mana fakta menampilkan diri mereka sendiri kepada kita – bentuk yang tidak mereka sendiri mengubah meskipun kebanyakan fakta sendiri, atau pengetahuan kita tentang mereka, mungkin berubah. Bentuk atau kategori ini, atau bentuk dari pengalaman akan mereka bukanlah pokok bahasan dari semua kemungkinan pengetahuan alam.
Kant adalah yang pertama menggambarkan batas krusial antara fakta – data dari pengalaman, sebagaimana adanya, benda-benda, manusia, kejadian, kualitas hubungan yang kita selidiki atau simpulkan atau pikirkan – dan kategori dalam terminologi yang dibayangkan dan refleksikan indera kita. Ini, baginya, bebas dari perilaku kosmik yang berbeda – kerangka kerja agama dan metafisik yang dimiliki berbagai abad dan peradaban. Jadi mayoritas filsuf Yunani, terutama Aristoteles, berpikir bahwa segala sesuatu memiliki tujuan yang dibangun untuk mereka oleh alam – akhir atau tujuan yang harus semata-mata dicari dan dipenuhi. Kekristenan abad pertengahan melihat dunia sebagai tata urutan/hirarki  dalam mana setiap objek dan manusia dipanggil untuk memenuhi fungsi khusus dari Tuhan Pencipta; dia sendiri mengetahui tujuan dari keseluruhan bentuk dan membuat kebahagiaan dan kesengsaraan ciptaannya tergantung atas derajat kepada kepatuhan mereka atas perintahnya yang diperlukan oleh tujuan yang berbeda dari setiap entitas yang diciptakan -  tujuan yang dipenuhi sendiri disadari keselaran semesta, bentuk tertinggi, totalitas yang disimpan sang pencipta, dan dimengerti oleh pencipta sendiri.
Para rasionalis abad delapanbelas dan sembilanbelas melihat tidak ada tujuan dalam apapun kecuali yang diciptakan manusia sendiri untuk melayani kebutuhannya, dan menganggap semua hal lain ditentukan oleh hukum sebab akibat, sehingga tidak ada tujuan yang dikejar, tapi telah ada sebagaimana adanya, begerak dan berubah, sebagai suatu hal dari kebrutalan fakta.
Ini adalah perbedaan cara melihat yang sangat dalam. Namun mereka yang menggenggamnya melihat item-item yang sama dalam semesta, sama warna, selera, bentuk, kondisi gerak dan diam, mengalami perasaan yang sama, mengejar tujuan yang sama, bertindak dalam gaya yang sama.
Kant dalam doktrinnya tentang pengetahuan dunia luar kita, berpikir bahwa kategori melalui mana kita memandang sesuatu telah menjadi serupa untuk semua mahluk sentien (lawan dari human being), permanen dan tak berubah, tentu saja ini adalah apa yang membuat dunia kita satu, dan memungkinkan  terjadinya komunikasi. Tapi banyak dari mereka yang berpikir tentang sejarah, moral, keindahan, telah melihat perubahan dan perbedaan, apa yang berbeda tidak begitu banyak mengubah isi empiris dari apa yang dilihat, didengar dan dipikirkan peradaban yang berganti ini sebagai bentuk dasar yang dirasa, model bentuk yang diterima, dan kategori yang dilihat melalui kacamata mereka.
  Dunia dari seorang yang percaya Tuhan menciptakannya untuk suatu tujuan tertentu, bahwa ia adalah jiwa yang abadi, bahwa ada hidup sesudah mati dimana dosanya akan mengunjunginya, secara radikal berbeda dari dunia seseorang yang tidak percaya apapun dari semua hal ini; dan alasan bertindak, kode moral, kepercayaan politik, selera, hubungan individu dari apa yang disebut didepan berbeda secara mendalam dan sistematis dari individu yang disebut kemudian.
Pandangan manusia yang satu dengan manusia lainya sungguh berbeda sebagai suatu konsekuensi dari konsepsi umum mereka atas dunia, gagasan tentang sebab dan tujuan, baik dan buruk, kemerdekaan dan perbudakan, benda dan manusia, hak, kewajiban, hukum, keadilan, kebenaran, kesalahan, mengambil banyak ide pokok yang sepenuhnya secara acak, tergantung langsung atas kerangka umum dalam mana mereka dibentuk sebagai suatu titik simpul. Walaupun fakta yang diklasifikasi dan disusun dibawah gagasan ini tidak semuanya identik untuk semua manusia di segala abad, namun perbedaan ini – yang diuji ilmu pengetahuan – tidaklah sama sebagai perbedaan yang amat dalam yang mengenakan perangkat kacamata yang berbeda, kategori yang berbeda, berpikir dalam hubungan model yang berbeda, harus membuat untuk manusia dari masa, tempat, dan cara pandang yang berbeda.
Filsafat kemudian bukanlah suatu studi empiris, bukan ujian kritis dari apa yang hadir atau telah dan akan hadir – ini bersangkutan dengan pengetahuan dan kepercayaan yang masuk akal, dan metode dari ilmu alam. Bukan sejenis deduksi formal sebagaimana matematika atau logika. Pokok bahasannya adalah kepada derajat luas bukan pada pengalaman, tapi cara dalam mana mereka dilihat kategori-kategori permanen atau semi-permanen dalam hubungan dimana pengalaman diterima dan diklasifikasikan. Tujuan melawan penyebab mekanik, organisme melawan campuran tembaga semata-mata, sistem melawan kebersamaan belaka, keberuang-waktuan melawan keberadaan yang terus menerus, tugas melawan selera, nilai melawan fakta – ini adalah kategori, model, dan kacamata. Kebanyakan dari hal ini setua pengalaman manusia itu sendiri, lainya lebih temporer. Dengan lebih temporer, persoalan filsafat mengambil lebih banyak aspek sejarah dan dinamis. Perbedaan model dan kerangka kerja, dengan kehadiran mereka ketidakjelasan dan kesulitan, muncul pada waktu berbeda. Dalam kasus persoalan masa kini dalam penjelasan kerangka kerja fisika, sebagaimana telah disebut, adalah salah satu contoh untuk ini. Tapi ada contoh lainnya yang mempengaruhi pemikiran bukan saja ahli fisika atau spesialis lainnya tapi dari refleksi manusia secara umum.
Dalam politik contohnya, manusia berupaya untuk menerima keberadaan sosial mereka dengan bermacam-macam model analogi: Plato pada tahap pertama, mungkin mengikuti Phytagoras, berupaya untuk membingkai sistemnya dari manusia alami, sifat dan tujuannya, mengikuti suatu bentuk geometri, sejak ia berpikir hal ini dapat menjelaskan segala hal. Ini diikuti bentuk biologi Aristoteles, kebanyakan visi kristen yang ditulis para Bapa dari kelimpahan kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru, analogi tentang keluarga, yang memberikan cahaya atas hubungan manusia yang tidak disediakan oleh model mekanis (katakanlah oleh Hobes), gagasan dari perararakan pasukan dengan tekanan utama pada nilai loyalitas, dedikasi, kepatuhan, kebutuhan untuk menyusul dan menghancurkan musuh (yang dimainkan di Uni Soviet), gagasan negara sebagai polisi lalulintas dan penjaga malam yang menjaga benturan kepentingan dan memelihara hak milik, melatarbelakangi  kebanyakan  pemikiran individualis dan liberal, gagasan negara yang melebihi hal ini – sebagai suatu kerjasama besar percobaan individu yang mencari pemenuhan tujuan bersama, dan untuk itu berhak atas masuk kedalam setiap sudut dan celah pengalaman manusia, menghidupakan banyak pemikiran organik abad sembilan belas, sistem yang dipinjam dari psikologi, teori permainan, ada dalam mode saat ini – semua model ini dalam hubungannya dengan manusia, kelompok, masyarakat dan kebudayaan yang mengandung pengalaman mereka sendiri.
 Model ini sering bertabrakan, kebanyakan menyumbang ketidakcukupan akibat kejatuhan sejumlah aspek pengalaman, dan dalam putaran kembali mereka oleh model yang lain menekankan apa yang pada akhirnya dihilangkan, juga menggelapkan hal lain yang sebelumnya telah jelas. Tugas filsafat, sering suatu kesulitan yang menyakitkan, adalah untuk melepaskan dan memberikan penerangan pada kategori-kategori tersembunyi dan model dalam hubungan dengan pemikiran manusia ( yaitu, mereka menggunakan kata-kata, gambaran, serta simbol-simbol), untuk mengungkapkan apa yang tidak jelas atau saling bertentangan, untuk melihat pertentangan antara mereka yang mempertahankan konstruksi dari banyak kecukupan cara mengorganisasikan, menggambarkan dan menjelaskan pengalaman (untuk semua penggambaran sepanjang penjelasan meliputi banyak model yang berhubungan dengan pengalaman yang terjadi) dan kemudian, pada tingkatan tertinggi, menguji alam dari aktifitasnya sendiri (epistemology, logika filsafat, analisis bahasa) dan membawa penerangan model yang dirahasiakan yang beroperasi pada tatanan kedua, secara filosofis, aktivitas itu sendiri.
Jika ini diobjekan bahwa semua ini terlihat sangat abstrak dan dikendalikan oleh pengalaman sehari-hari, sesuatu yang amat kecil perhatiannya dengan kepentingan pusat, kegembiraan dan ketidakgembiraan dan takdir teringgi dari manusia biasa, jawabannya adalah bahwa hal ini salah. Manusia tidak dapat hidup tanpa mencari gambaran dan penjelasan semesta untuk diri mereka sendiri. Model yang mereka gunakan harus secara mendalam mempengaruhi hidup mereka, pada akhirnya, ketika mereka tidak sadar, kebanyakan dari penderitaan dan keputusasaan hidup berkaitan dengan mekanisasi atau ketidaksadaran, yang sengaja diterapkan dari model yang tidak berhasil. Siapa yang dapat mengatakan seberapa banyak penderitaan yang disebabkan kegandrungan penggunaan model organik dalam politik, atau perbandingan dari negara sebagai kerja seni, dan representasi diktator sebagai inspirasi hancur luluh kehidupan manusia, oleh para penggagas teori totalitarian pada jaman kita? Siapa yang dapat berkata sebarapa banyak pencederaan dan kebaikan, pada masa sebelumnya, datang dari penerapan berlebihan hubungan manusia dengan metafora dan model pendandanan kewenangan paternal, khususnya hubungan penguasa negara dan subjek, atau pendeta dan umat?
Jika ada harapan dari tatanan rasional di dunia atau dari sebuah penghargaan atas bermacam kepentingan yang membagai beragam kelompok manusia – pengetahuan dengan demikian  sangat diperlukan untuk setiap upaya dan bentuk saling mempengaruhi, dan sebagai akibatnya, guna mencapai semangat kompromi melalui mana manusia melanjutkan hidupnya dan memuaskan nafsu mereka tanpa menghancurkan pusat kesetaraan dan harapan akan kebutuhan orang lain – itu tergantung pada pembawaan dalam cahaya dari model sosial, moral, politik dan diatas segalanya, bentuk metafisika yang mendasari mereka, dengan suatu pandangan untuk menguji apakah mereka cukup untuk tugas mereka.
Tugas kekal filsafat asdalah menguji apapun yang terlihat kebal terhadap metode ilmu pengetahuan atau pengamatan sehari-hari, sebagai contoh, kategori-kategori, konsep-konsep, model-model, cara berpikir dan bertindak, dalam cara tertentu bertentangan satu sama lain, dengan pandangan untuk mengkonstuksikan lainnya, kekurangan secara internal bertentangan dan (walaupun ini tidak pernah dapat dicapai sepenuhnya, kekurangan metafora, gambaran, simbol dan sistem kategori yang menyesatkan. Ini adalah kepastian hipotesis yang layak yaitu satu sebab prinsip pengakuan, penderitaan dan ketakutan adalah, apakah mugkin ia berakar pada psikologi atau sosial, kesetiaan buta untuk gagasan yang bertahan lama, kecurigaan patalogis dari semua bentuk kritik uji-diri, upaya gila untuk mempertahankan derajat analisis rasional dimana olehnya dan untuknya    kita hidup.
Bahaya sosial ini, kesulitan intelektual, sering tanpa ucapan terimakasih tapi selalu aktivitas penting adalah pekerjaan para filsuf, apakah mereka berhadapan dengan ilmu alam atau moral atau politik atau isu-isu personal yang murni. Tujuan filsafat selalu sama, membantu manusia untuk memahami diri mereka sendiri dan dengan demikian bekerja dalam keterbukaan dan tidak terlalu lebar, dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar