Ide dalam pandangan Platon
berbeda dengan ide yang dipahami oleh sebagian besar kita di masa ini. Bertens
(1999:129) melihat bahwa pemaknaan ide di dunia modern “berarti suatu gagasan
atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pikiran saja”. Lebih lanjut Bertens
memberikan penegasan :
Akibatnya, bagi orang modern ide merupakan sesuatu
yang bersifat subjektif belaka. Lain halnya pada Plato. Bagi dia Ide merupakan
sesuatu yang objektif. Ada Ide-ide, terlepas dari subjek yang berpikir. Ide-ide
tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Ide-ide tidak tergantung pada pemikiran;
sebaliknya, pemikiran tergantung pad aide-ide. Justru karena ada ide-ide yang
berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada
menaruh perhatian kepada Ide-ide itu.”
Dalam bahasa Bertens, ide
Platon bersifat objektif, karena kategori yang dibangunnya tentang ide yang
bukan ciptaan pikiran. Ini berbeda dengan pemahaman kita tentang ide yang
subjektif. Ide sebagai hasil ciptaan pikiran.
Guna mengenal lebih dalam
tentang ide Platon, tugas ini kemudian mencari dan menulis kembali pandangan
beberapa sarjana filsafat tentang ide Platon. Tiga sarjana yang dipilih adalah Harun
Hadiwijono, K. Bertens dan A.Setyo Wibowo. Penambahan pendapat saya tentang ide
Platon pada bagian akhir tugas ini lebih sebagai sebuah komentar atas hasil
ringkasan pendapat para sarjana di atas.
Hadiwijono (1980:40) menulis
ide Platon dengan kata “idea”. Konsep idea Platon dimata Hadiwijono, merupakan
jalan tengah, sekaligus pendamai antara konsep Herakleitos tentang semua yang
bergerak dan konsep Parmenides tentang semua yang tetap. Karenanya, Hadiwijono
membaca idea Platon sebagai yang tetap, yang tidak berubah dan yang kekal.
Penjelasan tentang idea Platon ini dilanjutkan Hadiwijono (1980:41)
dengan menulis :
Jadi ada dua
macam dunia, yaitu dunia ini, yang serba berubah dan serba jamak, dimana tiada
hal yang sempurna, dunia yang diamati dengan indera, yang bersifat indrawi, dan
dunia ide, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (dalam arti ini, bahwa yang
baik hanya satu, yang adil hanya satu, dan yang indah hanya satu saja) yang
bersifat kekal.
Ini tidak berarti, lanjut Hadiwijono, bahwa di dunia ide hanya terdapat
satu idea saja. Karenanya dilihat dari segi lain, ide juga menyangkut
kejamakan. Misalnya dalam ide bunga ada ide yang indah, ada yang baik dan
seterusnya. Ide-ide yang menggabung dalam suatu objek disebut koinonia (persekutuan).
Bertens (1999:129-131)
menghubungkan ide Platon dengan sifat filsafat Socrates yang aktif. Bagi
Platon, setiap esensi mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan
konkret. Dengan menghubungkan ide Platon dengan ide-ide dalam ilmu pasti,
Bertens menunjukkan dimana letak ide itu sendiri. Segi tiga misalnya, bukanlah
sebuah bangun yang konkret, melainkan suatu bangun ideal tentang bidang dengan
tiga sisi.
Jadi ide Platon dalam
pandangan Bertens diarahkan pada sebuah substansi kesempurnaan. Lebih tepat
jika dikatan sebagai sesuatu yang murni. Bertens (1999:131) menulis :
Memang ada suatu Ide “yang bagus” yang sebagian
diwujudkan dalam kain ini, dalam patung ini dan dalam semua hal yang disebut
bagus Dengan sengaja kami mengatakan “sebagian”, karena kain ini tidak
mewujudkan “yang bagus” secara murni. Di satu pihak kain ini masih mempunyai
banyak ciri lain lagi selain “bagus” saja (misalnya merah, mahal, buatan luar
negeri dan seterusnya)
Bertens selanjutnya mencatat
bahwa ide tidak dapat hilang meskipun sesuatu yang konkret hilang. Gambar
segitiga yang dihapus dari papan tulis tidak akan menghilangkan ide tentang
segi tiga. Karenanya antara ide dengan benda konkrit terdapat hubungan yang
erat. Ada tiga antara ide dengan benda-benda jasmani. Pertama, ide hadir dalam
benda konkret. Kedua, benda jasmani mengambil bagian dalam ide dalam bentuk
partisipasi (metexis). Misalnya satu mobil bagus adalah konkritisasi dari ide
satu, ide mobil, dan ide bagus.
Setyo Wibowo (dalam majalah
Basis,Desember 2008) menegaskan bahwa idea Platon adalah “sebuah prinsip yang
dipostulatkan supaya pikiran kita bisa mengetahui dan menata (bisa
mengidentifikasi dan meletakkan pada tempatnya) dunia yang tampak di depan
kita. Pilihan definisi di atas dilatari kuat oleh usaha Setyo Wibowo
menghindari dua istilah yang digunakan Hadiwijono dan Bertens untuk menentukan space dari ide Platon. Kedua istilah itu
adalah dunia dan tempat.
Setyo Wibowo menolak paham “tempat” bagi ide dengan menyerang
konsep dunia inteligibel (noetos topos)
yang dicetuskan Philion dari Alexandria sebagai lawan dari tempat yang visible
(heratos topos) oleh Plato. Menurutnya, konsep neoplatonico-kristiani yang
diusung Philion mengaburkan arti idea Platon. Idea Platon bukanlah sebuah dunia
atas tempat berkumpulnya semua konsep dari apa yang nyata. Ini bukan suatu
surga bagi kekalan semua yang fana. Idea Plato hanya berisi lima prinsip
panduan pemikiran. Lima
prinsip itu adalah Being (ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same
(sama) dan Difference (beda).
Bagi saya pribadi, idea Plato lebih mudah dipahami dari konteks Bertens
dan Hadiwijono tentang sebuah dunia yang adalah tempat berkumpulnya
kesempurnaan dari benda-benda fana. Tetapi seperti yang diingatkan Setyo Wibowo,
ide ini sama sekali bukan idea yang dimaksud Plato. Karena jika ada sebuah
dunia tempat berkumpul kesempurnaan dari semua yang fana maka tentu ada dunia
diatasnya lagi yang merupakan sumber darimana kesempurnaan. Dan diatas dunia
yang terakhir tentu masih ada dunia yang adalah inti dari kesempurnaan.
Memahami idea Plato pada akhirnya memang harus dilandaskan pada kelima
prinsip yang disebut Setyo Wibowo tentang Being
(ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same (sama) dan Difference (beda). Namun memahami satu
buah mobil bagus dengan menyadari ide menjadi, ide diam, ide gerak, ide sama
dan ide berbeda secara serentak pada ide satu, ide mobil dan ide bagus yang
disebut Hadiwijono sebagai proses koinonia juga bukan persoalan mudah. Idea
pada akhirnya memang bukan tempat. Idea adalah, sebagaimana diungkapkan Setyo
Wibowo, adalah prinsip, yang saya tambahkan menjadi prinsip yang objektif.
Sebuah istilah yang mungkin saya sendiri tidak paham apa maknanya.
Hahaha... menarik Om/Tante, terutama "idea" sebagai prinsip objektif yang samppean sendiri tidak paham maknanya itu :D
BalasHapus