Sabtu, 25 Februari 2012

IDE MENURUT PLATON





 

Ide dalam pandangan Platon berbeda dengan ide yang dipahami oleh sebagian besar kita di masa ini. Bertens (1999:129) melihat bahwa pemaknaan ide di dunia modern “berarti suatu gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pikiran saja”. Lebih lanjut Bertens memberikan penegasan :
Akibatnya, bagi orang modern ide merupakan sesuatu yang bersifat subjektif belaka. Lain halnya pada Plato. Bagi dia Ide merupakan sesuatu yang objektif. Ada Ide-ide, terlepas dari subjek yang berpikir. Ide-ide tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Ide-ide tidak tergantung pada pemikiran; sebaliknya, pemikiran tergantung pad aide-ide. Justru karena ada ide-ide yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepada Ide-ide itu.”

Dalam bahasa Bertens, ide Platon bersifat objektif, karena kategori yang dibangunnya tentang ide yang bukan ciptaan pikiran. Ini berbeda dengan pemahaman kita tentang ide yang subjektif. Ide sebagai hasil ciptaan pikiran.
Guna mengenal lebih dalam tentang ide Platon, tugas ini kemudian mencari dan menulis kembali pandangan beberapa sarjana filsafat tentang ide Platon. Tiga sarjana yang dipilih adalah Harun Hadiwijono, K. Bertens dan A.Setyo Wibowo. Penambahan pendapat saya tentang ide Platon pada bagian akhir tugas ini lebih sebagai sebuah komentar atas hasil ringkasan pendapat para sarjana di atas.
Hadiwijono (1980:40) menulis ide Platon dengan kata “idea”. Konsep idea Platon dimata Hadiwijono, merupakan jalan tengah, sekaligus pendamai antara konsep Herakleitos tentang semua yang bergerak dan konsep Parmenides tentang semua yang tetap. Karenanya, Hadiwijono membaca idea Platon sebagai yang tetap, yang tidak berubah dan yang kekal.
Penjelasan tentang idea Platon ini dilanjutkan Hadiwijono (1980:41) dengan menulis :
Jadi ada dua macam dunia, yaitu dunia ini, yang serba berubah dan serba jamak, dimana tiada hal yang sempurna, dunia yang diamati dengan indera, yang bersifat indrawi, dan dunia ide, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (dalam arti ini, bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu, dan yang indah hanya satu saja) yang bersifat kekal.

Ini tidak berarti, lanjut Hadiwijono, bahwa di dunia ide hanya terdapat satu idea saja. Karenanya dilihat dari segi lain, ide juga menyangkut kejamakan. Misalnya dalam ide bunga ada ide yang indah, ada yang baik dan seterusnya. Ide-ide yang menggabung dalam suatu objek disebut koinonia (persekutuan).
Bertens (1999:129-131) menghubungkan ide Platon dengan sifat filsafat Socrates yang aktif. Bagi Platon, setiap esensi mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan konkret. Dengan menghubungkan ide Platon dengan ide-ide dalam ilmu pasti, Bertens menunjukkan dimana letak ide itu sendiri. Segi tiga misalnya, bukanlah sebuah bangun yang konkret, melainkan suatu bangun ideal tentang bidang dengan tiga sisi.
Jadi ide Platon dalam pandangan Bertens diarahkan pada sebuah substansi kesempurnaan. Lebih tepat jika dikatan sebagai sesuatu yang murni. Bertens (1999:131) menulis :
Memang ada suatu Ide “yang bagus” yang sebagian diwujudkan dalam kain ini, dalam patung ini dan dalam semua hal yang disebut bagus Dengan sengaja kami mengatakan “sebagian”, karena kain ini tidak mewujudkan “yang bagus” secara murni. Di satu pihak kain ini masih mempunyai banyak ciri lain lagi selain “bagus” saja (misalnya merah, mahal, buatan luar negeri dan seterusnya)

Bertens selanjutnya mencatat bahwa ide tidak dapat hilang meskipun sesuatu yang konkret hilang. Gambar segitiga yang dihapus dari papan tulis tidak akan menghilangkan ide tentang segi tiga. Karenanya antara ide dengan benda konkrit terdapat hubungan yang erat. Ada tiga antara ide dengan benda-benda jasmani. Pertama, ide hadir dalam benda konkret. Kedua, benda jasmani mengambil bagian dalam ide dalam bentuk partisipasi (metexis). Misalnya satu mobil bagus adalah konkritisasi dari ide satu, ide mobil, dan ide bagus.
Setyo Wibowo (dalam majalah Basis,Desember 2008) menegaskan bahwa idea Platon adalah “sebuah prinsip yang dipostulatkan supaya pikiran kita bisa mengetahui dan menata (bisa mengidentifikasi dan meletakkan pada tempatnya) dunia yang tampak di depan kita. Pilihan definisi di atas dilatari kuat oleh usaha Setyo Wibowo menghindari dua istilah yang digunakan Hadiwijono dan Bertens untuk menentukan space dari ide Platon. Kedua istilah itu adalah dunia dan tempat.
Setyo Wibowo menolak  paham “tempat” bagi ide dengan menyerang konsep dunia inteligibel (noetos topos) yang dicetuskan Philion dari Alexandria sebagai lawan dari tempat yang visible (heratos topos) oleh Plato. Menurutnya, konsep neoplatonico-kristiani yang diusung Philion mengaburkan arti idea Platon. Idea Platon bukanlah sebuah dunia atas tempat berkumpulnya semua konsep dari apa yang nyata. Ini bukan suatu surga bagi kekalan semua yang fana. Idea Plato hanya berisi lima prinsip panduan pemikiran. Lima prinsip itu adalah Being (ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same (sama)  dan Difference (beda).
Bagi saya pribadi, idea Plato lebih mudah dipahami dari konteks Bertens dan Hadiwijono tentang sebuah dunia yang adalah tempat berkumpulnya kesempurnaan dari benda-benda fana. Tetapi seperti yang diingatkan Setyo Wibowo, ide ini sama sekali bukan idea yang dimaksud Plato. Karena jika ada sebuah dunia tempat berkumpul kesempurnaan dari semua yang fana maka tentu ada dunia diatasnya lagi yang merupakan sumber darimana kesempurnaan. Dan diatas dunia yang terakhir tentu masih ada dunia yang adalah inti dari kesempurnaan.
Memahami idea Plato pada akhirnya memang harus dilandaskan pada kelima prinsip yang disebut Setyo Wibowo tentang Being (ada), Rest (diam), Motion (gerak), Same (sama)  dan Difference (beda). Namun memahami satu buah mobil bagus dengan menyadari ide menjadi, ide diam, ide gerak, ide sama dan ide berbeda secara serentak pada ide satu, ide mobil dan ide bagus yang disebut Hadiwijono sebagai proses koinonia juga bukan persoalan mudah. Idea pada akhirnya memang bukan tempat. Idea adalah, sebagaimana diungkapkan Setyo Wibowo, adalah prinsip, yang saya tambahkan menjadi prinsip yang objektif. Sebuah istilah yang mungkin saya sendiri tidak paham apa maknanya.













1 komentar:

  1. Hahaha... menarik Om/Tante, terutama "idea" sebagai prinsip objektif yang samppean sendiri tidak paham maknanya itu :D

    BalasHapus